I write about values, jalan-jalan, anak-anak, fun learning and so on.

Senin, 28 Desember 2015

Mengapa dan Bagaimana Membuat Resolusi Akhir Tahun

Coffee, Break, Coffee Break, Cup, Notebook, Write Down
Pentingnya menuliskan resolusi akhir tahun
Tak terasa yah, tahun ini sudah hampir terlewati, kita akan menginjak tahun yang baru dengan harapan yang baru. Pernah terpikir ga, selama ini hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan terlewati, hal-hal apa saja yang sudah kamu capai? Kadang-kadang kita terlena dengan kemeriahan pesta old and new, kumpul-kumpul keluarga, sehingga kita lupa esensi dari pergantian tahun.

Ya, pergantian tahun adalah saat yang pas untuk kita mengevaluasi apa saja yang sudah kita lakukan selama setahun ini. Kita dapat mereview lagi hal-hal apa yang sudah kita capai dan kegagalan-kegagalan kita.

Mengapa kita perlu menuliskan resolusi akhir tahun?

Tahun yang baru adalah saat yang tepat untuk memulai lagi segala sesuatu yang selama ini belum kita capai dan untuk meningkatkan lagi pencapaian-pencapaian kita. Pastinya banyak impian dan harapan di angan kita tapi semua keinginan itu biasanya akan hanyut terlupakan karena kesibukan kita. Karena itu kita perlu menuliskannya karena dengan menuliskan tujuan-tujuan yang akan kita capai selama setahun mendatang, kita akan tahu apa yang menjadi fokus kita dan akan sangat memudahkan kita dalam mengambil keputusan.

Bagaimana membuat resolusi?

Ada metode untuk membuat resolusi atau goalsetting menurut Paul J. Meyer, yaitu S M A R T (Specific Measurable Attainable Realistic Time frame).

# Spesifik : Sasaran harus jelas
                Contoh : membaca buku -- terlalu luas
                               membaca buku parenting -- lebih spesifik.

# Measurable : Sasaran dapat diukur dengan waktu, kualitas, uang atau ukuran lain.
                      Contoh : membaca 6 buku parenting

# Attainable : Sasaran realistis dan dapat dicapai
                    Contoh : membaca buku parenting 30 halaman setiap hari

# Relevant : Sasaran harus relevan dengan kondisi kita.
              Contoh : membaca buku parenting dalam bahasa inggris, padahal belum bisa bahasa inggris.
              Ini adalah contoh sasaran yang tidak relevan.

# Time Frame :  Terdapat kerangka waktu
                       Contoh : membaca 1 buku parenting setiap bulan


Hal-hal apa sih yang perlu dibikin resolusi? Gimana yah bikinnya?
Nah, supaya lebih simple bisa gunakan 7F.
7F ini mencakup hampir semua sisi kehidupan kita, dan dari setiap F, bisa dibikin 2 tujuan :

1. FAMILY (keluarga)
    Contoh : Makan bersama setiap malam.

2. FAITH (iman)
    Contoh : Mendoakan orangtua setiap hari.

3. FITNESS (Spritiual) - pengetahuan
    Contoh : Membaca 1 buku rohani setiap bulan.

4. FITNESS (Fisik)
    Contoh : Bersepeda keliling kompleks setiap pagi selama 30 menit.

5. FIRM  (Dunia Pekerjaan)
    Contoh : menulis blog tiga kali seminggu.

6. FINANCIAL (Keuangan)
    Contoh : Menabung Rp.500rb setiap bulan.

7. FUN (Hobi)
    Contoh : Travelling ke Jogja di tahun 2016.


Begitulah resolusi 7F beserta contoh-contohnya. Pasti asik merayakan pergantian tahun sambil bersama-sama membuat resolusi ini di akhir tahun, bahkan anak-anak kecil pun bisa membuat resolusi mereka sendiri.

Nantinya, di akhir tahun depan resolusi ini akan sangat berguna untuk mengevaluasi hal-hal apakah dari resolusi ini yang sudah tercapai dan mana yang perlu ditingkatkan.

Selamat membuat resolusimu sendiri.
Read More

Minggu, 13 Desember 2015

Hotel Taman Piknik di Puncak

Libur t'lah tiba, libur t'lah tiba horay!
Saatnya berkumpul bersama keluarga besar dan teman-teman, berpesta merayakan natal dan hadirnya tahun yang baru dan satu lagi yang ga boleh ketinggalan adalah membuat resolusi yang baru untuk memasuki tahun yang akan datang.

Hmm, tapi dimana ya hotel yang pas untuk dinikmati bersama rombongan keluarga besar ataupun untuk keluarga kecil?
Nih, kali ini aku ingin memamerkan hotel favorit kami yang terletak di daerah Ciloto, Puncak. Namanya adalah Hotel Taman Piknik.

Kenapa favorit?
Karena selain hotel ini murah meriah, area outdoornya sangat indah. Suasananya tenang dan damai, tempat yang sangat cocok untuk beristirahat dan menikmati kebersamaan.
Berkali-kali kami menginap di hotel ini tapi belum pernah merasa bosan.

Bukan hanya untuk keluarga, tapi bahkan kami sering memakainya untuk acara-acara gathering yang sering kami adakan. Selain kamar-kamar hotel, di sini ada juga villa-villa dengan 3 kamar ataupun 4 kamar.

Di dalam lokasi hotel terdapat Cafe Gazebo yang menyediakan makanan yang lezat dengan harga yang bersahabat dilengkapi dengan pelayan yang ramah.

Yuk, langsung dilihat aja foto-fotonya yuk.

Ini adalah kantor dari Hotel Taman Piknik
Sejauh mata memandang hijauuuu.... sangat menyegarkan mata.
Ruang makan untuk rombongan terdapat dalam bangunan tersebut.
Luas dan hijau.

Kolam renang.


Cafe Gazebo
Cafe Gazebo, tempat yang cozy untuk sarapan

Bisa memancing dan main kano di danau ini.

Kamar Hotel Taman Piknik.

Lokasi Hotel Taman Piknik ini terletak di lembah, karena itu hawanya sangat dingin. Pastikan membawa jaket yang cukup untuk seluruh keluarga dan jangan lupa membawa bola atau sepeda supaya pulang liburan perut ga makin maju hehehe.

Happy Holiday!
Read More

Kamis, 10 Desember 2015

If Children Live with Pity, They Learn to Feel Sorry for Themselves

Anak yang Dikasihani Akan Belajar untuk Mengasihani Dirinya Sendiri


4249063283 a6844e5755
Orang yang suka mengasihani diri sendiri, akan merasa seperti terperangkap dalam pasir hisap yang terus menyedotnya dan seakan-akan dia tidak bisa menolong dirinya sendiri. Satu-satunya harapan adalah jika ada orang lain datang untuk menariknya dari pasir hisap tersebut.

Jika kita mengasihani anak kita atau mengasihani diri kita sendiri, secara tidak langsung kita mengajarkan kepada anak kita untuk mengasihani diri sendiri. Hal ini tidak menanamkan inisiatif, daya juang dan semangat dalam diri mereka. 

Tentunya kita tidak ingin anak-anak kita menjadi anak yang lemah yang mengasihani dirinya sendiri saat menghadapi tantangan kan? Kita bisa menjadi teladan yang benar dengan cara menghadapi tantangan-tantangan dalam hidup kita dengan kepala tegak. Dan kita juga harus percaya bahwa anak-anak kita bisa menghadapi tantangan dalam kehidupan mereka.

Setiap kita pernah mengalami saat-saat mengasihani diri sendiri. Kita merasa tidak dihargai, hidup tidak berjalan sesuai yang kita mau...
"Kenapa aku?" adalah pertanyaan yang paling sering terlintas.
Kalau kita tidak waspada, mengasihani diri bisa menjadi hal yang membawa kita ke dalam keputus-asaan. Dan itu akan membuat kita terjebak di dalamnya.

Anak-anak sering mengasihani dirinya sendiri, dan hal ini sering menyebabkan kita jatuh kasihan kepada mereka. "Perutku sakit," rengek Trisha (4 tahun) "Aku ga mau berangkat ke sekolah." Sambil meringis memegang perutnya. Mama bertanya-tanya dalam hatinya. Apa dia benar-benar sakit? Lebih baik dia istirahat di rumah atau sekolah? Apa dia perlu dibawa ke dokter? Apa dia hanya mencari perhatian?

Jika mamanya menduga bahwa ini hanyalah alasan untuk tidak pergi ke sekolah, dia bisa bertanya pada Trisha, "Hal terburuk apa yang akan terjadi kalau kamu berangkat ke sekolah?" "Kalau kamu bolos, apa yang kamu mau lakukan?" Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini bisa menolong Trisha mengetahui apa sebenarnya yang dia butuhkan tanpa harus mengasihi dirinya sendiri.

Hal lain yang anak-anak sering bilang adalah "Aku nggak bisa." Hal ini bisa menghambatnya untuk belajar hal-hal baru. Sering kali arti yang sebenarnya adalah "Aku nggak mau". Kalau kita membiarkan hal ini, berarti kita menyetujui bahwa anak kita tidak mampu sebelum mencoba. Meskipun sulit, kita perlu memberikan tantangan untuk anak kita, mengabaikan alasannya dan mendukung mereka melakukan hal yang baru. Di saat yang sama, kita tetap menerima perasaan mereka.

Ben frustasi dengan PR matematikanya. Ayahnya menanggapi dengan serius rasa frustasi Ben tapi tidak mengasihaninya dan memintanya untuk terus mencoba. "Ingat tahun lalu waktu kamu nggak bisa kerjain PR matematikamu? Kamu bertanya kepada ibu guru lalu kita kerjakan beberapa soal bersama, dan kamu bisa. Kali ini kamu pasti bisa juga. Ayo kita coba bersama."

Sulit untuk membedakan kapan anak-anak perlu dibantu atau tidak. Kadang-kadang anak perlu menyelesaikan sendiri secara total pekerjaannya untuk meningkatkan kepercayaan dirinya. Kadang tidak membantu mereka justru membuat mereka terluka. Hal terbaik yang bisa orangtua lakukan adalah dengan mengajak anak memulai suatu projek dan kemudian membiarkannya mengerjakan sendiri dan mendukungnya untuk menyelesaikannya dengan caranya sendiri.

Sebagai orangtua, keputusan tentang bagaimana dan kapan kita menawarkan bantuan harus selalu dievaluasi. Kebutuhan anak yang berumur tiga tahun tentunya berbeda dengan kebutuhan anak lima tahun. Orangtua harus belajar kapan saatnya kita membantu dan kapan saatnya kita hanya mendampingi. Yang terpenting, selalu ingat bahwa ada perjuangan yang harus anak kita hadapi untuk membantu proses belajarnya.

Solusi, Bukan Simpati

Jenny (10 tahun) mengeluh, "Maaa, aku satu-satunya yang ga diundang ke pesta Melita."

Mamanya segera tahu kemana arah percakapan Jenny. Dia merangkul bahu Jenny dan bertanya, "Cuma kamu satu-satunya?"

"Yaaah... ada lagi sih beberapa yang ga diundang." jawab Jenny.

"Jadi apa yang kamu mau lakuin di hari itu?" tanya Mamanya.

"Aaah, aku mau diem di rumah aja," jawab Janice dengan sedih sambil berpikir dan melihat ekspresi mamanya yang tetap gembira.

"Itu satu pilihan yang baik, lalu...? ," jawab Mamanya tanpa jatuh ke dalam jebakan mengasihani putrinya.

"Boleh aku ajak teman-teman yang tidak diundang pesta untuk menginap di rumah kita?" tanya Jenny.

"Wah, itu pasti asyik," jawab Mama, "Dan kamu juga boleh bikin brownies kesukaanmu."

Kita bisa membantu anak kita memilih hal yang baik dan menyenangkan saat mereka mengalami krisis semacam ini. Dengan mendengarkan perasaan mereka dan menyarankan solusi atau membiarkan mereka menemukan solusi sendiri, kita menjauhkan mereka dari perasaan mengasihani diri sendiri. Kepercayaan kita terhadap ketegaran di dalam diri anak kita akan membuat mereka dapat menghadapi masalahnya. Hal ini jauh lebih penting daripada sekedar 'simpati'!


Read More

Selasa, 10 November 2015

Orak Arik Ikan Peda

Orak Arik Ikan Peda
Kenapa terlintas di pikiranku untuk menuliskan resep ini? Karena sangat gampang dibuat, tahan disimpan beberapa hari dan bikin pengen nambah nasi mulu.
Beberapa waktu lalu, aku pernah ke salah satu rumah makan sunda di Bogor ada masakan yang sama, dimakan dengan nasi merah, enak banget.




Bahan :

2 ekor ikan peda
3 butir telur
2 buah cabe merah
1 papan pete diiris bagi 2 (optional)
2 siung bawang putih
5 siung bawang merah
2 buah temu kunci diparut

Cara membuat : 

1. Celupkan ikan peda ke dalam 1 butir telur, kemudian goreng. Setelah matang, suwir-suwir daging ikan peda dan pisahkan dari kepala dan durinya. Sisihkan.

2. Tumis bawang merah, bawang putih, cabe dan temu kunci sampai wangi, lalu masukan suwiran daging ikan peda dan pete. Aduk-aduk sampai wangi.

3. Masukkan telur bekas celupan ikan peda dan dua telur lainnya. Diamkan sebentar, lalu aduk-aduk telur supaya terpisah jadi bagian-bagian kecil. Terus diaduk sampai kering.

4. Angkat, sajikan dengan nasi hangat.

Cocok sekali untuk dimakan bersama sayur bening maupun sayur lodeh, atau untuk dimakan bersama nasi putih sebagai bekal. Nyam...


Read More

Senin, 02 November 2015

Hotel Keren di Uluwatu Bali

Hotel Ungasan di Uluwatu

Hai, aku lanjutin ceritaku kemaren tentang perjalananku ke Bali berdua dengan suami untuk dinas. Ya, ini dinas, bukan bulan madu, tapi tempatnya bikin kita serasa lagi bulan madu. Biarpun sepanjang hari aku cuman diam di hotel, tapi tempat ini benar-benar ga bikin aku bosan. Setiap sudut hotel ini membuat aku betah untuk duduk merenung, membaca dan menikmati me time ku.
Buat aku yang full time mom sekaligus guru buat kedua anakku yang homeschool, me time adalah waktu yang sungguh sangat berharga. Dua puluh empat jam sehari aku selalu bersama dengan anak-anak. Nah kali ini, saat suami ada dinas di Bali dan dia ajak aku... aku memutuskan untuk pergi, biarpun dengan berat hati meninggalkan anak-anak.

Setelah semalam di hotel Rofa Galeria di Legian (baca di sini), kami pindah ke hotel Ungasan (sekarang : Hotel Golden Tulip) di Uluwatu. Namanya sih ga terlalu menarik yah, ga keren gitu. Ungasan.. hmmm ga keren yah namanya kaya hotel kecil tuh. Waktu kami nyampe di hotel itu, waw... Wonderful, ini kata-kata yang cocok untuk mengungkapkan keindahan hotel tersebut. Hotel ini terletak di daerah Ungasan, bersebelahan dengan pintu gerbang Garuda Wisnu Kencana.

Penampakan Hotel Ungasan dari area parkir mobil.
Dari luar, hotel ini tidak terlihat keindahannya, hanya terlihat sebagai bangunan hotel besar. Saat kami turun dari mobil jemputan dan melangkah masuk ke lobby, suasanya yang hangat menyambut kami, terdapat taman di dalam lobby yang ditopang dengan pilar yang tinggi. Indah. Samar-samar terdengar suara gemericik air terjun dan karena saat itu bulan Juli, hawa di Bali sangat sejuk untuk ukuran daerah pantai. Ya, karena saat itu di Australia adalah musim dingin, maka angin dingin terbawa ke Bali. Bayangkan Bali dengan matahari yang terik tapi udaranya sejuk, bikin makin betah aja. Jadi pastiin kalo ke Bali di bulan-bulan ini yah, main ombak dengan hawa yang sejuk, wiiii.... Kalo uda masuk September udah panas lagi deh.

Lobby Hotel Ungasan, nyaman untuk duduk sambil ngobrol
Kamar kami ada di lantai 5 karena semua ruang meeting dan restoran ada di lantai 5 tersebut. Begitu lift terbuka di lantai 5, pemandangan begitu indah. Di depan lift terdapat jembatan beratap kaca yang menghubungkan dengan gedung lain yang berisikan kamar-kamar hotel dan restauran. Gedung, taman dan kolam buatan berbaur menjadi satu kesatuan yang sangat indah.

Pemandangan di depan lift, jembatan beratap kaca yang menghubungkan ke kamar-kamar hotel dan restaurant,
Kami diajak berkeliling untuk melihat dimana tempat seminar akan diadakan. Ternyata letaknya terpisah di gedung lain di belakang kamar-kamar hotel. Untuk menuju ke sana, kami melewati jalanan beratap kaca dengan taman di sekelilingnya. Di antara restaurant dan gedung tersebut terdapat kapel kecil berdinding kaca. Tentu akan sangat romantis kalau upacara nikah kami diadakan di sana. Yah sayang udah keduluan nikah 12 tahun lalu, baru liat kapel ini hehehe.

Gedung tempat ruangan2 meeting dan seminar.
Kapel kaca dengan pemandangan taman di sekitarnya dan lokasi GWK di salah satu sisinya.
Nah, setelah kami melihat-lihat ruangan meeting, baru deh kami masuk ke kamar kami. Aduuuh begitu masuk ke kamar, aku langsung benar-benar jatuh cinta dengan hotel ini. Kamarnya luas dengan toilet yang tembus pandang dari kamar. Di depan kamar terdapat teras dengan sofa yang kayanya bakal asik banget untuk duduk sambil baca buku dan minum orange juice. Dari teras, kami bisa langsung melangkah ke kolam renang. Oooh indahnya dunia.... eh indahnya hotel ini.

Cozy yah kamarnya
Kamar mandi tembus pandang, tapi tenang ada tirai yang bisa menutup pemandangan ini kok.


Dari teras kamar, kami dapat melihat pesawat yang naik dan mendarat di bandara Ngurah Rai. Padahal kita jauh di Uluwatu, tapi bisa melihat pemandangan itu dengan jelas. Aku ga pernah bosan menunggu pesawat yang akan mendarat, pesawat-pesawat itu terlihat seperti akan mendarat di laut, karena bandara Ngurah Rai terletak di pinggir pantai. 


Teras di depan kamar kami, dari sini tinggal ngelangkah aja untuk ke kolam renang.

Kolam renang di depan kamar kami.

Di saat suamiku sibuk mengajar, aku memanfaatkan waktuku sebaik mungkin untuk menikmati setiap sudut hotel ini. Kubaca bukuku dari satu tempat ke tempat lain. Oyah, ada satu kolam renang lagi di bawah, di samping lobby hotel. Kolamnya lebih luas daripada kolam renang di depan teras kamarku. Di sini terdapat kolam untuk dewasa dan kolam untuk anak-anak. Waktu itu ada perayaan pesta ulang tahun di pinggir kolam, hmm asik sekali, setelah selesai berpesta para tamu kecil itu langsung bersiap dan nyebur ke kolam, byuuuur.....
Secara keseluruhan, kenapa saya suka Hotel Ungasan Uluwatu ini? Pastinya karena tempatnya luar biasa indah, bersih, pelayannya ramah, makanannya enak dan harganya ok banget. Gimana aku ga jatuh cinta sama nih hotel?! Hotel ini sangat rekomended, dan pastinya aku akan balik ke hotel ini lagi kalau ke Bali.

Oyah, pantai terdekat dengan hotel Ungasan ini adalah pantai Pandawa yang indah, hanya sekitar 10 menit dengan mengendarai mobil. Yuk kita mulai planning liburan yuk...

Bisa liat laut dan pemandangan Bandara Ngurah Rai dari sini.
Enak banget nongkrong di sini sore-sore.
Kolam renang di samping lobby hotel.
Kolam anak.
Suasana restoran sebelum lunch time.
Pemandangan taman di sore hari









Read More

Senin, 12 Oktober 2015

Hotel Nyaman di Legian

Hotel cuantik dan murah di Legian, Rofa Galeria

Hai hai.... mau cerita pengalamanku di Bali waktu ikut sang suami tercinta dinas ngajar. Ngajar di Bali gitu loooh... aku ikutlaaaah.
Hari itu bertepatan dengan terbakarnya Bandara Soekarno Hatta, jadilah kami terdampar di bandara selama 5 jam. Syukurlaaah akhirnya kami bisa terbang dan tiba di pulau Bali dengan selamat.

Nah karena kami adalah tipe manusia last minute, belom ada hotel yang kami booked. Jadi sambil menunggu di bandara, kami mulai membuka-buka traveloka, cari hotel di sekitaran Kuta. Yang bagus, bersih dan yang terpenting adalah murah.

Akhirnya setelah browsing sana, browsing sini ketemulah kami dengan Hotel Rofa Galeria, di foto sih sangat menarik. Kaya hotel bintang 4 tapi harganyaaa cuma 300 rebuan semalam. Waw, ini dia nih yang kita cari. Sesuai kesepakatan, kita booked itu hotel.

Sesampai di Bandara Ngurah Rai, kami naik taksi yang kami pesan dari bandara. Kenapa taksi? karena tidak sampai 24 jam, kami akan dijemput tim panitia untuk masuk ke hotel di Uluwatu, sayang ah kalo sewa mobil. Dari Ngurah Rai ke lokasi hotel Roffa tarif taksi sekitar 80rb, setelah ditawar-tawar dikit.

Akhirnya tibalah kami di hotel... dari depan sih keliatannya biasa aja, karena ternyata lobbinya terletak agak ke dalam. Lobbynya minimalis. Kamar yang kami pesan sudah siap, tapi kami minta kamar yang menghadap ke kolam renang. Mas resepsionis yang ramah bersedia menukar kamar, dan karena proses tukar kamar itu, kami masih harus menunggu beberapa menit.

Ini penampakan lobbynya. Mungil, tapi apik.

Bagus? Oooh bagus sekali untuk seharga itu. Bener-bener mirip hotel bintang 4, tapi ini mini ukurannya.

Kami mendapat kamar yang paling atas lengkap dengan teras kecil plus view ke kolam renang. Nyamaaaan, rebahan di kasur enaaaakkkk banget setelah menunggu 5 jam terkatung-katung di bandara. Kamarnya bener-bener sekelas bintang 4 deh, cuman ini kecil aja, cukuplah kalo untuk berdua.
Hmmm.... nyaman kamarnya...

Hotel ini mirip banget ama Hotel Harris di Uluwatu

View dari kamar kami di lantai paling atas.

Malamnya aku berduaan dengan suami, jalan kaki menyusuri jalanan cari makan di daerah itu. Ada Mang Engking, dan satu komplek kecil makanan. Ada beberapa resto di komplek tersebut, tapi karena cape malam itu kami memilih untuk nyeruput sup angetnya hoka-hoka bento deh. Yang keren di dekat sana ada rental motor gede. Wih asik kali ye kalo bisa ngerasain naik motor gede, sayang hari itu rental motornya tutup.

Setelah tidur yang sangat nyenyak, kami bangun dengan perut keroncongan. Dan turunlah kami ke bawah untuk sarapan. Sarapannya di sini buffet, dengan makanan yang standart. Dan yang pasti setelah sarapan, aku masih lapar. Mungkin kapasitas perutku yang kegedean untuk hotel ini, ato entahlah... ga usah dibahas, malu-maluin ketahuan makannya buanyak.

Demikian ulasan singkatku tentang hotel di Legian ini, semoga bermanfaat untuk yang lagi cari hotel di Bali yah.















Read More

Senin, 14 September 2015

If Children Live With Fear, They Learn to be Apprehensive

Hidup Dalam Ketakutan, Anak-Anak Belajar untuk Kuatir

Hal yang menakutkan kadang-kadang menyenangkan, seperti nonton film horror, masuk ke rumah hantu, mendengarkan cerita hantu. Adrenalin naik, jantung berdebar tapi seru karena kita tahu bahwa sebenarnya kita aman. Tapi hidup dengan ketakutan yang nyata sangat menyiksa, apakah itu ancaman kekerasan fisik, kekerasan psikologis, ditinggalkan, bullying, ataupun monster di kolong ranjang. Hidup dengan ketakutan yang nyata hari demi hari meruntuhkan kepercayaan diri dan rasa aman anak.


Hal-hal yang mengerikan di malam hari
Banyak hal yang menakutkan untuk anak-anak sangat tidak masuk akal untuk orangtua mereka. Anak-anak bisa ketakutan karena mendengar langkah orang dewasa, anjing baru tetangga atau pohon tua di depan rumah. Apapun alasannya, saat anak merasa takut, perlu ditangani secara serius. Kita perlu melihat dari sisi dunia anak-anak. Kalimat-kalimat "Ah, nggak ada apa-apa kok," "Gitu aja kok takut," membuat anak merasa diremehkan dan membuat ketakutannya tetap berkembang tanpa kita tahu.

Bagaimana kita membedakan antara anak yang merasa ketakutan atau hanya mencari perhatian? Sulit. Kebanyakan orangtua terlalu kuatir dimanipulasi oleh anak. Padahal kebutuhan untuk diperhatikan sama pentingnya dengan kebutuhan untuk makan. Dan seringkali yang terjadi, anak merasakan keduanya, benar-benar takut dan butuh diperhatikan.

Sebut saja Adam, keluarganya baru saja pindah ke rumah baru, dia baru mulai masuk TK, dan adik bayinya baru saja lahir. Untuk orangtuanya, semua ini adalah suatu kebahagiaan, tapi tidak untuk Adam. Suatu malam Adam datang ke ayahnya, "Aku takut, temenin aku Yah," tangisnya.
Ayahnya bisa saja jawab, "Temenin kamu? Kenapa? Kamu sudah jadi kakak sekarang dan kamu ga perlu takut."
Tapi ayahnya mengerti. "Temenin kamu? Ok, sini ayah peluk dan kamu aman." Pengertian dan kedekatan sang ayah memberi jaminan yang Adam butuhkan untuk melalui momen sulit ini.


Ketakutan Kita Untuk Anak-Anak Kita
Anak menyerap kekuatiran orangtua tanpa kita sadari. Coba cek, seberapa sering kita mengucapkan kalimat "Aku takut...." atau "Aku kuatir kalau....". Kalau anak mendengar kalimat tersebut secara rutin, itu akan membentuk pola pikir mereka.

Sayangnya orangtua jaman sekarang punya ketakutan yang berlebihan. Kita menghadapi dilema untuk melindungi mereka dari bahaya tanpa membuat mereka jadi parno. Adalah tantangan untuk kita bagaimana memupuk kepercayaan diri mereka dan sekaligus melindungi mereka dari bahaya.

Ketakutan yang lain adalah kita tidak mau anak kita menderita seperti yang kita alami dulu di saat seusianya. Hal ini justru membuat kita bertindak kurang tepat. Ayah Carli melarang anaknya untuk ikut club basket, "Aku nggak bisa main basket waktu seumur Carli. Waktu itu aku ikut club dan selalu jadi yang terakhir, menderita sekali. Aku takut hal yang sama terjadi pada Carli."

Carli perlu diijinkan untuk mengeksplor kemampuannya sendiri tanpa beban dari memori ayahnya. Kita harus selalu ingat bahwa anak-anak berbeda dari kita, dan mereka punya hak untuk mengalami perjuangan mereka sendiri.


Ketakutan Sehari-hari
Anak-anak hidup di dunia yang berbeda dari orang dewasa dan mereka tidak selalu bisa menyampaikan apa yang mereka alami. Sangat mungkin kita tidak sadar hal apa yang menakuti mereka. Contohnya, banyak anak hidup dengan intimidasi teman di sekolah, tetangga, atau bahkan saudara kandungnya sendiri. Mungkin mereka dibully atau diancam. Anak-anak kecil mungkin tidak tahu bagaimana mengungkapkan ketakutan mereka, dan anak yang lebih besar mungkin merasa mereka harus bisa mengatasinya sendiri. Kita harus sediakan waktu kita untuk bertanya apa yang terjadi dalam hari-hari mereka.

Seorang ibu bertanya pada Andrew (5th), anaknya, "Apa yang terjadi di sekolah hari ini?" (Pertanyaan ini lebih baik daripada "Bagaimana sekolah hari ini?")
"Joe rebut truckku padahal aku duluan yang main."
"Trus?"
Andrew menundukkan kepala dan merengut, "Ngga papa. Aku ngga tau."
Di titik ini si ibu menyadari bahwa anaknya diintimidasi dan berusaha untuk menemukan jalan keluar. "Hmm km pasti kesel ya, Joe ambil truckmu. Menurut kamu, mestinya apa yang kamu lakukan?". Si ibu memberi kesempatan pada anaknya untuk memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan. Andrew menjawab, dia bisa rebut balik truknya, bilang ke guru, main dengan yang lain dan menjauh dari Joe. Bahkan ibunya tidak perlu ajarin apa yang harus dilakukan, Andrew bisa menemukan jawabannya sendiri.

Bagi kebanyakan anak kecil, menghadapi hal baru sangat menakutkan. Hari pertama sekolah, ke dokter gigi pertama kali, pertama kali naik pesawat. Kita dapat menolong anak-anak menghadapi hal ini dengan memberi dukungan. Menunjukkan kepercayaan kita terhadap anak adalah cara yang ampuh untuk mengajarkan mereka percaya terhadap dirinya sendiri.


Setiap Orang Bisa Takut
Sebagai orangtua, kita ingin kelihatan kuat untuk anak, kita ingin mereka merasa bahwa mereka bisa bersandar pada kita untuk membuat mereka merasa aman. Tapi kita juga kadang perlu punya keberanian untuk menyampaikan pada mereka bahwa kadang-kadang kita juga merasa takut. Anak-anak belajar bagaimana menghadapi ketakutan mereka saat mereka mengamati bagaimana kita mengatasi ketakutan kita. Biarkan mereka melihat bagaimana kita mencari dukungan dari pasangan, teman atau keluarga kita saat kita takut dan bagaimana kita juga menguatkan orang lain dalam ketakutan mereka. Saat kita mengakui perasaan kita dan menemukan solusinya, saat itu kita menjadi model untuk anak-anak kita saat mereka menghadapi masalah mereka.
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© Elzoria Story, AllRightsReserved.

Blogger theme by Safetricks.com Designed by ScreenWritersArena