I write about values, jalan-jalan, anak-anak, fun learning and so on.

Tampilkan postingan dengan label Fun Learning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fun Learning. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Februari 2018

Submarine Museum di Malaka

Museum Submarine dengan kapal selam sungguhan.





Malaka! 
Malaka bukan kota metropolitan seperti Jakarta atau Kuala Lumpur. Kota Malaka adalah kota pelabuhan dengan sudut-sudut kota yang masih mempertahankan bangunan-bangunannya yang klasik dan bersejarah. 

Karena kami ke sana bareng anak-anak dan keluarga yang lain, maka yang jadi tempat tujuan kami ya yang mengakomodir kebutuhan anak. Udah pernah dengarkah tentang Museum Submarine di sana? 
Museum ini menghadirkan kapal selam beneran. 
Ini serius! Kapal selam beneran, bukan pempek kapal selam ya.
Astagaaaa.... itu kapal selam ternyata guedeeeee banget, gajah aja kalah gede.

Baru kali ini liat yang namanya kapal selam beneran. Ga cuma liat dan pegang tapi bisa explore ke dalemnya, seru deh.
Ternyata biarpun dari luar super duper giant, tapi dalemnya imuuuut banget alias super sempit, karena saking banyaknya mesin-mesin dan peralatan yang terpasang di dalam.
Jadi, kalo ada yang berpikir bahwa dalem kapal selam itu kaya kapal pesiar, singkirkan jauh-jauh bayangan itu yah. Salah besar...! Di dalem kapal selam sangat ga nyaman, serba sempit, serba ngepas. Bahkan lorong yang biasa dilalui untuk orang jalan mondar mandir pun cuma pas untuk satu orang lewat. Jadi kalo sisipan mesti lakukan empat langkah berikut : ambil posisi miring, tempelin punggung ke tembok, tahan napas, dan kempesin perut. Naaaah baru deh bisa papasan sama orang lain hihihi....

Di dalam kapal selam ini ada tempat tidur, dimana orang cuma bisa rebahan, kalo sampe orang itu kaget dan langsung duduk saat dia terjaga, palanya bisa benjol. Kenapa? Karena persis di atas tempat tidur cuma ada sedikit ruang yang hanya cukup untuk miring kanan dan miring kiri saja. 

Selain tempat tidur, ada ruangan sejenis ruang meeting, ada ruang makan dan ada dapur. Semua serba sempit. Orang yang ada di dapur, cuma bisa putar ke kanan, putar ke kiri tanpa ada ruang untuk melangkah selangkah pun. Aduh... ibu-ibu, mari kita bersyukur atas dapur yang sempit di rumah kita. Nikmati apa yang ada, awak kapal selam jauh lebih sempit dapurnya.

Oke kita langsung aja ke informasi jam buka dan tiket masuknya yah.

Opening Hours 

Open 9am - 5pm (Monday - Thursday)
Open 9am - 6:30pm (Friday, Saturday, Sunday)


Ticket Prices as at 2016 (Foreigners and Malaysians with MyKad same price)
Adult RM 3
Child RM 1 (ages 7 - 12)
Child 6 Years and below: Free

Ga mahal yah biaya tiket masuknya, makanya untuk yang lagi mampir ke Melaka boleh banget tuh. Sayang sekali aku cuma bisa kasi dua foto, karena ruangan di dalamnya gelap remang, jadi waktu difoto ga jelas.

Dari kunjungan ini, kami dan anak-anak belajar bahwa ternyata untuk menjadi petugas angkatan laut sungguh tidak mudah, hidup di tempat yang sempit, tidur pun ga bisa nyaman.
Sangat dibutuhkan karakter yang kuat dan tahan banting, belum lagi dengan resiko yang harus mereka hadapi. Orang yang bertugas di dalam kapal selam adalah orang yang benar-benar terlatih dan cermat, karena sedikiiit saja kesalahan, akan membahayakan seluruh awak di dalam kapal selam tersebut.



Bagian dalam kapal selam 


Read More

Kamis, 05 Januari 2017

Homeschooling? Are you sure?

Homeschool atau Sekolah Formal?


"Kami homeschool." 
Dua kata ini mengubah duniaku. Mau tidak mau, saat kami memutuskan untuk homeschool, hidup kami dan anak-anak berbeda dengan hidup kebanyakan orang.

Di masa-masa kami bergumul memutuskan untuk homeschool atau sekolah formal, segudang pertanyaan memenuhi benakku dan kadang-kadang menjadi keraguan yang mengganggu.
Bagaimana aku yakin anak-anakku belajar semua hal yang perlu mereka tahu?
Kurikulum apa yang mau kita pakai?
Bagaimana jadwal sehari-hari?
Apa aku benar-benar mampu?
Apa yang aku mesti lakuin sekarang?

Sungguh, pertanyaan-pertanyaan itu mengusik keberanianku untuk mengambil keputusan ini. Belum lagi komentar dan pertanyaan orang sekitar yang sebenarnya aku yakin, mereka berkomentar karena kepedulian mereka, bukan karena mereka rese... bukan, bukan itu. I know it.

"Kaya anak ga normal aja, homeschool segala..."
"Ntar sosialisasinya gimana? Ntar anak lu kuper loh."
"Lebih baik sekolah formal, dia belajar dari banyak guru. Kalo di rumah kan ama elu doang..."
"Emang lu yakin, lu bisa?"
"Itu tanggung jawab besar loh, lu serius?"
"Hah? Namanya anak ya mesti sekolah lah...! Mau jadi apa anak lu kalo ga sekolah?"
Dan lain-lain, dan lain-lain yang bikin aku makin mengkerut untuk memasuki hutan belantara homeschool.

Saat itu, anak pertamaku Lio berumur dua tahun dan kami mulai mempelajari lebih dalam tentang homeschool. Kami berkenalan dengan keluarga-keluarga homeschool yang lain dan mendatangi rumah mereka untuk melihat langsung buku-buku dan ruang kelas mereka, dimana biasanya terdapat satu meja untuk si pengajar (mama) dan meja-meja kecil lain untuk anak-anaknya.
Hmmm... seru juga.... tembok-tembok penuh dengan tempelan rumus-rumus dan jadwal harian, buku-buku memenuhi rak, dan kehangatan sangat terasa dalam keluarga-keluarga tersebut.
Ya, kehangatan... karena anak-anak selalu di rumah dan mereka terbiasa berdiskusi bersama maka tercipta kedekatan antar orangtua dan anak.

Nah, hubungan kedekatan inilah yang paling menarik buat aku untuk tetep nekad berhomeschool. Dengan homeschool, banyak sekali waktu bersama dan selain belajar hal-hal akademis bersama, mereka belajar mengenal cara belajar satu sama lain (papa mamanya juga perlu belajar lagi loh), belajar menangani konflik bersama, dan belajar gimana caranya belajar bersama di satu ruang dengan anak berbeda umur dan materi pelajaran yang berbeda. Rame? Pastiiiii..... Rusuh? Hmmm yaaaa sometimes... hehehe.

Setelah mempelajari dari berbagai keluarga, masih saja aku belum mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana aku akan jalanin homeschool nantinya. Abstrak sekali di pikiranku. Kami berdoa dan menimbang-nimbang (khususnya aku, karena suami udah mantep banget pengen homeschool), dan lalu berdasarkan hasil pertimbangan dan karena liat suami udah mantep banget, wokeeee we'll do it beibeh!

Waktu Lio umur 4 tahun, aku sebenernya agak-agak deg-degan melewatkan kesempatan untuk daftarin dia ke TK. Ah, sekali lagi mantapkan hati, bulatkan tekad, singkirkan ketakutan, hadapi kenyataan,  dan kujalani hidup yang kupilih (kok jadi kaya lagu yak).

So, kita mulai beneran serius pake bahan homeschool di saat  Lio umur 4 tahun. Sambil nyambi urus Zo yang waktu itu umur 1 tahun dan masih nyusu... ooh repot, iya bener repot. Zo berada di ruang yang sama dengan kami sambil main sendiri atau duduk di pangkuanku. Kalo aku urus Zo bentaaar aja, Lio langsung ilang konsen dan bukan cuma konsennya doang yang ilang, tapi Lio nya juga ngilang karena dia masuk kolong, ngumpet sambil ketawa-tawa. Haiyaaaa....  ulang lagi dong dari awal, warming up lagi biar dia konsen lagi. Di satu tahun pertama perjuangan banget buat kita, berjuang keras untuk adaptasi. Lio pertama kalinya mesti duduk belajar dengan serius setelah tiga tahun hidupnya happy-happy setiap hari.

Di awal kami mulai, Lio cuma belajar dua subject, yaitu phonics dan math. Nah karena guru cabutannya ini ga pernah tau apa itu phonics, otomatis si guru cabutan ini kudu belajar dulu tentang phonics di saat dua muridnya udah bobo. Kadang ada masanya aku bingung di tengah-tengah aku lagi ngajar... aku diem dan baca ulang dan ulang lagi. Lio biasanya bilang "Mama bingung yaaaa?" trus dia pelan-pelan melipir turun dari kursi dan cari mainannya. Ntar waktu aku sudah ngerti, baru aku panggil lagi, "Liooo ayo kita lanjut."
"Mama sudah ngerti? Sungguh?"
Dan muridpun mengerti bahwa gurunya tidak sungguh-sungguh mengerti ahahaha....

Kadang-kadang waktu aku serius bacain sesuatu untuk Lio, dia dengerin dengan serius tapi lama-lama matanya tertutup secara bertahap. Yaaaah.... pules deh dia. Ya udahlah biarin dia bobo 30 menit, trus dibangunin dan suru cuci muka laluuuu kita mulai lagiiii. Nah karena itu aku belajar untuk menentukan jadwal yang konsisten setiap hari untuk memulai kegiatan belajar, biarpun buat aku untuk jadi konsisten itu susah sekali. Kadang pas lagi mau mulai ngajar, tukang sayur lewat dan aku keinget sisa bawang merah tinggal dikit doang. Lari dulu deh bentar kejar tukang sayur, ajak Lio dan Zo keluar sambil ajarin mereka hitung berapa jumlah bawangnya dan berapa kembaliannya. Ah ga mau rugi, tiap moment dipake untuk belajar.

Sampai hari ini Lio sudah 11 tahun dan Zo 8 tahun, kami masih menjalani homeschool dengan berbagai variasi rasa. Dengan gembira? Iya. Dengan berurai air mata? Iya juga... Dengan marah2? Kadang... Dengan berdarah-darah? Ga lah... lebay itu.

Tapi yang pasti sampai hari ini kami berempat sangat menikmati proses ini. Hal yang aku pelajari adalah bahwa untuk mengajar anak-anak yang pertama-tama perlu diubah adalah diri kita sendiri. Karena they are watching us. BEWARE!!! They are watching us. Apapun yang kita lakukan dan yang kita katakan, itu yang jadi pola untuk apa yang anak-anak lakukan juga nantinya. Dengan homeschool, anak-anak melihat kami sampai ke hal-hal detail dan mereka mengenali setiap kekuatan dan kelemahan kami, karena itu kami membiasakan diri untuk minta maaf apabila kami melakukan kesalahan baik saat kami bersalah terhadap anak-anak maupun saat mereka melihat kami bersalah terhadap orang lain. Minta maaf karena kami tidak menjadi contoh yang baik buat mereka. Dan ga jarang kami menceritakan kegagalan kami kepada anak-anak sebagai contoh supaya mereka ga mengulanginya lagi. Ini justru sangat menghangatkan hubungan kami. Mereka tahu persis bahwa kami jauuuh dari sempurna dan kami bersama-sama saling dukung untuk saling mengisi kekurangan kami.

Oyaaaah, tuh lupa kan. Ini tentang pertanyaan untuk homeschoolers yang pualiiiiing sering di seluruh dunia.

"Pergaulannya gimana? Sosialisasinya gimana?"

Di kota kami ada beberapa komunitas homeschool dan anak-anak kami tergabung di dalamnya. Tiap komunitas ada banyak macam, ada yang ketemu tiap bulan, tiap dua minggu ataupun tiap minggu. Di sana mereka bergaul dari yang kecil sampe yang besar tumplek blek jadi satu, ga dikelompok-kelompokkin sesuai umur. Anak yang besar main bareng anak yang kecil sambil jagain mereka, dan anak-anak kecil belajar untuk respek ke anak-anak yang besar. Di sini juga mereka belajar tentang keteladanan. Anak besar akan menjaga perilakunya karena mereka tahu ada adik-adik yang meneladani mereka. Toh di kehidupan nyata nantinya kita bergaul ga di kelompok-kelompokkin sesuai umur kita kan?

Eh, tapi jawaban ini masih akan menimbulkan pertanyaan yang selanjutnya, yaitu :

"Emang cukup ketemu cuma seminggu sekali?"

Tentang pertanyaan ini, tiap keluarga punya jawaban masing-masing sesuai kondisi keluarga. Kalo dalam keluargaku, dengan jadwal suami yang sangat fleksibel karena dia bukan orang kantoran, jadi aku dan anak-anak sering ikut kalau ada jadwal yang memungkinkan untuk kami ikut. Di sana anak-anak bertemu dengan om-om dan tante-tante, dan mereka jadi terbiasa untuk ngobrol dengan orang dari berbagai usia dan berbagai background. Selain itu, mereka mendapatkan teman-teman main dari les-les yang mereka ikuti.

Next question adalah : "Ntar ijazahnya gimana?"

Sejujurnya, waktu aku memulai homeschool aku sendiri masih belum tau gimana nanti masalah ijazah. Agak nekad juga waktu itu... bukan agak nekad tapi bener-bener nekad. Sambil kami jalani homeschool pelan-pelan aku belajar, ternyata anak-anak bisa ikut ujian kejar paket A, B dan C untuk kelulusan SD, SMP dan SMA. Ga terlalu susah, asal mengikuti syarat-syarat yang diminta di masa itu (kan tiap masa syaratnya bisa ganti-ganti tergantung kebijakan pemerintah yang berwenang saat itu).

Sekarang mari kita coba lihat plus dan minus dari homeschool.

Plus point of homeschool :
1. Kedekatan antara anak dan orangtua
2. Orangtua mengetahui kekuatan dalam diri anak dan bisa fokus mengembangkan kekuatan itu.
3. Fleksibilitas waktu
4. Bisa pilih bahan yang penting-penting aja yang dipelajari.
5. Lebih mengandalkan pengertian anak daripada sekedar hafalan.
6. Kalau anaknya banyak, biaya lebih murah daripada sekolah formal yang swasta.

Minus point of homeschool :
1. Anak kurang merasakan tantangan yang diperoleh dari teman-teman ataupun guru
2. Orangtua, terutama ibu kekurangan waktu untuk diri sendiri
3. Agak susah menerapkan disiplin waktu
4. Butuh mbak buat bantu-bantu kerjaan rumah selama kita ngajar
5. Anak kurang kompetitif

Silakan ditimbang-timbang plus dan minusnya, beda tipis, cuma selisih satu angka tapi bisa dilihat mana hal yang lebih prinsip menurut keluarga kita masing-masing. Yang terpenting, suami istri mesti sepakat, jangan memutuskan untuk homeschool kalo pasanganmu belum setuju untuk itu. Ngejalanin homeschool dengan kesepakatan suami istri aja ga gampang sampe pake nangis-nangis bombay, apalagi kalau tanpa ada kesepakatan antara suami dan istri.

Oke.... semoga tulisan ini berguna untuk yang lagi bingung menimbang-nimbang mau homeschool atau sekolah formal. Homeschool itu baik tapi bukan selalu yang terbaik. Ada kekuatan dan kelemahannya dibanding dengan sekolah formal, tergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga.



Read More

Senin, 28 Desember 2015

Mengapa dan Bagaimana Membuat Resolusi Akhir Tahun

Coffee, Break, Coffee Break, Cup, Notebook, Write Down
Pentingnya menuliskan resolusi akhir tahun
Tak terasa yah, tahun ini sudah hampir terlewati, kita akan menginjak tahun yang baru dengan harapan yang baru. Pernah terpikir ga, selama ini hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan terlewati, hal-hal apa saja yang sudah kamu capai? Kadang-kadang kita terlena dengan kemeriahan pesta old and new, kumpul-kumpul keluarga, sehingga kita lupa esensi dari pergantian tahun.

Ya, pergantian tahun adalah saat yang pas untuk kita mengevaluasi apa saja yang sudah kita lakukan selama setahun ini. Kita dapat mereview lagi hal-hal apa yang sudah kita capai dan kegagalan-kegagalan kita.

Mengapa kita perlu menuliskan resolusi akhir tahun?

Tahun yang baru adalah saat yang tepat untuk memulai lagi segala sesuatu yang selama ini belum kita capai dan untuk meningkatkan lagi pencapaian-pencapaian kita. Pastinya banyak impian dan harapan di angan kita tapi semua keinginan itu biasanya akan hanyut terlupakan karena kesibukan kita. Karena itu kita perlu menuliskannya karena dengan menuliskan tujuan-tujuan yang akan kita capai selama setahun mendatang, kita akan tahu apa yang menjadi fokus kita dan akan sangat memudahkan kita dalam mengambil keputusan.

Bagaimana membuat resolusi?

Ada metode untuk membuat resolusi atau goalsetting menurut Paul J. Meyer, yaitu S M A R T (Specific Measurable Attainable Realistic Time frame).

# Spesifik : Sasaran harus jelas
                Contoh : membaca buku -- terlalu luas
                               membaca buku parenting -- lebih spesifik.

# Measurable : Sasaran dapat diukur dengan waktu, kualitas, uang atau ukuran lain.
                      Contoh : membaca 6 buku parenting

# Attainable : Sasaran realistis dan dapat dicapai
                    Contoh : membaca buku parenting 30 halaman setiap hari

# Relevant : Sasaran harus relevan dengan kondisi kita.
              Contoh : membaca buku parenting dalam bahasa inggris, padahal belum bisa bahasa inggris.
              Ini adalah contoh sasaran yang tidak relevan.

# Time Frame :  Terdapat kerangka waktu
                       Contoh : membaca 1 buku parenting setiap bulan


Hal-hal apa sih yang perlu dibikin resolusi? Gimana yah bikinnya?
Nah, supaya lebih simple bisa gunakan 7F.
7F ini mencakup hampir semua sisi kehidupan kita, dan dari setiap F, bisa dibikin 2 tujuan :

1. FAMILY (keluarga)
    Contoh : Makan bersama setiap malam.

2. FAITH (iman)
    Contoh : Mendoakan orangtua setiap hari.

3. FITNESS (Spritiual) - pengetahuan
    Contoh : Membaca 1 buku rohani setiap bulan.

4. FITNESS (Fisik)
    Contoh : Bersepeda keliling kompleks setiap pagi selama 30 menit.

5. FIRM  (Dunia Pekerjaan)
    Contoh : menulis blog tiga kali seminggu.

6. FINANCIAL (Keuangan)
    Contoh : Menabung Rp.500rb setiap bulan.

7. FUN (Hobi)
    Contoh : Travelling ke Jogja di tahun 2016.


Begitulah resolusi 7F beserta contoh-contohnya. Pasti asik merayakan pergantian tahun sambil bersama-sama membuat resolusi ini di akhir tahun, bahkan anak-anak kecil pun bisa membuat resolusi mereka sendiri.

Nantinya, di akhir tahun depan resolusi ini akan sangat berguna untuk mengevaluasi hal-hal apakah dari resolusi ini yang sudah tercapai dan mana yang perlu ditingkatkan.

Selamat membuat resolusimu sendiri.
Read More

Rabu, 10 Juni 2015

Yuk, Mengenal Uang Lebih Dekat!

Uang tahun 1921 senilai 30 Gulden
Museum....
Saat terngiang kata museum di telinga, yang terlintas di benakku adalah satu tempat kuno yang agak suram dan lengang.
Saat teman-teman bersepakat membawa anak-anak kami mengunjungi Museum Bank Indonesia, aku sudah mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam satu bangunan tua yang biasanya agak membosankan.
Memasuki area parkir Museum Bank Indonesia yang terletak di bagian belakang gedung, saya melihat bangunan museum yang cukup megah. Biarpun bangunannya tua, tapi dibalut cat putih yang nampak baru.

Ok, sebelum perjalanan masuk ke dalam museum dimulai, sebagian besar dari kami ngantri dulu ke toilet. Cukup kaget juga melihat toilet museum sekelas toilet di mall. Padahal, sekali lagi aku sudah mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam toilet kuno yang luas dengan bak mandi segede gajah.
Hmmm... kok malah jadi ngomongin toilet yah hehehe. Tapi sungguh, aku ga sangka bahwa toiletnya akan semodern ini.

Masuk ke pintu utama, ada semacam meja resepsionis dengan petugas yang menahan semua makanan dan minuman yang kami bawa. Jadi, pastikan perut kenyang sebelum masuk ke museum ini yah.
Saat itu, kami masuk ke museum itu free, tapi mulai bulan Mei 2015 mereka mengenakan biaya Rp.5000/orang karena banyak anak sekitar main-main dan remaja yang memakai museum itu untuk kegiatan berpacaran ria (plis deh, pacaran di museum...).

Karena kami datang sebagai rombongan, maka begitu masuk kami langsung diajak ke studio untuk nonton film pendek tentang proses produksi uang sampai dengan proses uang beredar di bank-bank dan di masyarakat. Film yang sangat bagus menurutku, mengedukasi tapi tidak membosankan.

Guide menggigiring kami masuk ke ruangan selanjutnya, ada kapal dagang VOC yang menggambarkan proses barter sebelum ada uang sampai bagaimana uang mulai tercipta.
Dilanjutkan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah di Indonesia tentang keuangan dari jaman ke jaman. Lalu ditunjukkan ruangan dengan puluhan emas batangan gede, yang merupakan imitasi dari cadangan emas yang ada di BI.

Ini bukan kitkat raksasa yah, ini emas.
Cadangan emas di Bank Indonesia.
Ada satu ruang dengan pintu besi tebal, di dalamnya tertata rapi uang-uang Indonesia, dari uang koin sampai uang kertas di dalam lemari-lemari kaca. Dalam ruang ini tidak diperbolehkan mengambil foto dengan menggunakan blitz, karena blitz bisa merusak uang-uang kuno yang dipajang.

Uang BI tahun 1964 senilai 10 Sen


Lalu kami ke ruangan meeting yang sangat besar, di sana terdapat barang-barang kuno yang sudah berjasa bagi kegiatan operasional BI. Yang paling menarik buatku, ada jam bersejarah yang hanya ada satu di dunia. Jam bandul tersebut tertanam di dalam dinding dan merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina untuk De Javasche Bank (Bank Indonesia) pada peringatan 100 tahunnya.

Jam bandul buatan Belanda th 1928
hadiah peringatan 100th De Javasche Bank
dari Ratu Wilhelmina.

Pesawat telepon untuk kegiatan operasional Bank Indonesia


Mesin Tik Underwood Elliott Fisher produksi tahun 1950an.
Mesin tik berdesain unik ini digunakan untuk
mengetik jurnal efek-efek.


Kursi meetingnya cantik ya.

Bukan seperti bayangan saya sebelumnya ternyata museum ini sangat mewah dan setiap ruangannya sejuk berAC. Saya terpesona dengan kemewahan dan keanggunan di dalamnya. Semuanya tertata apik dan rapi. Jadi tau deh, kenapa banyak dimasukin anak-anak sekitar untuk ngadem dan bahkan untuk pacaran. Nyaman berada di dalam museum ini.

Ayo boleh dicoba untuk datang ke museum ini, untuk belajar yah bukan untuk pacaran. Hahaha...
Sangat membuka wawasan yang baru tentang uang dan bank. Yuk, ke sana rame-rame.











Read More

Minggu, 08 Maret 2015

Mengenal Si Ulat Sutera di Rumah Sutera

Satu lagi tempat yang menarik untuk membawa anak-anak mengenal keajaiban alam. Di tempat ini, mereka bisa belajar, bukan sekedar teori tapi mereka bisa melihat langsung, live!

Ya, El dan Zo mendapat kesempatan untuk pergi ke Rumah Sutera bersama teman-temannya. Sungguh merupakan pengalaman baru buat kami. Kami takjub betapa air liur dari ulat yang tidak berdaya dan menggemaskan bisa menghasilkan keindahan yang sangat berharga bagi manusia.

Rumah Sutera terletak di daerah Ciapus, Bogor. Rindang dan sejuk, itu yang aku rasakan begitu aku tiba di sana. Untuk rombongan, mereka menyediakan paket lengkap tour sutera, makan siang dan snack hanya dipatok harga Rp.60ribu per orang.
Kami mengambil paket makan siang prasmanan -sangat rekomended- karena makanan yang mereka sediakan sangat lezat dan unik. Mereka menyajikan makanan pokok ulat sutera, yaitu daun murbai. Enaaak sekali urap daun murbai,, daun murbai rebus... pantas aja ulat sutera doyan banget yah. Sayangnya biarpun sudah makan daun murbai tidak mengubah air liur manusia jadi sutera hahaha...

Kami tiba di sana pk.9.30 pagi, disambut oleh bapak pemilik Rumah Sutera, dia sendiri yang menjelaskan kepada kami tentang metamorfosa dari ulat sutera.
Dari telur menjadi ulat putih yang gendut, lembut dan menggemaskan. Di umurnya yang ke 30 hari, sang ulat berubah menjadi kokon atau kepompong.
Kokon yang didiamkan akan menjadi kupu-kupu. Tapi mereka memproses kokon itu sebelum menjadi kupu-kupu.
Pertama-tama, untuk mengeluarkan benang sutera, kokon harus direbus terlebih dahulu.
Kokon yang sudah direbus, ditarik benangnya dan dipintal menjadi gulungan benang. Warna benang berbeda tergantung dari mana ulat sutera tersebut berasal.
Gulungan-gulungan benang itu pada akhirnya dipintal menjadi kain.

Setelah dijelaskan proses metamorfosa dari ulat menjadi sutra, kita dapat melihat proses tersebut secara detail di sana.

Diawali dengan menjenguk kandang ulat sutera dimana ribuan ulat sutera sedang sibuk makan daun murbai. Kita diperbolehkan menyentuh ulat sutera setelah kita mencuci tangan menggunakan kaporit supaya steril.
Kandang dimana para ulat sutera asik makan daun murbai
Ulat sutera berubah menjadi kokon dengan cara mengeluarkan air liurnya dan membungkus dirinya dengan air liur tersebut. Yang lucu, ulat-ulat tersebut bisa masuk sendiri ke dalam kotak di bawah ini saat mereka merasa siap menjadi kokon.

Ulat sutera menjadi kokon

Dilanjutkan dengan melihat proses perebusan dan pemintalan benang sutera hingga menenun benang menjadi kain sutra.
Proses memintal kokon menjadi benang sutera

Benang sutera dipintal menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Para pengunjung dewasa maupun anak-anak bisa mencoba menenun dengan menggunakan ATBM.

Taraaa! Ini adalah benang sutera

Setelah selesai terkagum-kagum dengan semua proses pembuatan kain sutera, kami dibawa ke galeri penjualan kain sutera. Cantik sekali kain sutera yang dijual di sana, mesti menahan diri supaya masih ada ongkos untuk pulang ke Jakarta hahaha.... Selain kain, ada juga souvenir yang terbuat dari kokon asli. Naaah kalo souvenir kokon sangat cocok untuk oleh-oleh lucu, unik daaaan.... cuma goceng.

Menarik bukan? Katanya Rumah Sutera ini lebih bagus daripada yang di China loh... Nah siapa bilang di luar negeri lebih bagus daripada yang di dalam negeri. Cek deh web nya di www.rumahsuteraalam.com.



Asiiik, boleh coba menenun dengan ATBM.Kapan lagi kalo ga disini.


Menikmati keajaiban metamorfosis ulat menjadi kain sutera, mengingatkanku bahwa kalau ulat sutera yang kecil diciptakan untuk tujuan yang begitu berharga, terlebih kita manusia....







Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© Elzoria Story, AllRightsReserved.

Blogger theme by Safetricks.com Designed by ScreenWritersArena