I write about values, jalan-jalan, anak-anak, fun learning and so on.

Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Februari 2018

Submarine Museum di Malaka

Museum Submarine dengan kapal selam sungguhan.





Malaka! 
Malaka bukan kota metropolitan seperti Jakarta atau Kuala Lumpur. Kota Malaka adalah kota pelabuhan dengan sudut-sudut kota yang masih mempertahankan bangunan-bangunannya yang klasik dan bersejarah. 

Karena kami ke sana bareng anak-anak dan keluarga yang lain, maka yang jadi tempat tujuan kami ya yang mengakomodir kebutuhan anak. Udah pernah dengarkah tentang Museum Submarine di sana? 
Museum ini menghadirkan kapal selam beneran. 
Ini serius! Kapal selam beneran, bukan pempek kapal selam ya.
Astagaaaa.... itu kapal selam ternyata guedeeeee banget, gajah aja kalah gede.

Baru kali ini liat yang namanya kapal selam beneran. Ga cuma liat dan pegang tapi bisa explore ke dalemnya, seru deh.
Ternyata biarpun dari luar super duper giant, tapi dalemnya imuuuut banget alias super sempit, karena saking banyaknya mesin-mesin dan peralatan yang terpasang di dalam.
Jadi, kalo ada yang berpikir bahwa dalem kapal selam itu kaya kapal pesiar, singkirkan jauh-jauh bayangan itu yah. Salah besar...! Di dalem kapal selam sangat ga nyaman, serba sempit, serba ngepas. Bahkan lorong yang biasa dilalui untuk orang jalan mondar mandir pun cuma pas untuk satu orang lewat. Jadi kalo sisipan mesti lakukan empat langkah berikut : ambil posisi miring, tempelin punggung ke tembok, tahan napas, dan kempesin perut. Naaaah baru deh bisa papasan sama orang lain hihihi....

Di dalam kapal selam ini ada tempat tidur, dimana orang cuma bisa rebahan, kalo sampe orang itu kaget dan langsung duduk saat dia terjaga, palanya bisa benjol. Kenapa? Karena persis di atas tempat tidur cuma ada sedikit ruang yang hanya cukup untuk miring kanan dan miring kiri saja. 

Selain tempat tidur, ada ruangan sejenis ruang meeting, ada ruang makan dan ada dapur. Semua serba sempit. Orang yang ada di dapur, cuma bisa putar ke kanan, putar ke kiri tanpa ada ruang untuk melangkah selangkah pun. Aduh... ibu-ibu, mari kita bersyukur atas dapur yang sempit di rumah kita. Nikmati apa yang ada, awak kapal selam jauh lebih sempit dapurnya.

Oke kita langsung aja ke informasi jam buka dan tiket masuknya yah.

Opening Hours 

Open 9am - 5pm (Monday - Thursday)
Open 9am - 6:30pm (Friday, Saturday, Sunday)


Ticket Prices as at 2016 (Foreigners and Malaysians with MyKad same price)
Adult RM 3
Child RM 1 (ages 7 - 12)
Child 6 Years and below: Free

Ga mahal yah biaya tiket masuknya, makanya untuk yang lagi mampir ke Melaka boleh banget tuh. Sayang sekali aku cuma bisa kasi dua foto, karena ruangan di dalamnya gelap remang, jadi waktu difoto ga jelas.

Dari kunjungan ini, kami dan anak-anak belajar bahwa ternyata untuk menjadi petugas angkatan laut sungguh tidak mudah, hidup di tempat yang sempit, tidur pun ga bisa nyaman.
Sangat dibutuhkan karakter yang kuat dan tahan banting, belum lagi dengan resiko yang harus mereka hadapi. Orang yang bertugas di dalam kapal selam adalah orang yang benar-benar terlatih dan cermat, karena sedikiiit saja kesalahan, akan membahayakan seluruh awak di dalam kapal selam tersebut.



Bagian dalam kapal selam 


Read More

Kamis, 05 Januari 2017

Homeschooling? Are you sure?

Homeschool atau Sekolah Formal?


"Kami homeschool." 
Dua kata ini mengubah duniaku. Mau tidak mau, saat kami memutuskan untuk homeschool, hidup kami dan anak-anak berbeda dengan hidup kebanyakan orang.

Di masa-masa kami bergumul memutuskan untuk homeschool atau sekolah formal, segudang pertanyaan memenuhi benakku dan kadang-kadang menjadi keraguan yang mengganggu.
Bagaimana aku yakin anak-anakku belajar semua hal yang perlu mereka tahu?
Kurikulum apa yang mau kita pakai?
Bagaimana jadwal sehari-hari?
Apa aku benar-benar mampu?
Apa yang aku mesti lakuin sekarang?

Sungguh, pertanyaan-pertanyaan itu mengusik keberanianku untuk mengambil keputusan ini. Belum lagi komentar dan pertanyaan orang sekitar yang sebenarnya aku yakin, mereka berkomentar karena kepedulian mereka, bukan karena mereka rese... bukan, bukan itu. I know it.

"Kaya anak ga normal aja, homeschool segala..."
"Ntar sosialisasinya gimana? Ntar anak lu kuper loh."
"Lebih baik sekolah formal, dia belajar dari banyak guru. Kalo di rumah kan ama elu doang..."
"Emang lu yakin, lu bisa?"
"Itu tanggung jawab besar loh, lu serius?"
"Hah? Namanya anak ya mesti sekolah lah...! Mau jadi apa anak lu kalo ga sekolah?"
Dan lain-lain, dan lain-lain yang bikin aku makin mengkerut untuk memasuki hutan belantara homeschool.

Saat itu, anak pertamaku Lio berumur dua tahun dan kami mulai mempelajari lebih dalam tentang homeschool. Kami berkenalan dengan keluarga-keluarga homeschool yang lain dan mendatangi rumah mereka untuk melihat langsung buku-buku dan ruang kelas mereka, dimana biasanya terdapat satu meja untuk si pengajar (mama) dan meja-meja kecil lain untuk anak-anaknya.
Hmmm... seru juga.... tembok-tembok penuh dengan tempelan rumus-rumus dan jadwal harian, buku-buku memenuhi rak, dan kehangatan sangat terasa dalam keluarga-keluarga tersebut.
Ya, kehangatan... karena anak-anak selalu di rumah dan mereka terbiasa berdiskusi bersama maka tercipta kedekatan antar orangtua dan anak.

Nah, hubungan kedekatan inilah yang paling menarik buat aku untuk tetep nekad berhomeschool. Dengan homeschool, banyak sekali waktu bersama dan selain belajar hal-hal akademis bersama, mereka belajar mengenal cara belajar satu sama lain (papa mamanya juga perlu belajar lagi loh), belajar menangani konflik bersama, dan belajar gimana caranya belajar bersama di satu ruang dengan anak berbeda umur dan materi pelajaran yang berbeda. Rame? Pastiiiii..... Rusuh? Hmmm yaaaa sometimes... hehehe.

Setelah mempelajari dari berbagai keluarga, masih saja aku belum mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana aku akan jalanin homeschool nantinya. Abstrak sekali di pikiranku. Kami berdoa dan menimbang-nimbang (khususnya aku, karena suami udah mantep banget pengen homeschool), dan lalu berdasarkan hasil pertimbangan dan karena liat suami udah mantep banget, wokeeee we'll do it beibeh!

Waktu Lio umur 4 tahun, aku sebenernya agak-agak deg-degan melewatkan kesempatan untuk daftarin dia ke TK. Ah, sekali lagi mantapkan hati, bulatkan tekad, singkirkan ketakutan, hadapi kenyataan,  dan kujalani hidup yang kupilih (kok jadi kaya lagu yak).

So, kita mulai beneran serius pake bahan homeschool di saat  Lio umur 4 tahun. Sambil nyambi urus Zo yang waktu itu umur 1 tahun dan masih nyusu... ooh repot, iya bener repot. Zo berada di ruang yang sama dengan kami sambil main sendiri atau duduk di pangkuanku. Kalo aku urus Zo bentaaar aja, Lio langsung ilang konsen dan bukan cuma konsennya doang yang ilang, tapi Lio nya juga ngilang karena dia masuk kolong, ngumpet sambil ketawa-tawa. Haiyaaaa....  ulang lagi dong dari awal, warming up lagi biar dia konsen lagi. Di satu tahun pertama perjuangan banget buat kita, berjuang keras untuk adaptasi. Lio pertama kalinya mesti duduk belajar dengan serius setelah tiga tahun hidupnya happy-happy setiap hari.

Di awal kami mulai, Lio cuma belajar dua subject, yaitu phonics dan math. Nah karena guru cabutannya ini ga pernah tau apa itu phonics, otomatis si guru cabutan ini kudu belajar dulu tentang phonics di saat dua muridnya udah bobo. Kadang ada masanya aku bingung di tengah-tengah aku lagi ngajar... aku diem dan baca ulang dan ulang lagi. Lio biasanya bilang "Mama bingung yaaaa?" trus dia pelan-pelan melipir turun dari kursi dan cari mainannya. Ntar waktu aku sudah ngerti, baru aku panggil lagi, "Liooo ayo kita lanjut."
"Mama sudah ngerti? Sungguh?"
Dan muridpun mengerti bahwa gurunya tidak sungguh-sungguh mengerti ahahaha....

Kadang-kadang waktu aku serius bacain sesuatu untuk Lio, dia dengerin dengan serius tapi lama-lama matanya tertutup secara bertahap. Yaaaah.... pules deh dia. Ya udahlah biarin dia bobo 30 menit, trus dibangunin dan suru cuci muka laluuuu kita mulai lagiiii. Nah karena itu aku belajar untuk menentukan jadwal yang konsisten setiap hari untuk memulai kegiatan belajar, biarpun buat aku untuk jadi konsisten itu susah sekali. Kadang pas lagi mau mulai ngajar, tukang sayur lewat dan aku keinget sisa bawang merah tinggal dikit doang. Lari dulu deh bentar kejar tukang sayur, ajak Lio dan Zo keluar sambil ajarin mereka hitung berapa jumlah bawangnya dan berapa kembaliannya. Ah ga mau rugi, tiap moment dipake untuk belajar.

Sampai hari ini Lio sudah 11 tahun dan Zo 8 tahun, kami masih menjalani homeschool dengan berbagai variasi rasa. Dengan gembira? Iya. Dengan berurai air mata? Iya juga... Dengan marah2? Kadang... Dengan berdarah-darah? Ga lah... lebay itu.

Tapi yang pasti sampai hari ini kami berempat sangat menikmati proses ini. Hal yang aku pelajari adalah bahwa untuk mengajar anak-anak yang pertama-tama perlu diubah adalah diri kita sendiri. Karena they are watching us. BEWARE!!! They are watching us. Apapun yang kita lakukan dan yang kita katakan, itu yang jadi pola untuk apa yang anak-anak lakukan juga nantinya. Dengan homeschool, anak-anak melihat kami sampai ke hal-hal detail dan mereka mengenali setiap kekuatan dan kelemahan kami, karena itu kami membiasakan diri untuk minta maaf apabila kami melakukan kesalahan baik saat kami bersalah terhadap anak-anak maupun saat mereka melihat kami bersalah terhadap orang lain. Minta maaf karena kami tidak menjadi contoh yang baik buat mereka. Dan ga jarang kami menceritakan kegagalan kami kepada anak-anak sebagai contoh supaya mereka ga mengulanginya lagi. Ini justru sangat menghangatkan hubungan kami. Mereka tahu persis bahwa kami jauuuh dari sempurna dan kami bersama-sama saling dukung untuk saling mengisi kekurangan kami.

Oyaaaah, tuh lupa kan. Ini tentang pertanyaan untuk homeschoolers yang pualiiiiing sering di seluruh dunia.

"Pergaulannya gimana? Sosialisasinya gimana?"

Di kota kami ada beberapa komunitas homeschool dan anak-anak kami tergabung di dalamnya. Tiap komunitas ada banyak macam, ada yang ketemu tiap bulan, tiap dua minggu ataupun tiap minggu. Di sana mereka bergaul dari yang kecil sampe yang besar tumplek blek jadi satu, ga dikelompok-kelompokkin sesuai umur. Anak yang besar main bareng anak yang kecil sambil jagain mereka, dan anak-anak kecil belajar untuk respek ke anak-anak yang besar. Di sini juga mereka belajar tentang keteladanan. Anak besar akan menjaga perilakunya karena mereka tahu ada adik-adik yang meneladani mereka. Toh di kehidupan nyata nantinya kita bergaul ga di kelompok-kelompokkin sesuai umur kita kan?

Eh, tapi jawaban ini masih akan menimbulkan pertanyaan yang selanjutnya, yaitu :

"Emang cukup ketemu cuma seminggu sekali?"

Tentang pertanyaan ini, tiap keluarga punya jawaban masing-masing sesuai kondisi keluarga. Kalo dalam keluargaku, dengan jadwal suami yang sangat fleksibel karena dia bukan orang kantoran, jadi aku dan anak-anak sering ikut kalau ada jadwal yang memungkinkan untuk kami ikut. Di sana anak-anak bertemu dengan om-om dan tante-tante, dan mereka jadi terbiasa untuk ngobrol dengan orang dari berbagai usia dan berbagai background. Selain itu, mereka mendapatkan teman-teman main dari les-les yang mereka ikuti.

Next question adalah : "Ntar ijazahnya gimana?"

Sejujurnya, waktu aku memulai homeschool aku sendiri masih belum tau gimana nanti masalah ijazah. Agak nekad juga waktu itu... bukan agak nekad tapi bener-bener nekad. Sambil kami jalani homeschool pelan-pelan aku belajar, ternyata anak-anak bisa ikut ujian kejar paket A, B dan C untuk kelulusan SD, SMP dan SMA. Ga terlalu susah, asal mengikuti syarat-syarat yang diminta di masa itu (kan tiap masa syaratnya bisa ganti-ganti tergantung kebijakan pemerintah yang berwenang saat itu).

Sekarang mari kita coba lihat plus dan minus dari homeschool.

Plus point of homeschool :
1. Kedekatan antara anak dan orangtua
2. Orangtua mengetahui kekuatan dalam diri anak dan bisa fokus mengembangkan kekuatan itu.
3. Fleksibilitas waktu
4. Bisa pilih bahan yang penting-penting aja yang dipelajari.
5. Lebih mengandalkan pengertian anak daripada sekedar hafalan.
6. Kalau anaknya banyak, biaya lebih murah daripada sekolah formal yang swasta.

Minus point of homeschool :
1. Anak kurang merasakan tantangan yang diperoleh dari teman-teman ataupun guru
2. Orangtua, terutama ibu kekurangan waktu untuk diri sendiri
3. Agak susah menerapkan disiplin waktu
4. Butuh mbak buat bantu-bantu kerjaan rumah selama kita ngajar
5. Anak kurang kompetitif

Silakan ditimbang-timbang plus dan minusnya, beda tipis, cuma selisih satu angka tapi bisa dilihat mana hal yang lebih prinsip menurut keluarga kita masing-masing. Yang terpenting, suami istri mesti sepakat, jangan memutuskan untuk homeschool kalo pasanganmu belum setuju untuk itu. Ngejalanin homeschool dengan kesepakatan suami istri aja ga gampang sampe pake nangis-nangis bombay, apalagi kalau tanpa ada kesepakatan antara suami dan istri.

Oke.... semoga tulisan ini berguna untuk yang lagi bingung menimbang-nimbang mau homeschool atau sekolah formal. Homeschool itu baik tapi bukan selalu yang terbaik. Ada kekuatan dan kelemahannya dibanding dengan sekolah formal, tergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga.



Read More

Rabu, 28 Desember 2016

Anakku Sembuh dari Sakit Maag

Semangat moms ! Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Senyummu bikin happy anak yang sedang sakit.

Sedihnya waktu melihat anak sakit, apalagi di saat dia mengerang menahan sakitnya sambil meringkuk memegang perutnya. Ga ada yang bisa aku lakuin selain usap-usap punggungnya, pijitin kakinya dan tawarin dia minum air hangat.
Sedih, takut, kuatir, panik semua campur jadi satu dan cuma berani nangis dalam hati karena aku ga mau Zo jadi makin sedih liat mamanya nangis.

Yang paling sering rasa sakit itu datang di malam hari, saat dia mau bobo. Aku cuma bisa berteriak dalam hati minta pertolongan Tuhan... ajak Zo berdoa bareng minta kesembuhan.

Sebenernya sejak  dulu, Zo beberapa kali suka bilang mual ato kadang perutnya perih, tapi setelah dikasi makan atau digosokin minyak, perutnya pulih lagi. Aku pikir, ah ini cuma masuk angin biasa, ntar juga sembuh sendiri.

Tapi sejak April lalu, mendadak dia sakit perut sepanjang hari. Dia bilang perutnya perih di sekitar udelnya.... Sakitnya cukup mengganggu dan sampe bikin dia nangis. Berbagai cara aku lakuin, dari olesin minyak kayu putih, kasi jahe, kasi madu... masih juga ga mendingan. Oke deh, kita ke dokter anak deket rumah, karena selama ini memang kita jarang sekali ke dokter anak, jadi ga punya dokter langganan.

Dokter pertama bilang ini sakit mag, dan dikasi obat mag. Kalo obat habis dan belum sembuh diminta untuk test darah untuk periksa apakah ada helicobacter pylori di darahnya. Pulang dari dokter, aku berdoa semoga sembuh cukup dengan obat ini.
Tapi ternyata setelah lima hari, sakitnya masih tetep sama. Terpaksa deh kita bawa Zo ke lab. Sebenernya aku ga tega bayangin Zo diambil darahnya. Di perjalanan, aku jelasin ke Zo apa yang akan dia hadapi nanti. Aku ga tunjukkin ke Zo kekuatiranku supaya dia ga jadi ikut takut atau kuatir.

Tapi ternyata dia hadapi jarum suntik dengan gagah berani, dia duduk dan melototin jarum yang nangkring di lengannya dengan santai. Mungkin karena dia relax dan susternya pinter, jadi dia cuma meringis sedikit. Hasilnya... negatif pylori, yeeeayyy.
Lah, kalo pylori negatif, jadi kenapa yah?
Kita balik lagi ke dokter dan dikasi surat rujukan USG abdomen untuk liat rongga perutnya.

Kirain USG abdomen anak seharga kurang lebih sama dengan USG kandungan di RSIA, ternyata biayanya hampir 1 juta.. oooh mahalnya.
Kita ke RS Bunda untuk USG abdomen, semua diliat dari ginjal, usus buntu, hati, dll dan dari situ ketahuan ada penebalan dinding lambung. Kenapa menebal? Karena ada luka yang menyebabkan terjadinya penebalan. Cuma itu penjelasannya...

Nah, berdasar hasil USG maka si dokter kasi obat mag yang lebih keras dan... mahal - Nexium, yang mesti diminum setiap hari. Deg-degan juga sebenernya kasi obat ini ke anak seumur Zo (6th). Oyah, dokter yang lakuin USG ini baik sekali, setelah selesai proses USG Zo, dia panggil Yo untuk di USG juga, dia jelasin ke kita perbandingan bentuk lambung Zo dan Yo. Just fyi, USG nya di YPK Menteng.
Ah tapi aku pikir yang penting dia ga ngerasain sakit dulu deh... rasanya bener-bener ga tau apa yang mesti dilakuin. Liat Zo kesakitan setiap hari bikin aku susah mikir.

Dengan penuh pengharapan aku kasi obat itu ke Zo, sakitnya berkurang sedikiiiiiit sekali. Hmmm aku pikir mungkin butuh proses.
Sehari, dua hari, tiga hari.... aku coba bersabar... sampe akhirnya hari ke 9 ga ada perubahan yang berarti.. Beberapa kali aku telpon ke dokter dan dia selalu bilang, opname ajaaaa infus 7 hari dan ga usah makan apa-apa, pasti cepet sembuh.
What? Opname dan ga makan apa-apa? Hmmm..... pikir-pikir dulu deh.

Akhirnya dalam kebingungan, kita pergi ke dokter spesialis gastrohepatologi anak. Pak dokter yang satu ini kaget juga liat Zo sudah 10 hari minum nexium dan blm ada perbaikan. Dan dia bilang semua test darah dan USG yang sudah kita lakuin itu ga signifikan dan sebenernya ga diperlukan. Waduh... jadi buat apa dong semua itu?
Alasannya karena bertahun2 beliau jadi ahli gastro anak, ga pernah ada yang kena helicobacter pylori. Dan USG itu ga representatif karena cuma bisa liat dari sisi luar doang. Jadi dia minta segera dilakuin endoskopi supaya bisa liat isi lambung dan usus dua belas jari. Glek... endoskopi? Anakku mesti endoskopi? Bayanginnya aja ngeri...
"Berapa Dok?"
"7 juta."
Glek lagi... ngeri kuadrat deh...

Kita coba diskusi ke dokter, apakah ada cara lain? Bisa coba obat yang lain dulu?
Nah untung si dokter baik, dia mau kasi resep obat domperidon dan bilang "coba aja dulu obat ini 2 minggu ya, kalo sembuh ya ga usah endoskopi."
Fiuuuh....

Hari-hari pertama Zo minum domperidon, kondisinya getting better and better. Aaaah... senangnya.... aaaah.... leganya... Terima kasih dokter gastro, terima kasih Tuhan... It's work!

Tapi, di hari-hari ke 10 sampe obat abis... sakit lagi... oooh nooo.... apa lagi nih?

Nah suatu hari, aku ketemu satu ibu cantik, sahabatku yang sudah lamaaaa ga ketemu. Waktu kita asik ngobrol, Zo dateng ke aku dan bilang, perutnya sakit.
Temenku ini dari bertahun-tahun lalu aku kenal dia, dia kena mag akut.... dulu dia bisa pingsan karena sakit mag-nya.
Begitu dia tau Zo sakit mag, dia langsung keluarin 1 sachet kecil, dia bilang itu enzym. Selama ini dia udah ga pernah lagi kumat sakit mag sejak minum enzym ini.
Zo yang udah nahan sakit, langsung nurut waktu dikasi makan enzym.  Cuma dalam waktu 10 menit, Zo minta makan, laper katanya.
Loh... kaget. Tadi barusan dia sakit perut, sekarang dia minta makan dan sakitnya udah ilang.
Ternyata itu juga yang dialami si ibu cantik sahabatku itu saat dia minum enzym tersebut.
Dia dapetin enzym ini dari temannya saat dia lagi kesakitan karena maag dan langsung enakan begitu dia makan satu sachet enzym tersebut.

Besoknya saat ngerasa sakit, Zo minta enzym. "Mama, beli aja dong enzym nya. Perut Zeo jadi enak setelah makan enzym itu kemaren."

Hmm aku langsung cari informasi tentang enzym ini dan segera membelinya. Ternyata enzym yang Zo coba ini menggunakan bahan-bahan herbal, jadi ga ada efek sampingnya.
Bersyukur banget, dengan enzym dan doa yang ga putus2, Zo perlahan mulai sembuh. Frekuensi sakit perutnya makin lama makin jarang dan lama-lama hilang sama sekali.

Saat ini Zo sudah sehat, sudah ga pantang-pantang lagi makannya. Terkadang saya kasi enzym lagi untuk maintain kondisi lambungnya.

Aku tuliskan pengalaman ini, untuk share pengalaman karena aku selama berapa bulan kemaren merasakan betapa bingungnya kalo ngeliat anak sakit dan seneng sekali kalo denger atau baca pengalaman orang lain. Aku jadi merasa ga sendirian dan bisa belajar dari pengalaman moms yang lain saat anaknya ngalamin sakit mag.

Ayo moms, semangat !!!! Tetep tersenyum yah...biarpun hatimu kocar kacir ga karuan (I do really understand).
Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Bikin anak happy... Senyummu bisa bikin mereka happy dan merasa aman.
My hug for all of you....



Read More

Kamis, 31 Maret 2016

Bersahabat Dengan Anak

Persahabatan dengan anak dapat dicapai jika kita memiliki komunikasi yang baik.

Hal yang sangat dibutuhkan dalam suatu persahabatan adalah komunikasi. Begitu juga jika kita mau memulai persahabatan dengan anak kita. Setiap anak mempunyai sifat dan karakter yang berbeda karena itu jika kita memiliki lebih dari satu anak, pastinya kita juga memiliki hubungan yang berbeda dengan setiap mereka.

Anak-anak harus merasa bebas untuk mengungkapkan perasaan mereka. Komunikasi itu berbagi, bukan memaksa. Banyak orangtua memaksakan perkataannya harus diterima sebagai hukum yang berlaku di rumah, hal ini membunuh komunikasi antara orangtua dan anak. Menghormati ide anak-anak tanpa terus memberi nasihat menciptakan komunikasi yang jujur dan terbuka. Hindarkan kebiasaan mengkritik jika kita mau masuk ke dalam kehidupan anak kita. Beri prioritas untuk mendengarkan anak-anak saat mereka ingin bicara pada kita.

Pesan "Aku" dan bukan pesan "Kamu"
Sebagai orangtua sebaiknya kita belajar untuk berkomunikasi dengan pesan "aku", yaitu berbicara sehingga anak mengerti kebutuhan dan alasan permintaan orangtua. Anak-anak kemudian lebih memungkinkan dengan bertanggung jawab mengubah kelakuan mereka. Mereka perlu tahu bahwa perilaku mereka bisa mempengaruhi dan mengganggu orang lain.

Contoh pesan "aku":
"Aku (mama) tidak bisa mendengar kalau musikmu terlalu keras."
"Aku (ayah) sedih kamu berkelahi di sekolah tadi. Apa yang terjadi?"
"Aku (ibu) sangat senang kalau kamu berusaha menjaga kerapian kamarmu."

Pesan "aku" bicara kepada anak-anak dengan tetap menghormati mereka dan ini juga akan menjadikan mereka menjadi menghormati kita.

Sebaliknya, pesan "kamu" cenderung menuduh, menghakimi dan mengancam.
Komunikasi dengan pesan "kamu" tidak membuat anak berubah, sebaliknya mereka justru lebih defensif, memberontak dan marah. Dan pada akhirnya hanya mengasilkan hubungan yang rusak antara kita dan anak.

Contoh :
"Kamu jorok amat, bersihkan kamarmu."
"Jangan membantah, lakukan saja perintah ayah atau kamu tidak boleh kemana-mana selama seminggu."
"Kamu selalu cari masalah, kenapa tadi berantem di sekolah?"

Berkomunikasi dengan kasih sayang
Menunjukkan kasih kepada anak-anak secara verbal adalah penting bagi anak-anak sejak mereka kecil sampai mereka tumbuh dewasa. Kebanyakan orangtua hanya menunjukkan ekspresi kasih sayangnya saat anak-anak masih kecil. Setelah anak-anak tumbuh besar, pelukan dan ekspresi kasih melalui kata-kata semakin berkurang dan akhirnya hilang.

Banyak orangtua merasa, dengan melihat betapa banyak pengorbanan dan jerih lelahnya membuat anak-anak mengerti bahwa orangtuanya sangat mengasihi mereka. Tapi sesungguhnya tanpa pernyataan "Kami sayang kamu", anak-anak merasa bahwa kita hanya melakukan kewajiban kita sebagai orangtua.

Jadi, sering-seringlah memeluk dan mengucapkan "Kamu sungguh berharga buat ayah," "Bahagianya ibu menjadi ibumu" kepada anak yang kecil maupun yang sudah bertumbuh besar. Dan itu akan menjadikan mereka sahabat kita.


Read More

Kamis, 07 Januari 2016

Hadiah Terbesar Untuk Anak

Hadiah terbesar untuk anak yang sering terlupakan.
Anak adalah anugerah yang tak ternilai buat setiap pasangan suami istri dan bagi kebanyakan para ibu,  anak adalah harta berharga yang tak akan dapat ditukarkan dengan apapun.

Ya, anak adalah warisan yang tak ternilai, mereka seumpama anak panah yang harus ditajamkan sehingga pada waktunya akan dapat dilesatkan untuk mencapai tujuan. Karena itu, anak-anak perlu dilatih dan dididik dengan benar sehingga mereka siap di saat mereka akan dilepaskan nantinya. Tentunya setiap orang tua berharap anaknya akan dapat berguna bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang-orang di sekitarnya.

Nah, ada bagian yang sangat besar dari kita para orang tua dalam mempersiapkan anak-anak kita. Orangtua harus memiliki visi dalam mendidik anak, tanpa visi kita hanya akan melihat pertumbuhan anak sebagai suatu proses alamiah dari sebuah kehidupan keluarga. Dengan visi, kita bisa membimbing anak-anak kita untuk mengetahui apa yang menjadi jalur kehidupannya dan melihat apa jadinya anak kita 10-20 tahun mendatang.

Apa sih hal penting yang sering terlupakan oleh orangtua?

Karena rasa sayang yang melimpah-limpah kepada anak, banyak suami istri yang menjadikan anak sebagai pusat dalam keluarga. Segala sesuatu dilakukan untuk anak dan demi anak. Bukan anak-anak yang menuruti perkataan orang tua, tapi orang tua yang justru menuruti kemauan anak. Fokus orangtua adalah kebahagiaan atau keinginan sang anak. Hal ini adalah salah satu bentuk kelalaian dalam mendidik anak.

Satu hal yang perlu diingat, saat sepasang suami istri menikah, mereka adalah suatu keluarga yang lengkap. Kehadiran anak adalah sebagai anggota baru yang memperbesar keluarga, bukan pelengkap keluarga. Jadi anak adalah anggota keluarga, bukan pusat dari keluarga.

Prioritas utama dalam keluarga adalah hubungan suami istri, bukan anak. Karena sebenarnya hubungan suami istri yang kuat adalah kebutuhan dasar anak-anak yang akan memberikan rasa aman kepada jiwa mereka. Anak-anak perlu tahu bahwa ayah dan ibunya saling mengasihi, dan mengasihi dia apa adanya. Bahkan seorang bayi dapat merasa gelisah kalau hubungan ayah dan ibunya tidak harmonis.

Jika orangtua berpusat pada anak, semua tenaga, waktu dan perhatian tercurah untuk anak, maka hubungan dengan pasangan menjadi semakin renggang dan akan merusak hubungan suami istri. Selain itu, jika orangtua terus menuruti keinginan anak, hal ini akan merusak moral anak. Anak menjadi tidak siap kalau di saat dewasa nanti, keinginannya tidak terpenuhi.

Jadi untuk para orangtua, teruskanlah kebiasaan baik yang dilakukan sebelum memiliki anak dalam membangun hubungan mesra dengan pasangan, misalnya dating berdua, cium pipi pasangan terlebih dahulu sebelum mencium anak-anak, dan banyak hal lain.

Hadiah terbesar yang paling dinikmati seorang anak adalah ayah yang mengasihi ibu dan ibu yang menghormati ayah.



Read More

Kamis, 10 Desember 2015

If Children Live with Pity, They Learn to Feel Sorry for Themselves

Anak yang Dikasihani Akan Belajar untuk Mengasihani Dirinya Sendiri


4249063283 a6844e5755
Orang yang suka mengasihani diri sendiri, akan merasa seperti terperangkap dalam pasir hisap yang terus menyedotnya dan seakan-akan dia tidak bisa menolong dirinya sendiri. Satu-satunya harapan adalah jika ada orang lain datang untuk menariknya dari pasir hisap tersebut.

Jika kita mengasihani anak kita atau mengasihani diri kita sendiri, secara tidak langsung kita mengajarkan kepada anak kita untuk mengasihani diri sendiri. Hal ini tidak menanamkan inisiatif, daya juang dan semangat dalam diri mereka. 

Tentunya kita tidak ingin anak-anak kita menjadi anak yang lemah yang mengasihani dirinya sendiri saat menghadapi tantangan kan? Kita bisa menjadi teladan yang benar dengan cara menghadapi tantangan-tantangan dalam hidup kita dengan kepala tegak. Dan kita juga harus percaya bahwa anak-anak kita bisa menghadapi tantangan dalam kehidupan mereka.

Setiap kita pernah mengalami saat-saat mengasihani diri sendiri. Kita merasa tidak dihargai, hidup tidak berjalan sesuai yang kita mau...
"Kenapa aku?" adalah pertanyaan yang paling sering terlintas.
Kalau kita tidak waspada, mengasihani diri bisa menjadi hal yang membawa kita ke dalam keputus-asaan. Dan itu akan membuat kita terjebak di dalamnya.

Anak-anak sering mengasihani dirinya sendiri, dan hal ini sering menyebabkan kita jatuh kasihan kepada mereka. "Perutku sakit," rengek Trisha (4 tahun) "Aku ga mau berangkat ke sekolah." Sambil meringis memegang perutnya. Mama bertanya-tanya dalam hatinya. Apa dia benar-benar sakit? Lebih baik dia istirahat di rumah atau sekolah? Apa dia perlu dibawa ke dokter? Apa dia hanya mencari perhatian?

Jika mamanya menduga bahwa ini hanyalah alasan untuk tidak pergi ke sekolah, dia bisa bertanya pada Trisha, "Hal terburuk apa yang akan terjadi kalau kamu berangkat ke sekolah?" "Kalau kamu bolos, apa yang kamu mau lakukan?" Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini bisa menolong Trisha mengetahui apa sebenarnya yang dia butuhkan tanpa harus mengasihi dirinya sendiri.

Hal lain yang anak-anak sering bilang adalah "Aku nggak bisa." Hal ini bisa menghambatnya untuk belajar hal-hal baru. Sering kali arti yang sebenarnya adalah "Aku nggak mau". Kalau kita membiarkan hal ini, berarti kita menyetujui bahwa anak kita tidak mampu sebelum mencoba. Meskipun sulit, kita perlu memberikan tantangan untuk anak kita, mengabaikan alasannya dan mendukung mereka melakukan hal yang baru. Di saat yang sama, kita tetap menerima perasaan mereka.

Ben frustasi dengan PR matematikanya. Ayahnya menanggapi dengan serius rasa frustasi Ben tapi tidak mengasihaninya dan memintanya untuk terus mencoba. "Ingat tahun lalu waktu kamu nggak bisa kerjain PR matematikamu? Kamu bertanya kepada ibu guru lalu kita kerjakan beberapa soal bersama, dan kamu bisa. Kali ini kamu pasti bisa juga. Ayo kita coba bersama."

Sulit untuk membedakan kapan anak-anak perlu dibantu atau tidak. Kadang-kadang anak perlu menyelesaikan sendiri secara total pekerjaannya untuk meningkatkan kepercayaan dirinya. Kadang tidak membantu mereka justru membuat mereka terluka. Hal terbaik yang bisa orangtua lakukan adalah dengan mengajak anak memulai suatu projek dan kemudian membiarkannya mengerjakan sendiri dan mendukungnya untuk menyelesaikannya dengan caranya sendiri.

Sebagai orangtua, keputusan tentang bagaimana dan kapan kita menawarkan bantuan harus selalu dievaluasi. Kebutuhan anak yang berumur tiga tahun tentunya berbeda dengan kebutuhan anak lima tahun. Orangtua harus belajar kapan saatnya kita membantu dan kapan saatnya kita hanya mendampingi. Yang terpenting, selalu ingat bahwa ada perjuangan yang harus anak kita hadapi untuk membantu proses belajarnya.

Solusi, Bukan Simpati

Jenny (10 tahun) mengeluh, "Maaa, aku satu-satunya yang ga diundang ke pesta Melita."

Mamanya segera tahu kemana arah percakapan Jenny. Dia merangkul bahu Jenny dan bertanya, "Cuma kamu satu-satunya?"

"Yaaah... ada lagi sih beberapa yang ga diundang." jawab Jenny.

"Jadi apa yang kamu mau lakuin di hari itu?" tanya Mamanya.

"Aaah, aku mau diem di rumah aja," jawab Janice dengan sedih sambil berpikir dan melihat ekspresi mamanya yang tetap gembira.

"Itu satu pilihan yang baik, lalu...? ," jawab Mamanya tanpa jatuh ke dalam jebakan mengasihani putrinya.

"Boleh aku ajak teman-teman yang tidak diundang pesta untuk menginap di rumah kita?" tanya Jenny.

"Wah, itu pasti asyik," jawab Mama, "Dan kamu juga boleh bikin brownies kesukaanmu."

Kita bisa membantu anak kita memilih hal yang baik dan menyenangkan saat mereka mengalami krisis semacam ini. Dengan mendengarkan perasaan mereka dan menyarankan solusi atau membiarkan mereka menemukan solusi sendiri, kita menjauhkan mereka dari perasaan mengasihani diri sendiri. Kepercayaan kita terhadap ketegaran di dalam diri anak kita akan membuat mereka dapat menghadapi masalahnya. Hal ini jauh lebih penting daripada sekedar 'simpati'!


Read More

Senin, 14 September 2015

If Children Live With Fear, They Learn to be Apprehensive

Hidup Dalam Ketakutan, Anak-Anak Belajar untuk Kuatir

Hal yang menakutkan kadang-kadang menyenangkan, seperti nonton film horror, masuk ke rumah hantu, mendengarkan cerita hantu. Adrenalin naik, jantung berdebar tapi seru karena kita tahu bahwa sebenarnya kita aman. Tapi hidup dengan ketakutan yang nyata sangat menyiksa, apakah itu ancaman kekerasan fisik, kekerasan psikologis, ditinggalkan, bullying, ataupun monster di kolong ranjang. Hidup dengan ketakutan yang nyata hari demi hari meruntuhkan kepercayaan diri dan rasa aman anak.


Hal-hal yang mengerikan di malam hari
Banyak hal yang menakutkan untuk anak-anak sangat tidak masuk akal untuk orangtua mereka. Anak-anak bisa ketakutan karena mendengar langkah orang dewasa, anjing baru tetangga atau pohon tua di depan rumah. Apapun alasannya, saat anak merasa takut, perlu ditangani secara serius. Kita perlu melihat dari sisi dunia anak-anak. Kalimat-kalimat "Ah, nggak ada apa-apa kok," "Gitu aja kok takut," membuat anak merasa diremehkan dan membuat ketakutannya tetap berkembang tanpa kita tahu.

Bagaimana kita membedakan antara anak yang merasa ketakutan atau hanya mencari perhatian? Sulit. Kebanyakan orangtua terlalu kuatir dimanipulasi oleh anak. Padahal kebutuhan untuk diperhatikan sama pentingnya dengan kebutuhan untuk makan. Dan seringkali yang terjadi, anak merasakan keduanya, benar-benar takut dan butuh diperhatikan.

Sebut saja Adam, keluarganya baru saja pindah ke rumah baru, dia baru mulai masuk TK, dan adik bayinya baru saja lahir. Untuk orangtuanya, semua ini adalah suatu kebahagiaan, tapi tidak untuk Adam. Suatu malam Adam datang ke ayahnya, "Aku takut, temenin aku Yah," tangisnya.
Ayahnya bisa saja jawab, "Temenin kamu? Kenapa? Kamu sudah jadi kakak sekarang dan kamu ga perlu takut."
Tapi ayahnya mengerti. "Temenin kamu? Ok, sini ayah peluk dan kamu aman." Pengertian dan kedekatan sang ayah memberi jaminan yang Adam butuhkan untuk melalui momen sulit ini.


Ketakutan Kita Untuk Anak-Anak Kita
Anak menyerap kekuatiran orangtua tanpa kita sadari. Coba cek, seberapa sering kita mengucapkan kalimat "Aku takut...." atau "Aku kuatir kalau....". Kalau anak mendengar kalimat tersebut secara rutin, itu akan membentuk pola pikir mereka.

Sayangnya orangtua jaman sekarang punya ketakutan yang berlebihan. Kita menghadapi dilema untuk melindungi mereka dari bahaya tanpa membuat mereka jadi parno. Adalah tantangan untuk kita bagaimana memupuk kepercayaan diri mereka dan sekaligus melindungi mereka dari bahaya.

Ketakutan yang lain adalah kita tidak mau anak kita menderita seperti yang kita alami dulu di saat seusianya. Hal ini justru membuat kita bertindak kurang tepat. Ayah Carli melarang anaknya untuk ikut club basket, "Aku nggak bisa main basket waktu seumur Carli. Waktu itu aku ikut club dan selalu jadi yang terakhir, menderita sekali. Aku takut hal yang sama terjadi pada Carli."

Carli perlu diijinkan untuk mengeksplor kemampuannya sendiri tanpa beban dari memori ayahnya. Kita harus selalu ingat bahwa anak-anak berbeda dari kita, dan mereka punya hak untuk mengalami perjuangan mereka sendiri.


Ketakutan Sehari-hari
Anak-anak hidup di dunia yang berbeda dari orang dewasa dan mereka tidak selalu bisa menyampaikan apa yang mereka alami. Sangat mungkin kita tidak sadar hal apa yang menakuti mereka. Contohnya, banyak anak hidup dengan intimidasi teman di sekolah, tetangga, atau bahkan saudara kandungnya sendiri. Mungkin mereka dibully atau diancam. Anak-anak kecil mungkin tidak tahu bagaimana mengungkapkan ketakutan mereka, dan anak yang lebih besar mungkin merasa mereka harus bisa mengatasinya sendiri. Kita harus sediakan waktu kita untuk bertanya apa yang terjadi dalam hari-hari mereka.

Seorang ibu bertanya pada Andrew (5th), anaknya, "Apa yang terjadi di sekolah hari ini?" (Pertanyaan ini lebih baik daripada "Bagaimana sekolah hari ini?")
"Joe rebut truckku padahal aku duluan yang main."
"Trus?"
Andrew menundukkan kepala dan merengut, "Ngga papa. Aku ngga tau."
Di titik ini si ibu menyadari bahwa anaknya diintimidasi dan berusaha untuk menemukan jalan keluar. "Hmm km pasti kesel ya, Joe ambil truckmu. Menurut kamu, mestinya apa yang kamu lakukan?". Si ibu memberi kesempatan pada anaknya untuk memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan. Andrew menjawab, dia bisa rebut balik truknya, bilang ke guru, main dengan yang lain dan menjauh dari Joe. Bahkan ibunya tidak perlu ajarin apa yang harus dilakukan, Andrew bisa menemukan jawabannya sendiri.

Bagi kebanyakan anak kecil, menghadapi hal baru sangat menakutkan. Hari pertama sekolah, ke dokter gigi pertama kali, pertama kali naik pesawat. Kita dapat menolong anak-anak menghadapi hal ini dengan memberi dukungan. Menunjukkan kepercayaan kita terhadap anak adalah cara yang ampuh untuk mengajarkan mereka percaya terhadap dirinya sendiri.


Setiap Orang Bisa Takut
Sebagai orangtua, kita ingin kelihatan kuat untuk anak, kita ingin mereka merasa bahwa mereka bisa bersandar pada kita untuk membuat mereka merasa aman. Tapi kita juga kadang perlu punya keberanian untuk menyampaikan pada mereka bahwa kadang-kadang kita juga merasa takut. Anak-anak belajar bagaimana menghadapi ketakutan mereka saat mereka mengamati bagaimana kita mengatasi ketakutan kita. Biarkan mereka melihat bagaimana kita mencari dukungan dari pasangan, teman atau keluarga kita saat kita takut dan bagaimana kita juga menguatkan orang lain dalam ketakutan mereka. Saat kita mengakui perasaan kita dan menemukan solusinya, saat itu kita menjadi model untuk anak-anak kita saat mereka menghadapi masalah mereka.
Read More

Kamis, 09 Juli 2015

Kala Harus ke Luar Kota Tanpa Anak

Berlibur tanpa anak tetap bisa happy.
Mendapat kesempatan untuk menemani suami tugas ke Bali bikin aku happy sekaligus bingung, Happy karena memang aku cinta Bali, bingung karena untuk kali ini ga memungkinkan untuk ajak anak-anak. Rasanya hati terbagi dua, antara ikut suami dan tinggalin anak-anak di rumah bareng opa dan mbak, atau tetep di rumah bareng anak-anak. Ah dilema...

Rasanya ada yang kurang, pergi ke Bali tanpa anak-anak. Tapi kalo suami sudah ajak dan dia yakin anak-anak akan baik-baik saja di rumah... masa aku tetep ngotot mau temenin anak-anak di rumah?

Apalagi waktunya sangat mepet, cuma 2 hari sebelum keberangkatan baru suami memutuskan untuk mengajakku. Wah, waktu yang sangat singkat untuk persiapan hati, persiapan rumah, persiapan jadwal anak-anak, persiapan makanan anak-anak, packing... banyak sekali yang harus dipersiapkan.

Perasaanku campur aduk, antara perasaan pengen ikut dan rasa bersalah kalau aku harus meninggalkan anak-anak hanya untuk menemani suami. Aku ga punya kepentingan apapun di Bali selain menemani suami. Apakah aku egois?

Dalam kondisi ragu, iseng-iseng aku nanya ke Lio dan Zo untuk tau respon mereka, gimana kalo mama ikut ke Bali bareng papa? Mereka jawab dengan mantap, "OK mama, no problem. Berapa hari?"
"Lima hari" jawabku. "Ok," kata mereka.
Hah? Ga salah ya aku denger jawaban mereka? Jauh dari yang aku pikirkan, kupikir mereka bakal merengek untuk ikut, atau memintaku untuk tetap tinggal di rumah bareng mereka. Apalagi selama ini Zo sangat-sangat nempel kaya perangko.

Hmm dengan jawaban anak-anak yang mantap, ternyata masih belum cukup untuk memantapkan hatiku untuk ikut. Bimbang, masih berat rasanya berpisah dari anak-anak. Satu persatu kekuatiran mulai bermunculan dalam pikiranku, takut mereka berantem, takut mereka sedih, takut mereka jatuh, takut mereka kesetrum, siapa yang selimutin mereka saat mereka kedinginan tengah malam, dst, dst. Hahaha... parno yah.

Malam itu aku susah tidur karena dilema ini, paginya aku menelpon mamiku. Aku butuh masukan beliau. Ini jawabnya, "Kalo suami ajak, kamu ikut. Gimanapun suamimu lebih penting daripada anak-anak. Tiap hari kamu bisa ketemu anak-anak, tapi kesempatan liburan berdua dengan suami itu jarang sekali."
Ok, jawaban itu benar dan masuk akal menurutku. Dan membuatku lebih mantap memutuskan untuk ikut.

Setelah keputusanku untuk ikut, hari itu menjadi hari yang sangat sibuk. Waktuku hanya sehari untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Masih ditambah dengan berbagai jadwal meeting di hari itu.
Hari itu aku belanja ke supermarket untuk beli snack yang dibutuhkan, beli sarapan-sarapan praktis seperti cereal. Ke Gramedia untuk beli Activity Book untuk Zo kerjakan di rumah supaya ga kurang kerjaan. Membuat jadwal homeschool harian anak-anak selama aku ga ada di rumah. Ya, jadwal sangat penting buat kami karena Lio dan Zo 24 jam berada di rumah, mereka tidak pergi ke sekolah.

Untuk mengantisipasi rasa sendiri mereka, snack-snack yang kubeli, aku bungkus jadi 5 bungkusan. Setiap hari mereka boleh buka 1 bungkus. Dan hanya boleh dibuka setelah mereka selesai belajar dan mengerjakan workbook yang saya tugaskan. Bungkusan-bungkusan ini membuat mereka happy karena ada sesuatu yang mereka tunggu-tunggu setiap hari.

Di hari-hari biasanya, mereka bisa nonton film dan main games hanya saat weekend. Tapi untuk saat aku pergi, aku ijinin mereka selang seling sehari main games, sehari nonton film. Main games 30menit/hari dengan syarat tanpa buka internet.

Untuk antisipasi pertengkaran antara mereka, aku bilang berulang-ulang ke El dan Zo bahwa mereka adalah satu tim, jadi kalian harus saling dukung satu sama lain. Pikirkan kepentingan orang lain lebih daripada kepentinganmu sendiri. Aku minta El untuk jaga Zo, dan aku minta Zo untuk hormati El, karena El yang akan jaga dia.

Akhirnya hari keberangkatan tiba, aku berangkat dari rumah pukul 6 pagi. El dan Zo sudah pesan dari malam sebelumnya untuk bangunin mereka sebelum aku berangkat. Pagi itu mereka antar kami sampai ke pintu gerbang dengan ciuman dan tanpa tangisan. Malah mereka excited dengan kado dan ijin nonton dan games setiap hari.

Hahaha, aku pergi dengan tenang karena aku tau mereka happy.
Yeeeaaay Baliiii, here I come....!
Read More

Kamis, 14 Mei 2015

Anakku Strongwill?

Pernahkah ngerasa gregetan dan kesel karena tingkah laku si kecil yang makin dilarang malah makin ngotot? Maunya lakuin segala sesuatu dengan caranya sendiri?

Jangan  panik, bisa jadi anak kita adalah anak strongwill.

Strongwill berbeda dengan ketidaktaatan. Anak yang tidak taat harus dikoreksi atau didisiplin, tapi anak strongwill, mungkin orangtua yang perlu mengubah cara pendekatannya.
Anak strongwill tidak suka didikte secara detail saat melakukan sesuatu, dia punya caranya sendiri. Kreatif kan?

Coba cek 18 ciri di bawah ini, apakah anak strongwill (atau mungkin pasangan, bahkan diri kita sendiri adalah strongwill?)

1.  Mengabaikan kata 'tidak', 'jangan', 'tidak bisa'.
2.  Berargumen terus hanya untuk tahu kapan papa mamanya menyerah.
3.  Cepat dalam berjalan, bertindak dan makan.
4.  Tidak takut mencoba hal baru.
5.  Cari masalah saat merasa bosan atau lelah.
6.  Kreatifitas tinggi (selalu menemukan cara untuk mencapai tujuannya).
7.  Suka membuat aturan sendiri.
8.  Mengubah masalah kecil menjadi kontroversial.
9.  Bertindak bukan karena keharusan tapi karena kemauan.
10. Menolak untuk taat mentah-mentah, selalu bertanya 'kenapa?'
11. Bisa menganggap permintaan kecil sebagai ultimatum yang menyerang.
12. Sulit untuk minta maaf tapi selalu berusaha untuk memperbaiki.
13. Tidak sabar terhadap istilah lambat. Maunya segera.
14. Suka mengatur orang lain.
15. Mau mendapat yang terbaik.
16. Berjuang melakukan dengan caranya sendiri.
17. Menolak melakukan apa yang dia tidak mau.
18. Peka dan detail terhadap lingkungan.

Jika lebih dari 9 ciri di atas terdapat pada anak kita, berarti dia termasuk strongwill child.
Semakin banyak poin yang di dapat berarti semakin strongwill anak kita.

Anak strongwill perlu diberi ruang untuk pegang kontrol atas setiap perintah. Memegang kontrol adalah salah satu kebutuhannya. Misalnya, kita ingin memerintahkan dia untuk makan, dia tetap perlu diberi pilihan sebagai bentuk kontrol yang menjadi bagian si anak.

Contoh : "Kakak, makan sekarang ya. Mau pake piring warna kuning atau warna merah?"
Nah dia merasa dia punya bagian untuk mengatur sehingga hal ini memperkecil kemungkinan konflik. Toh hasil akhirnya sesuai dengan yang kita mau : makan sekarang.

Kelemahan anak strongwill :

1. Susah diatur
2. Keras kepala
3. Sarkastik
4. Kurang timbang rasa
5. Meremehkan orang
6. Suka mengatur orang lain.


Kekuatan anak strongwill :
1. Teguh pada pendirian
2. Mandiri
3. Percaya diri
4. Kreatif untuk dapat mencapai tujuannya
5. Semangat tinggi dan tegar
6. Berjiwa pemimpin dan cerdas
7. Bisa berubah jika dia yakin hal itu benar
8. Berkomitmen tinggi dan bertanggung jawab

Prinsip orangtua dalam menghadapi anak strongwill :
- Mengenali kecenderungannya
- Bekerjasamalah dengannya dan hindari konfrontasi
- Pemberontakan, perlawanan dan ketidaktaatan tidak boleh dibiarkan
- Tetap mengajarkan untuk minta maaf

Read More

Rabu, 18 Maret 2015

If Children Live With Hostility, They Learn to Fight

Dari permusuhan, anak belajar untuk bertengkar.
-Dari Permusuhan, Anak-Anak Belajar Untuk Bertengkar-

Hari-hari ini, anak-anak tidak terlindung dari tontonan kekerasan dan perkelahian di TV dan film. Permusuhan dapat terjadi di mana saja, bahkan di rumah. Beberapa anak tumbuh menjadi tegar, selalu siap menghadapi masalah dan bahkan mencoba mencari masalah. Sementara anak lain menjadi penakut sehingga mereka menghindari konflik.

Permusuhan di dalam keluarga mengajarkan anak-anak bahwa bertengkar adalah solusi. Anak-anak tumbuh dan berpikir bahwa hidup adalah peperangan, bahwa mereka tidak akan diperlakukan adil tanpa pertengkaran atau  bahwa mereka harus bertengkar untuk dapat bertahan. Tentunya bukan ini yang kita inginkan dari anak-anak kita. Bagaimana kita mengatasi perbedaan mengajarkan kepada anak kita bagaimana menghadapi konflik.

Sebut saja Fran (4th) mengalami hari yang berat di sekolah. Dia tidak mendapat giliran menggunakan komputer dan ayahnya telat menjemputnya di sekolah sehingga dia harus sendirian menunggu di halaman sekolah. Saat mereka tiba di rumah, bunda tergesa-gesa menyiapkan makan siang. Semuanya lapar. Saat dia mengambil tasnya, tanpa sengaja dia menjatuhkan kotak makanannya sehingga semua isinya berantakan ke lantai.

Mudah untuk ditebak apa yang terjadi setelah itu. Bagaimana kita berespon tergantung pada kemampuan kita untuk mengatasi perasaan tidak sabar, tidak puas dan perasaan jengkel. Untungnya, sang bunda mampu mengatasi kejengkelannya.

Dia berikan sapu kepada Fran, "Tidak apa-apa, Sayang. Ayo bersihkan." Setelah beres menyiapkan meja makan, dia berlutut dan berkata pada Fran, "Kamu hampir bersihkan semuanya, sini biar Bunda bantu sisanya." Wajah Fran dipenuhi dengan senyum terimakasih.

Namun yang sering terjadi adalah sebaliknya. Setelah menjatuhkan kotak makanannya, Fran frustasi dan berteriak, "Aku benci kotak makanan ini! Aku benci sekolah!" Bunda berteriak, "Berantakan semua! Kamu kenapa sih nggak hati-hati?!" Atau bisa juga menyalahkan ayah, "Kenapa kamu nggak awasin Fran?! Kamu nggak liat aku sibuk?"

Anak belajar bagaimana mengatasi konflik dengan cara mengamati bagaimana cara kita mengatasi konflik. Anak-anak mempunyai hak untuk mengekspresikan kemarahannya. Tapi bukan berarti mereka punya hak untuk berbuat destruktif. Kita tetap harus menghormati dan menerima perasaan frustasi anak kita dengan batasan yang kita berikan.

Orangtua bisa mengijinkan anak untuk menyatakan perasaan mereka dengan menanyakannya. "Ya, mama tahu, kamu marah karena adik merusakkan mainanmu. Apa yang bisa membuat kamu merasa lebih baik?" Ini dapat membantu anak mengenali perasaannya dan menemukan cara bagaimana mengatasinya.

Bagaimana cara kita mengatasi perasaan tidak sabar dan kemarahan, jauh lebih powerful daripada kita mengajarkan mereka bagaimana caranya mengatasi kemarahan mereka. Tapi bukan berarti kita berpura-pura tidak marah, kita perlu jujur karena anak dapat merasakannya.

Di hari Sabtu pagi yang cerah, ibu dari Sam (9th)  sibuk merapikan rumahnya setelah seminggu penuh bekerja di luar rumah. Melihat ibunya melempar bantal sofa sekuat tenaga, Sam bertanya, "Ibu marah ya?"
Ibunya menarik nafas dan berkata, "Nggak Sayang, Nggak ada apa-apa kok."

Lalu Sam keluar untuk bermain, merasa bingung dan tidak tenang tapi tidak yakin dengan apa yang dia rasakan. Sebenarnya ibunya bisa dengan jujur mengatakan, "Ya, Ibu kesal. Ibu berharap kamu nggak membiarkan mainanmu berserakan di ruang tamu. Banyak hal yang harus Ibu kerjakan untuk berberes selain membereskan mainanmu. Bisakah kamu membereskan mainanmu sekarang?" Nah, dengan ini Sam tahu bahwa perkiraan dia tepat, bahwa ibu marah.

Anak-anak juga perlu belajar bahwa orangtuanya bisa saja tidak sependapat dan setelah itu tetap dapat mengatasi perbedaan di antara mereka. Carli (7th) bangun tengah malam dan mendengar orangtuanya marah satu sama lain. Dia takut dan masuk lagi ke kamarnya dan akhirnya jatuh tertidur kembali. Paginya, sadar bahwa Carli mendengar pertengkaran mereka, ayah menjelaskan, "Ibu dan ayah mendiskusikan sesuatu dan kami beda pendapat. Sori, karena kamu jadi terbangun."

Penting buat Carli tahu bahwa orangtuanya memang berdebat tapi semuanya baik-baik saja. Ayah bisa saja menjelaskan, "Ibu dan Ayah beda pendapat tapi kami sudah menemukan jalan tengah." Ini membuat Carli mengerti bahwa setiap orang bisa marah dan bertengkar sesekali, tapi bukan berarti mereka tidak saling mengasihi.

Dengan bersikap jujur terhadap anak tentang kesulitan yang dalam mencapai kesepakatan, kita dapat menggunakan hal tersebut menjadi kesempatan untuk mengajarkan nilai yang berharga tentang perlunya menerima perbedaan.

Kita tidak harus menjadi contoh yang sempurna bagi anak-anak kita. Ada saat dimana kita lepas kontrol. Kalau kita dapat mengakui dan memperbaiki kesalahan kita dan meminta maaf atas sikap kita, anak kita akan belajar hal penting - bahwa ayah dan ibu juga terus menerus berusaha untuk mengatasi kemarahan mereka. Hal ini menunjukkan pada anak bahwa kemarahan bukanlah musuh, tapi kemarahan adalah energi yang dapat dikendalikan secara kreatif. Apa yang kita lakukan dengan energi tersebut adalah penting untuk diri kita dan untuk keluarga kita.
Read More

Minggu, 08 Maret 2015

Mengenal Si Ulat Sutera di Rumah Sutera

Satu lagi tempat yang menarik untuk membawa anak-anak mengenal keajaiban alam. Di tempat ini, mereka bisa belajar, bukan sekedar teori tapi mereka bisa melihat langsung, live!

Ya, El dan Zo mendapat kesempatan untuk pergi ke Rumah Sutera bersama teman-temannya. Sungguh merupakan pengalaman baru buat kami. Kami takjub betapa air liur dari ulat yang tidak berdaya dan menggemaskan bisa menghasilkan keindahan yang sangat berharga bagi manusia.

Rumah Sutera terletak di daerah Ciapus, Bogor. Rindang dan sejuk, itu yang aku rasakan begitu aku tiba di sana. Untuk rombongan, mereka menyediakan paket lengkap tour sutera, makan siang dan snack hanya dipatok harga Rp.60ribu per orang.
Kami mengambil paket makan siang prasmanan -sangat rekomended- karena makanan yang mereka sediakan sangat lezat dan unik. Mereka menyajikan makanan pokok ulat sutera, yaitu daun murbai. Enaaak sekali urap daun murbai,, daun murbai rebus... pantas aja ulat sutera doyan banget yah. Sayangnya biarpun sudah makan daun murbai tidak mengubah air liur manusia jadi sutera hahaha...

Kami tiba di sana pk.9.30 pagi, disambut oleh bapak pemilik Rumah Sutera, dia sendiri yang menjelaskan kepada kami tentang metamorfosa dari ulat sutera.
Dari telur menjadi ulat putih yang gendut, lembut dan menggemaskan. Di umurnya yang ke 30 hari, sang ulat berubah menjadi kokon atau kepompong.
Kokon yang didiamkan akan menjadi kupu-kupu. Tapi mereka memproses kokon itu sebelum menjadi kupu-kupu.
Pertama-tama, untuk mengeluarkan benang sutera, kokon harus direbus terlebih dahulu.
Kokon yang sudah direbus, ditarik benangnya dan dipintal menjadi gulungan benang. Warna benang berbeda tergantung dari mana ulat sutera tersebut berasal.
Gulungan-gulungan benang itu pada akhirnya dipintal menjadi kain.

Setelah dijelaskan proses metamorfosa dari ulat menjadi sutra, kita dapat melihat proses tersebut secara detail di sana.

Diawali dengan menjenguk kandang ulat sutera dimana ribuan ulat sutera sedang sibuk makan daun murbai. Kita diperbolehkan menyentuh ulat sutera setelah kita mencuci tangan menggunakan kaporit supaya steril.
Kandang dimana para ulat sutera asik makan daun murbai
Ulat sutera berubah menjadi kokon dengan cara mengeluarkan air liurnya dan membungkus dirinya dengan air liur tersebut. Yang lucu, ulat-ulat tersebut bisa masuk sendiri ke dalam kotak di bawah ini saat mereka merasa siap menjadi kokon.

Ulat sutera menjadi kokon

Dilanjutkan dengan melihat proses perebusan dan pemintalan benang sutera hingga menenun benang menjadi kain sutra.
Proses memintal kokon menjadi benang sutera

Benang sutera dipintal menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Para pengunjung dewasa maupun anak-anak bisa mencoba menenun dengan menggunakan ATBM.

Taraaa! Ini adalah benang sutera

Setelah selesai terkagum-kagum dengan semua proses pembuatan kain sutera, kami dibawa ke galeri penjualan kain sutera. Cantik sekali kain sutera yang dijual di sana, mesti menahan diri supaya masih ada ongkos untuk pulang ke Jakarta hahaha.... Selain kain, ada juga souvenir yang terbuat dari kokon asli. Naaah kalo souvenir kokon sangat cocok untuk oleh-oleh lucu, unik daaaan.... cuma goceng.

Menarik bukan? Katanya Rumah Sutera ini lebih bagus daripada yang di China loh... Nah siapa bilang di luar negeri lebih bagus daripada yang di dalam negeri. Cek deh web nya di www.rumahsuteraalam.com.



Asiiik, boleh coba menenun dengan ATBM.Kapan lagi kalo ga disini.


Menikmati keajaiban metamorfosis ulat menjadi kain sutera, mengingatkanku bahwa kalau ulat sutera yang kecil diciptakan untuk tujuan yang begitu berharga, terlebih kita manusia....







Read More

Senin, 05 Januari 2015

If Children Live with Criticism, They Learn to Condemn

-Dengan Kritik, Anak Belajar Untuk Menyalahkan Keadaan-
Banyak dikritik, anak jadi belajar mencari kesalahan.

Anak-anak seperti spons, mereka menyerap apapun yang kita lakukan. Kalau kita sering mengkritik mereka, mengeluh tentang orang lain dan kondisi sekitar kita, kita sedang mengajarkan kepada mereka untuk mencari kesalahan orang lain dan dirinya sendiri daripada mencari apa yang positif.

Kritik bisa dalam bentuk kalimat, nada suara, sikap, bahkan lewat lirikan mata. Parents bisa bilang, "Waktunya pergi" dan mereka pergi. Tapi ada parents lain yang tidak sabaran, ngomong hal yang sama dengan cara yang berbeda. "Kamu ini lama amat sih." Kedua cara itu belum tentu efektif, tapi anak yang mendengarnya akan merasa berbeda. Ana bisa merasa bahwa dirinya tidak cukup baik.

Tentunya secara tidak sengaja kita pernah melemparkan kritik, tapi ada orang-orang tertentu yang terbiasa berfokus kepada kesalahan orang lain. Kritik yang terlalu sering diterima akan menyebabkan dampak yang panjang, menciptakan suasana penghakiman yang negatif dalam kehidupan keluarga. Sebagai orangtua, kita punya pilihan - kita bisa menciptakan suasana emosional yang penuh kritik dan saling menyalahkan, atau suasana yang saling mendukung satu sama lain.

Di saat kondisi memanas
Alin (6th) berdiri di dapur merangkai bunga yang baru dia petik dalam sebuah pot plastik yang terisi dengan air. Tiba-tiba, pot itu jatuh sehingga air, daun dan bunga berserakan. Alin berdiri, bengong dan basah. Mamanya tiba di sana dan berkata dengan kesal, "Ya ampuuun, kok kamu ceroboh amat sih?".

Kita sering mengucapkan kata-kata itu. Kita bereaksi tanpa pikir panjang. Kalimat terlontar begitu saja dari mulut kita dengan cepatnya, sampai kita sendiri kaget waktu mendengarnya. Mungkin saat itu kita sedang lelah. Mungkin juga kita sedang memikirkan banyak hal.

Tidak pernah terlalu terlambat untuk mengubah nada bicara kita, dan mencegah hal-hal yang merusak rasa berharga seorang anak. Jika saja mama Alin berhenti, menenangkan diri dan minta maaf karena sudah membentak, semuanya akan menjadi lebih baik. Alin mungkin merasa buruk terhadap kejadian itu, tapi ia tidak merasa buruk terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya kalau mama si Alin terus mengkritik, Alin mungkin mulai melihat dirinya sebagai orang yang ceroboh dan tidak berguna.

Yah, memang ada saat-saat kita merasa sangat jengkel. Kebanyakan kita harus bekerja keras untuk mengerti dan mengendalikan reaksi emosi kita sendiri. Akan sangat membantu kalau kita punya respon seperti, "Kok bisa jatuh Nak?". Kalimat tersebut memberi penekanan terhadap hal yang terjadi, bukan terhadap anak kita. Bukan hanya menghindarkan perasaan gagal terhadap anak, tapi juga memberi mereka ruang untuk belajar melakukan yang lebih baik. Dengan pertanyaan, kita mengajarkan anak kita untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.

Beberapa kasus bisa dicegah jika kita mau meluangkan waktu untuk merencanakan dan memberi batasan sejak awal. Dalam banyak hal, anak selalu ingin menyenangkan orangtuanya, dan kita bisa menjelaskan apa yang menjadi keinginan kita. Penjelasan kita harus spesifik dan jelas untuk anak sesuai dengan umur mereka.

Di suatu hari hujan, Bill bilang ke mamanya bahwa dia ingin main play dough bersama temannya. Saat itu mamanya sedang sibuk dan tergoda untuk bilang saja 'ok' dan membiarkan dua anak itu bermain. Tapi si mama berdiri, mengambil plastik bekas tirai kamar mandi yang memang sudah tidak terpakai. Meletakkannya di atas lantai dan berkata, "Duduk di tengah sini dan kamu bisa main play dough di atas plastik ini."

Sementara kedua anak itu asik main play dough di atas plastik, Bill bertanya, "Mam, boleh pinjem pisau dapur?"
"Pisau dapur bukan untuk main, kenapa ga kamu ambil pisau mainanmu?" Jawab mamanya.
"Oke. Kalau pinjam sendok kayu boleh?" Bill bertanya lagi.
"Tentu. Dan ingat untuk membereskan setelah selesai main ya." Kata mama sambil mengambil sendok kayu.

Beberapa menit yang diluangkan di awal, seakan-akan adalah sebuah ganngguan untuk si mama yang sedang sibuk, tapi hal itu menyelamatkannya dari play dough yang berceceran di lantai yang lengket dan membebaskannya dari kritikan yang mungkin dia lemparkan untuk anaknya.

Cara kita mengatakan sesuatu
Seringkali tujuan kita mengkritik anak kita supaya mereka bisa menjadi lebih baik. Mungkin ini cara yang dipakai orangtua kita terhadap kita dulu. Atau mungkin kita mengkritik mereka karena kita stress atau lelah. Tapi anak-anak tidak merasakan kritikan sebagai dorongan untuk menjadi lebih baik. Untuk seorang anak, kiritik diterima sebagai serangan terhadap pribadinya dan justru membuat anak jadi tidak kooperatif. Anak-anak kecil susah mengerti bahwa tindakan mereka yang tidak diterima, bukan diri mereka.

Kita masih tetap bisa menyampaikan ke anak kita bahwa kita tidak suka tindakan mereka tanpa menyerang pribadi anak kita. Apapun yang terjadi, kita bisa katakan bahwa kita tetap sayang dia, walaupun dia melakukan kesalahan.

Kritik berfokus pada kesulitan, kekurangan dan kekecewaan, bukan solusi. Tentunya kita tidak mau anak kita melihat dunia dengan perspektif yang negatif, atau berpikir bahwa cara mereka meresponi masalah adalah dengan mengeluh.

Mengkritik pasangan kita juga membuat anak belajar memihak salah satu orangtua, menempatkan mereka pada masalah pernikahan. Mereka akan terluka dan bingung membagi kasihnya terhadap kedua orangtuanya. Begitu juga mengkritik kakek dan nenek dari anak-anak kita, menempatkan anak kita di posisi yang sulit. Kritik kita terhadap orangtua atau mertua, merusak hubungan istimewa anak-anak kita dengan kakek dan neneknya. Cepat atau lambat, anak-anak akan bisa melihat kesalahan-kesalahan dalam keluarga. Tidak perlu membebani mereka di saat mereka masih terlalu muda. Anak-anak perlu melihat orang-orang dewasa dalam keluarga mereka saling menghormati dalam perbuatan dan perkataan. Cara anak-anak belajar tentang hubungan dengan orang-orang yang mereka cintai nantinya adalah dengan mengamati interaksi kita dengan orang di sekitar kita.


Aku masih perlu baaanyak sekali belajar untuk mengendalikan diri mengubah kritikan menjadi kalimat yang positif. Bagaimana denganmu?
Read More

Senin, 29 Desember 2014

Children Learn What They Live




Children Learn What They Live



If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.

If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.

If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.


Sebuah puisi yang sangat menginsipirasi, ditulis oleh Dorothy Law Nolte.

Selanjutnya aku akan posting uraian dari setiap baris puisi si Dorothy Law Nolte yang ditulis bareng Rachel Harris. Sangat menginspirasi dan perlu untuk diketahui setiap orangtua yang sering lupa bahwa anak-anak menyerap semua perkataan dan tingkah laku kita tanpa kita sadari.




Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© Elzoria Story, AllRightsReserved.

Blogger theme by Safetricks.com Designed by ScreenWritersArena