I write about values, jalan-jalan, anak-anak, fun learning and so on.

Selasa, 10 November 2015

Orak Arik Ikan Peda

Orak Arik Ikan Peda
Kenapa terlintas di pikiranku untuk menuliskan resep ini? Karena sangat gampang dibuat, tahan disimpan beberapa hari dan bikin pengen nambah nasi mulu.
Beberapa waktu lalu, aku pernah ke salah satu rumah makan sunda di Bogor ada masakan yang sama, dimakan dengan nasi merah, enak banget.




Bahan :

2 ekor ikan peda
3 butir telur
2 buah cabe merah
1 papan pete diiris bagi 2 (optional)
2 siung bawang putih
5 siung bawang merah
2 buah temu kunci diparut

Cara membuat : 

1. Celupkan ikan peda ke dalam 1 butir telur, kemudian goreng. Setelah matang, suwir-suwir daging ikan peda dan pisahkan dari kepala dan durinya. Sisihkan.

2. Tumis bawang merah, bawang putih, cabe dan temu kunci sampai wangi, lalu masukan suwiran daging ikan peda dan pete. Aduk-aduk sampai wangi.

3. Masukkan telur bekas celupan ikan peda dan dua telur lainnya. Diamkan sebentar, lalu aduk-aduk telur supaya terpisah jadi bagian-bagian kecil. Terus diaduk sampai kering.

4. Angkat, sajikan dengan nasi hangat.

Cocok sekali untuk dimakan bersama sayur bening maupun sayur lodeh, atau untuk dimakan bersama nasi putih sebagai bekal. Nyam...


Read More

Senin, 02 November 2015

Hotel Keren di Uluwatu Bali

Hotel Ungasan di Uluwatu

Hai, aku lanjutin ceritaku kemaren tentang perjalananku ke Bali berdua dengan suami untuk dinas. Ya, ini dinas, bukan bulan madu, tapi tempatnya bikin kita serasa lagi bulan madu. Biarpun sepanjang hari aku cuman diam di hotel, tapi tempat ini benar-benar ga bikin aku bosan. Setiap sudut hotel ini membuat aku betah untuk duduk merenung, membaca dan menikmati me time ku.
Buat aku yang full time mom sekaligus guru buat kedua anakku yang homeschool, me time adalah waktu yang sungguh sangat berharga. Dua puluh empat jam sehari aku selalu bersama dengan anak-anak. Nah kali ini, saat suami ada dinas di Bali dan dia ajak aku... aku memutuskan untuk pergi, biarpun dengan berat hati meninggalkan anak-anak.

Setelah semalam di hotel Rofa Galeria di Legian (baca di sini), kami pindah ke hotel Ungasan (sekarang : Hotel Golden Tulip) di Uluwatu. Namanya sih ga terlalu menarik yah, ga keren gitu. Ungasan.. hmmm ga keren yah namanya kaya hotel kecil tuh. Waktu kami nyampe di hotel itu, waw... Wonderful, ini kata-kata yang cocok untuk mengungkapkan keindahan hotel tersebut. Hotel ini terletak di daerah Ungasan, bersebelahan dengan pintu gerbang Garuda Wisnu Kencana.

Penampakan Hotel Ungasan dari area parkir mobil.
Dari luar, hotel ini tidak terlihat keindahannya, hanya terlihat sebagai bangunan hotel besar. Saat kami turun dari mobil jemputan dan melangkah masuk ke lobby, suasanya yang hangat menyambut kami, terdapat taman di dalam lobby yang ditopang dengan pilar yang tinggi. Indah. Samar-samar terdengar suara gemericik air terjun dan karena saat itu bulan Juli, hawa di Bali sangat sejuk untuk ukuran daerah pantai. Ya, karena saat itu di Australia adalah musim dingin, maka angin dingin terbawa ke Bali. Bayangkan Bali dengan matahari yang terik tapi udaranya sejuk, bikin makin betah aja. Jadi pastiin kalo ke Bali di bulan-bulan ini yah, main ombak dengan hawa yang sejuk, wiiii.... Kalo uda masuk September udah panas lagi deh.

Lobby Hotel Ungasan, nyaman untuk duduk sambil ngobrol
Kamar kami ada di lantai 5 karena semua ruang meeting dan restoran ada di lantai 5 tersebut. Begitu lift terbuka di lantai 5, pemandangan begitu indah. Di depan lift terdapat jembatan beratap kaca yang menghubungkan dengan gedung lain yang berisikan kamar-kamar hotel dan restauran. Gedung, taman dan kolam buatan berbaur menjadi satu kesatuan yang sangat indah.

Pemandangan di depan lift, jembatan beratap kaca yang menghubungkan ke kamar-kamar hotel dan restaurant,
Kami diajak berkeliling untuk melihat dimana tempat seminar akan diadakan. Ternyata letaknya terpisah di gedung lain di belakang kamar-kamar hotel. Untuk menuju ke sana, kami melewati jalanan beratap kaca dengan taman di sekelilingnya. Di antara restaurant dan gedung tersebut terdapat kapel kecil berdinding kaca. Tentu akan sangat romantis kalau upacara nikah kami diadakan di sana. Yah sayang udah keduluan nikah 12 tahun lalu, baru liat kapel ini hehehe.

Gedung tempat ruangan2 meeting dan seminar.
Kapel kaca dengan pemandangan taman di sekitarnya dan lokasi GWK di salah satu sisinya.
Nah, setelah kami melihat-lihat ruangan meeting, baru deh kami masuk ke kamar kami. Aduuuh begitu masuk ke kamar, aku langsung benar-benar jatuh cinta dengan hotel ini. Kamarnya luas dengan toilet yang tembus pandang dari kamar. Di depan kamar terdapat teras dengan sofa yang kayanya bakal asik banget untuk duduk sambil baca buku dan minum orange juice. Dari teras, kami bisa langsung melangkah ke kolam renang. Oooh indahnya dunia.... eh indahnya hotel ini.

Cozy yah kamarnya
Kamar mandi tembus pandang, tapi tenang ada tirai yang bisa menutup pemandangan ini kok.


Dari teras kamar, kami dapat melihat pesawat yang naik dan mendarat di bandara Ngurah Rai. Padahal kita jauh di Uluwatu, tapi bisa melihat pemandangan itu dengan jelas. Aku ga pernah bosan menunggu pesawat yang akan mendarat, pesawat-pesawat itu terlihat seperti akan mendarat di laut, karena bandara Ngurah Rai terletak di pinggir pantai. 


Teras di depan kamar kami, dari sini tinggal ngelangkah aja untuk ke kolam renang.

Kolam renang di depan kamar kami.

Di saat suamiku sibuk mengajar, aku memanfaatkan waktuku sebaik mungkin untuk menikmati setiap sudut hotel ini. Kubaca bukuku dari satu tempat ke tempat lain. Oyah, ada satu kolam renang lagi di bawah, di samping lobby hotel. Kolamnya lebih luas daripada kolam renang di depan teras kamarku. Di sini terdapat kolam untuk dewasa dan kolam untuk anak-anak. Waktu itu ada perayaan pesta ulang tahun di pinggir kolam, hmm asik sekali, setelah selesai berpesta para tamu kecil itu langsung bersiap dan nyebur ke kolam, byuuuur.....
Secara keseluruhan, kenapa saya suka Hotel Ungasan Uluwatu ini? Pastinya karena tempatnya luar biasa indah, bersih, pelayannya ramah, makanannya enak dan harganya ok banget. Gimana aku ga jatuh cinta sama nih hotel?! Hotel ini sangat rekomended, dan pastinya aku akan balik ke hotel ini lagi kalau ke Bali.

Oyah, pantai terdekat dengan hotel Ungasan ini adalah pantai Pandawa yang indah, hanya sekitar 10 menit dengan mengendarai mobil. Yuk kita mulai planning liburan yuk...

Bisa liat laut dan pemandangan Bandara Ngurah Rai dari sini.
Enak banget nongkrong di sini sore-sore.
Kolam renang di samping lobby hotel.
Kolam anak.
Suasana restoran sebelum lunch time.
Pemandangan taman di sore hari









Read More

Senin, 12 Oktober 2015

Hotel Nyaman di Legian

Hotel cuantik dan murah di Legian, Rofa Galeria

Hai hai.... mau cerita pengalamanku di Bali waktu ikut sang suami tercinta dinas ngajar. Ngajar di Bali gitu loooh... aku ikutlaaaah.
Hari itu bertepatan dengan terbakarnya Bandara Soekarno Hatta, jadilah kami terdampar di bandara selama 5 jam. Syukurlaaah akhirnya kami bisa terbang dan tiba di pulau Bali dengan selamat.

Nah karena kami adalah tipe manusia last minute, belom ada hotel yang kami booked. Jadi sambil menunggu di bandara, kami mulai membuka-buka traveloka, cari hotel di sekitaran Kuta. Yang bagus, bersih dan yang terpenting adalah murah.

Akhirnya setelah browsing sana, browsing sini ketemulah kami dengan Hotel Rofa Galeria, di foto sih sangat menarik. Kaya hotel bintang 4 tapi harganyaaa cuma 300 rebuan semalam. Waw, ini dia nih yang kita cari. Sesuai kesepakatan, kita booked itu hotel.

Sesampai di Bandara Ngurah Rai, kami naik taksi yang kami pesan dari bandara. Kenapa taksi? karena tidak sampai 24 jam, kami akan dijemput tim panitia untuk masuk ke hotel di Uluwatu, sayang ah kalo sewa mobil. Dari Ngurah Rai ke lokasi hotel Roffa tarif taksi sekitar 80rb, setelah ditawar-tawar dikit.

Akhirnya tibalah kami di hotel... dari depan sih keliatannya biasa aja, karena ternyata lobbinya terletak agak ke dalam. Lobbynya minimalis. Kamar yang kami pesan sudah siap, tapi kami minta kamar yang menghadap ke kolam renang. Mas resepsionis yang ramah bersedia menukar kamar, dan karena proses tukar kamar itu, kami masih harus menunggu beberapa menit.

Ini penampakan lobbynya. Mungil, tapi apik.

Bagus? Oooh bagus sekali untuk seharga itu. Bener-bener mirip hotel bintang 4, tapi ini mini ukurannya.

Kami mendapat kamar yang paling atas lengkap dengan teras kecil plus view ke kolam renang. Nyamaaaan, rebahan di kasur enaaaakkkk banget setelah menunggu 5 jam terkatung-katung di bandara. Kamarnya bener-bener sekelas bintang 4 deh, cuman ini kecil aja, cukuplah kalo untuk berdua.
Hmmm.... nyaman kamarnya...

Hotel ini mirip banget ama Hotel Harris di Uluwatu

View dari kamar kami di lantai paling atas.

Malamnya aku berduaan dengan suami, jalan kaki menyusuri jalanan cari makan di daerah itu. Ada Mang Engking, dan satu komplek kecil makanan. Ada beberapa resto di komplek tersebut, tapi karena cape malam itu kami memilih untuk nyeruput sup angetnya hoka-hoka bento deh. Yang keren di dekat sana ada rental motor gede. Wih asik kali ye kalo bisa ngerasain naik motor gede, sayang hari itu rental motornya tutup.

Setelah tidur yang sangat nyenyak, kami bangun dengan perut keroncongan. Dan turunlah kami ke bawah untuk sarapan. Sarapannya di sini buffet, dengan makanan yang standart. Dan yang pasti setelah sarapan, aku masih lapar. Mungkin kapasitas perutku yang kegedean untuk hotel ini, ato entahlah... ga usah dibahas, malu-maluin ketahuan makannya buanyak.

Demikian ulasan singkatku tentang hotel di Legian ini, semoga bermanfaat untuk yang lagi cari hotel di Bali yah.















Read More

Senin, 14 September 2015

If Children Live With Fear, They Learn to be Apprehensive

Hidup Dalam Ketakutan, Anak-Anak Belajar untuk Kuatir

Hal yang menakutkan kadang-kadang menyenangkan, seperti nonton film horror, masuk ke rumah hantu, mendengarkan cerita hantu. Adrenalin naik, jantung berdebar tapi seru karena kita tahu bahwa sebenarnya kita aman. Tapi hidup dengan ketakutan yang nyata sangat menyiksa, apakah itu ancaman kekerasan fisik, kekerasan psikologis, ditinggalkan, bullying, ataupun monster di kolong ranjang. Hidup dengan ketakutan yang nyata hari demi hari meruntuhkan kepercayaan diri dan rasa aman anak.


Hal-hal yang mengerikan di malam hari
Banyak hal yang menakutkan untuk anak-anak sangat tidak masuk akal untuk orangtua mereka. Anak-anak bisa ketakutan karena mendengar langkah orang dewasa, anjing baru tetangga atau pohon tua di depan rumah. Apapun alasannya, saat anak merasa takut, perlu ditangani secara serius. Kita perlu melihat dari sisi dunia anak-anak. Kalimat-kalimat "Ah, nggak ada apa-apa kok," "Gitu aja kok takut," membuat anak merasa diremehkan dan membuat ketakutannya tetap berkembang tanpa kita tahu.

Bagaimana kita membedakan antara anak yang merasa ketakutan atau hanya mencari perhatian? Sulit. Kebanyakan orangtua terlalu kuatir dimanipulasi oleh anak. Padahal kebutuhan untuk diperhatikan sama pentingnya dengan kebutuhan untuk makan. Dan seringkali yang terjadi, anak merasakan keduanya, benar-benar takut dan butuh diperhatikan.

Sebut saja Adam, keluarganya baru saja pindah ke rumah baru, dia baru mulai masuk TK, dan adik bayinya baru saja lahir. Untuk orangtuanya, semua ini adalah suatu kebahagiaan, tapi tidak untuk Adam. Suatu malam Adam datang ke ayahnya, "Aku takut, temenin aku Yah," tangisnya.
Ayahnya bisa saja jawab, "Temenin kamu? Kenapa? Kamu sudah jadi kakak sekarang dan kamu ga perlu takut."
Tapi ayahnya mengerti. "Temenin kamu? Ok, sini ayah peluk dan kamu aman." Pengertian dan kedekatan sang ayah memberi jaminan yang Adam butuhkan untuk melalui momen sulit ini.


Ketakutan Kita Untuk Anak-Anak Kita
Anak menyerap kekuatiran orangtua tanpa kita sadari. Coba cek, seberapa sering kita mengucapkan kalimat "Aku takut...." atau "Aku kuatir kalau....". Kalau anak mendengar kalimat tersebut secara rutin, itu akan membentuk pola pikir mereka.

Sayangnya orangtua jaman sekarang punya ketakutan yang berlebihan. Kita menghadapi dilema untuk melindungi mereka dari bahaya tanpa membuat mereka jadi parno. Adalah tantangan untuk kita bagaimana memupuk kepercayaan diri mereka dan sekaligus melindungi mereka dari bahaya.

Ketakutan yang lain adalah kita tidak mau anak kita menderita seperti yang kita alami dulu di saat seusianya. Hal ini justru membuat kita bertindak kurang tepat. Ayah Carli melarang anaknya untuk ikut club basket, "Aku nggak bisa main basket waktu seumur Carli. Waktu itu aku ikut club dan selalu jadi yang terakhir, menderita sekali. Aku takut hal yang sama terjadi pada Carli."

Carli perlu diijinkan untuk mengeksplor kemampuannya sendiri tanpa beban dari memori ayahnya. Kita harus selalu ingat bahwa anak-anak berbeda dari kita, dan mereka punya hak untuk mengalami perjuangan mereka sendiri.


Ketakutan Sehari-hari
Anak-anak hidup di dunia yang berbeda dari orang dewasa dan mereka tidak selalu bisa menyampaikan apa yang mereka alami. Sangat mungkin kita tidak sadar hal apa yang menakuti mereka. Contohnya, banyak anak hidup dengan intimidasi teman di sekolah, tetangga, atau bahkan saudara kandungnya sendiri. Mungkin mereka dibully atau diancam. Anak-anak kecil mungkin tidak tahu bagaimana mengungkapkan ketakutan mereka, dan anak yang lebih besar mungkin merasa mereka harus bisa mengatasinya sendiri. Kita harus sediakan waktu kita untuk bertanya apa yang terjadi dalam hari-hari mereka.

Seorang ibu bertanya pada Andrew (5th), anaknya, "Apa yang terjadi di sekolah hari ini?" (Pertanyaan ini lebih baik daripada "Bagaimana sekolah hari ini?")
"Joe rebut truckku padahal aku duluan yang main."
"Trus?"
Andrew menundukkan kepala dan merengut, "Ngga papa. Aku ngga tau."
Di titik ini si ibu menyadari bahwa anaknya diintimidasi dan berusaha untuk menemukan jalan keluar. "Hmm km pasti kesel ya, Joe ambil truckmu. Menurut kamu, mestinya apa yang kamu lakukan?". Si ibu memberi kesempatan pada anaknya untuk memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan. Andrew menjawab, dia bisa rebut balik truknya, bilang ke guru, main dengan yang lain dan menjauh dari Joe. Bahkan ibunya tidak perlu ajarin apa yang harus dilakukan, Andrew bisa menemukan jawabannya sendiri.

Bagi kebanyakan anak kecil, menghadapi hal baru sangat menakutkan. Hari pertama sekolah, ke dokter gigi pertama kali, pertama kali naik pesawat. Kita dapat menolong anak-anak menghadapi hal ini dengan memberi dukungan. Menunjukkan kepercayaan kita terhadap anak adalah cara yang ampuh untuk mengajarkan mereka percaya terhadap dirinya sendiri.


Setiap Orang Bisa Takut
Sebagai orangtua, kita ingin kelihatan kuat untuk anak, kita ingin mereka merasa bahwa mereka bisa bersandar pada kita untuk membuat mereka merasa aman. Tapi kita juga kadang perlu punya keberanian untuk menyampaikan pada mereka bahwa kadang-kadang kita juga merasa takut. Anak-anak belajar bagaimana menghadapi ketakutan mereka saat mereka mengamati bagaimana kita mengatasi ketakutan kita. Biarkan mereka melihat bagaimana kita mencari dukungan dari pasangan, teman atau keluarga kita saat kita takut dan bagaimana kita juga menguatkan orang lain dalam ketakutan mereka. Saat kita mengakui perasaan kita dan menemukan solusinya, saat itu kita menjadi model untuk anak-anak kita saat mereka menghadapi masalah mereka.
Read More

Selasa, 08 September 2015

Main di Cafe Strawberry

Weekend kemaren kami ajak Lio dan Zo ikutan meeting. Selama 2 jam kami meeting, mereka menunggu di ruangan sebelah ruang meeting kami. Biarpun aku tau persis bahwa mereka bosan, tapi mereka berusaha untuk bersabar dan menahan diri. Setelah meeting selesai, ternyata ada teman lama yang ingin lanjut ngobrol dengan kami.

Hmmm senang pastinya bisa ngobrol dengan teman lama, bernostalgia. Tapi... bagaimana dengan Lio dan Zo yang sudah menunggu selama 2 jam? Tegakah kalo mereka masih harus menunggu obrolan kami lagi? Akhirnya kami putuskan untuk mencoba Cafe Strawberry di daerah Tanjung Duren. Cafe yang katanya banyak games di dalamnya.

Saat masuk ke cafe, kami disambut oleh seorang pria berjubah hitam. Sudut-sudut cafe dipenuhi dahan pohon dan tembok bermotif bata yang hampir runtuh, menciptakan suasana gothic sangat kental. Yang menarik, di bagian dalam pintu masuk, terdapat rak berisi berbagai jenis topi lucu yang digantung untuk dapat dipakai oleh pengunjung.

Suasana gothic, dengan berbagai jenis game board terpampang di atas.



Cafe Strawberry di bagian dalam.

Kami mencari tempat di sudut supaya kami bisa ngobrol dengan bebas. Pelayan menyodorkan menu yang sangat unik. Bentuk menunya seperti Monopoli board, dengan judul Menupoly hahaha... asli kreatip banget. Jenis menu yang ditawarkan cukup banyak dan harganya bersahabat. Terdapat pilihan menu yang jarang ada di tempat-tempat lain, ada nasi goreng strawberrry, spaghetty strawberry... dan ada minuman sejenis milkshake yang kalo makin lama didiemin makin keras dan jadi es krim. Aneh ya... dimana-mana es krim didiemin jadi meleleh, ini malah kebalikannya.

Menu makanan dan minuman ato mau main monopoli yak?

Setelah kami memilih pesanan makanan dan minuman, ternyata ada 1 menu lagi yang mereka berikan. Menu games! Ya menu games, ada berbagai macam game board yang bisa kita pinjam dan gratis loh. Wah Lio dan Zo semangat sekali untuk pilih game yang mereka mau.

Menu pilihan games



Tumpukan game boards di sudut ruangan.


Pesanan game datang cukup cepat, dan ada pelayan yang ajarin cara main game tersebut. Pastikan kalo mau ke sana sebelum perut benar-benar lapar ya, karena makanan datang agak lama.
Akhirnya pesananku datang, Nasi goreng bakar spesial, ditaro di pot tanaman hias hahaha.... lucu dan kreatif.

Chocolate Bailey dan Nasi Goreng Bakar Special


Tadinya kupikir cafe ini hanya menjual suasana dan games, makanan mereka belum tentu enak. Ternyataaaa aku salah, makanannya enak. Jus alpukatnya juga enak, dan minuman aneh yang bisa jadi  es krim juga enak. Wah kayanya bakal balik lagi deh nih.

Buat yang kepengen, bisa dicek link nya di strawberrycafe.webs.com,




Read More

Kamis, 09 Juli 2015

Kala Harus ke Luar Kota Tanpa Anak

Berlibur tanpa anak tetap bisa happy.
Mendapat kesempatan untuk menemani suami tugas ke Bali bikin aku happy sekaligus bingung, Happy karena memang aku cinta Bali, bingung karena untuk kali ini ga memungkinkan untuk ajak anak-anak. Rasanya hati terbagi dua, antara ikut suami dan tinggalin anak-anak di rumah bareng opa dan mbak, atau tetep di rumah bareng anak-anak. Ah dilema...

Rasanya ada yang kurang, pergi ke Bali tanpa anak-anak. Tapi kalo suami sudah ajak dan dia yakin anak-anak akan baik-baik saja di rumah... masa aku tetep ngotot mau temenin anak-anak di rumah?

Apalagi waktunya sangat mepet, cuma 2 hari sebelum keberangkatan baru suami memutuskan untuk mengajakku. Wah, waktu yang sangat singkat untuk persiapan hati, persiapan rumah, persiapan jadwal anak-anak, persiapan makanan anak-anak, packing... banyak sekali yang harus dipersiapkan.

Perasaanku campur aduk, antara perasaan pengen ikut dan rasa bersalah kalau aku harus meninggalkan anak-anak hanya untuk menemani suami. Aku ga punya kepentingan apapun di Bali selain menemani suami. Apakah aku egois?

Dalam kondisi ragu, iseng-iseng aku nanya ke Lio dan Zo untuk tau respon mereka, gimana kalo mama ikut ke Bali bareng papa? Mereka jawab dengan mantap, "OK mama, no problem. Berapa hari?"
"Lima hari" jawabku. "Ok," kata mereka.
Hah? Ga salah ya aku denger jawaban mereka? Jauh dari yang aku pikirkan, kupikir mereka bakal merengek untuk ikut, atau memintaku untuk tetap tinggal di rumah bareng mereka. Apalagi selama ini Zo sangat-sangat nempel kaya perangko.

Hmm dengan jawaban anak-anak yang mantap, ternyata masih belum cukup untuk memantapkan hatiku untuk ikut. Bimbang, masih berat rasanya berpisah dari anak-anak. Satu persatu kekuatiran mulai bermunculan dalam pikiranku, takut mereka berantem, takut mereka sedih, takut mereka jatuh, takut mereka kesetrum, siapa yang selimutin mereka saat mereka kedinginan tengah malam, dst, dst. Hahaha... parno yah.

Malam itu aku susah tidur karena dilema ini, paginya aku menelpon mamiku. Aku butuh masukan beliau. Ini jawabnya, "Kalo suami ajak, kamu ikut. Gimanapun suamimu lebih penting daripada anak-anak. Tiap hari kamu bisa ketemu anak-anak, tapi kesempatan liburan berdua dengan suami itu jarang sekali."
Ok, jawaban itu benar dan masuk akal menurutku. Dan membuatku lebih mantap memutuskan untuk ikut.

Setelah keputusanku untuk ikut, hari itu menjadi hari yang sangat sibuk. Waktuku hanya sehari untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Masih ditambah dengan berbagai jadwal meeting di hari itu.
Hari itu aku belanja ke supermarket untuk beli snack yang dibutuhkan, beli sarapan-sarapan praktis seperti cereal. Ke Gramedia untuk beli Activity Book untuk Zo kerjakan di rumah supaya ga kurang kerjaan. Membuat jadwal homeschool harian anak-anak selama aku ga ada di rumah. Ya, jadwal sangat penting buat kami karena Lio dan Zo 24 jam berada di rumah, mereka tidak pergi ke sekolah.

Untuk mengantisipasi rasa sendiri mereka, snack-snack yang kubeli, aku bungkus jadi 5 bungkusan. Setiap hari mereka boleh buka 1 bungkus. Dan hanya boleh dibuka setelah mereka selesai belajar dan mengerjakan workbook yang saya tugaskan. Bungkusan-bungkusan ini membuat mereka happy karena ada sesuatu yang mereka tunggu-tunggu setiap hari.

Di hari-hari biasanya, mereka bisa nonton film dan main games hanya saat weekend. Tapi untuk saat aku pergi, aku ijinin mereka selang seling sehari main games, sehari nonton film. Main games 30menit/hari dengan syarat tanpa buka internet.

Untuk antisipasi pertengkaran antara mereka, aku bilang berulang-ulang ke El dan Zo bahwa mereka adalah satu tim, jadi kalian harus saling dukung satu sama lain. Pikirkan kepentingan orang lain lebih daripada kepentinganmu sendiri. Aku minta El untuk jaga Zo, dan aku minta Zo untuk hormati El, karena El yang akan jaga dia.

Akhirnya hari keberangkatan tiba, aku berangkat dari rumah pukul 6 pagi. El dan Zo sudah pesan dari malam sebelumnya untuk bangunin mereka sebelum aku berangkat. Pagi itu mereka antar kami sampai ke pintu gerbang dengan ciuman dan tanpa tangisan. Malah mereka excited dengan kado dan ijin nonton dan games setiap hari.

Hahaha, aku pergi dengan tenang karena aku tau mereka happy.
Yeeeaaay Baliiii, here I come....!
Read More

Rabu, 10 Juni 2015

Yuk, Mengenal Uang Lebih Dekat!

Uang tahun 1921 senilai 30 Gulden
Museum....
Saat terngiang kata museum di telinga, yang terlintas di benakku adalah satu tempat kuno yang agak suram dan lengang.
Saat teman-teman bersepakat membawa anak-anak kami mengunjungi Museum Bank Indonesia, aku sudah mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam satu bangunan tua yang biasanya agak membosankan.
Memasuki area parkir Museum Bank Indonesia yang terletak di bagian belakang gedung, saya melihat bangunan museum yang cukup megah. Biarpun bangunannya tua, tapi dibalut cat putih yang nampak baru.

Ok, sebelum perjalanan masuk ke dalam museum dimulai, sebagian besar dari kami ngantri dulu ke toilet. Cukup kaget juga melihat toilet museum sekelas toilet di mall. Padahal, sekali lagi aku sudah mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam toilet kuno yang luas dengan bak mandi segede gajah.
Hmmm... kok malah jadi ngomongin toilet yah hehehe. Tapi sungguh, aku ga sangka bahwa toiletnya akan semodern ini.

Masuk ke pintu utama, ada semacam meja resepsionis dengan petugas yang menahan semua makanan dan minuman yang kami bawa. Jadi, pastikan perut kenyang sebelum masuk ke museum ini yah.
Saat itu, kami masuk ke museum itu free, tapi mulai bulan Mei 2015 mereka mengenakan biaya Rp.5000/orang karena banyak anak sekitar main-main dan remaja yang memakai museum itu untuk kegiatan berpacaran ria (plis deh, pacaran di museum...).

Karena kami datang sebagai rombongan, maka begitu masuk kami langsung diajak ke studio untuk nonton film pendek tentang proses produksi uang sampai dengan proses uang beredar di bank-bank dan di masyarakat. Film yang sangat bagus menurutku, mengedukasi tapi tidak membosankan.

Guide menggigiring kami masuk ke ruangan selanjutnya, ada kapal dagang VOC yang menggambarkan proses barter sebelum ada uang sampai bagaimana uang mulai tercipta.
Dilanjutkan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah di Indonesia tentang keuangan dari jaman ke jaman. Lalu ditunjukkan ruangan dengan puluhan emas batangan gede, yang merupakan imitasi dari cadangan emas yang ada di BI.

Ini bukan kitkat raksasa yah, ini emas.
Cadangan emas di Bank Indonesia.
Ada satu ruang dengan pintu besi tebal, di dalamnya tertata rapi uang-uang Indonesia, dari uang koin sampai uang kertas di dalam lemari-lemari kaca. Dalam ruang ini tidak diperbolehkan mengambil foto dengan menggunakan blitz, karena blitz bisa merusak uang-uang kuno yang dipajang.

Uang BI tahun 1964 senilai 10 Sen


Lalu kami ke ruangan meeting yang sangat besar, di sana terdapat barang-barang kuno yang sudah berjasa bagi kegiatan operasional BI. Yang paling menarik buatku, ada jam bersejarah yang hanya ada satu di dunia. Jam bandul tersebut tertanam di dalam dinding dan merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina untuk De Javasche Bank (Bank Indonesia) pada peringatan 100 tahunnya.

Jam bandul buatan Belanda th 1928
hadiah peringatan 100th De Javasche Bank
dari Ratu Wilhelmina.

Pesawat telepon untuk kegiatan operasional Bank Indonesia


Mesin Tik Underwood Elliott Fisher produksi tahun 1950an.
Mesin tik berdesain unik ini digunakan untuk
mengetik jurnal efek-efek.


Kursi meetingnya cantik ya.

Bukan seperti bayangan saya sebelumnya ternyata museum ini sangat mewah dan setiap ruangannya sejuk berAC. Saya terpesona dengan kemewahan dan keanggunan di dalamnya. Semuanya tertata apik dan rapi. Jadi tau deh, kenapa banyak dimasukin anak-anak sekitar untuk ngadem dan bahkan untuk pacaran. Nyaman berada di dalam museum ini.

Ayo boleh dicoba untuk datang ke museum ini, untuk belajar yah bukan untuk pacaran. Hahaha...
Sangat membuka wawasan yang baru tentang uang dan bank. Yuk, ke sana rame-rame.











Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© Elzoria Story, AllRightsReserved.

Blogger theme by Safetricks.com Designed by ScreenWritersArena