I write about values, jalan-jalan, anak-anak, fun learning and so on.

Kamis, 14 Mei 2015

Anakku Strongwill?

Pernahkah ngerasa gregetan dan kesel karena tingkah laku si kecil yang makin dilarang malah makin ngotot? Maunya lakuin segala sesuatu dengan caranya sendiri?

Jangan  panik, bisa jadi anak kita adalah anak strongwill.

Strongwill berbeda dengan ketidaktaatan. Anak yang tidak taat harus dikoreksi atau didisiplin, tapi anak strongwill, mungkin orangtua yang perlu mengubah cara pendekatannya.
Anak strongwill tidak suka didikte secara detail saat melakukan sesuatu, dia punya caranya sendiri. Kreatif kan?

Coba cek 18 ciri di bawah ini, apakah anak strongwill (atau mungkin pasangan, bahkan diri kita sendiri adalah strongwill?)

1.  Mengabaikan kata 'tidak', 'jangan', 'tidak bisa'.
2.  Berargumen terus hanya untuk tahu kapan papa mamanya menyerah.
3.  Cepat dalam berjalan, bertindak dan makan.
4.  Tidak takut mencoba hal baru.
5.  Cari masalah saat merasa bosan atau lelah.
6.  Kreatifitas tinggi (selalu menemukan cara untuk mencapai tujuannya).
7.  Suka membuat aturan sendiri.
8.  Mengubah masalah kecil menjadi kontroversial.
9.  Bertindak bukan karena keharusan tapi karena kemauan.
10. Menolak untuk taat mentah-mentah, selalu bertanya 'kenapa?'
11. Bisa menganggap permintaan kecil sebagai ultimatum yang menyerang.
12. Sulit untuk minta maaf tapi selalu berusaha untuk memperbaiki.
13. Tidak sabar terhadap istilah lambat. Maunya segera.
14. Suka mengatur orang lain.
15. Mau mendapat yang terbaik.
16. Berjuang melakukan dengan caranya sendiri.
17. Menolak melakukan apa yang dia tidak mau.
18. Peka dan detail terhadap lingkungan.

Jika lebih dari 9 ciri di atas terdapat pada anak kita, berarti dia termasuk strongwill child.
Semakin banyak poin yang di dapat berarti semakin strongwill anak kita.

Anak strongwill perlu diberi ruang untuk pegang kontrol atas setiap perintah. Memegang kontrol adalah salah satu kebutuhannya. Misalnya, kita ingin memerintahkan dia untuk makan, dia tetap perlu diberi pilihan sebagai bentuk kontrol yang menjadi bagian si anak.

Contoh : "Kakak, makan sekarang ya. Mau pake piring warna kuning atau warna merah?"
Nah dia merasa dia punya bagian untuk mengatur sehingga hal ini memperkecil kemungkinan konflik. Toh hasil akhirnya sesuai dengan yang kita mau : makan sekarang.

Kelemahan anak strongwill :

1. Susah diatur
2. Keras kepala
3. Sarkastik
4. Kurang timbang rasa
5. Meremehkan orang
6. Suka mengatur orang lain.


Kekuatan anak strongwill :
1. Teguh pada pendirian
2. Mandiri
3. Percaya diri
4. Kreatif untuk dapat mencapai tujuannya
5. Semangat tinggi dan tegar
6. Berjiwa pemimpin dan cerdas
7. Bisa berubah jika dia yakin hal itu benar
8. Berkomitmen tinggi dan bertanggung jawab

Prinsip orangtua dalam menghadapi anak strongwill :
- Mengenali kecenderungannya
- Bekerjasamalah dengannya dan hindari konfrontasi
- Pemberontakan, perlawanan dan ketidaktaatan tidak boleh dibiarkan
- Tetap mengajarkan untuk minta maaf

Read More

Rabu, 18 Maret 2015

If Children Live With Hostility, They Learn to Fight

Dari permusuhan, anak belajar untuk bertengkar.
-Dari Permusuhan, Anak-Anak Belajar Untuk Bertengkar-

Hari-hari ini, anak-anak tidak terlindung dari tontonan kekerasan dan perkelahian di TV dan film. Permusuhan dapat terjadi di mana saja, bahkan di rumah. Beberapa anak tumbuh menjadi tegar, selalu siap menghadapi masalah dan bahkan mencoba mencari masalah. Sementara anak lain menjadi penakut sehingga mereka menghindari konflik.

Permusuhan di dalam keluarga mengajarkan anak-anak bahwa bertengkar adalah solusi. Anak-anak tumbuh dan berpikir bahwa hidup adalah peperangan, bahwa mereka tidak akan diperlakukan adil tanpa pertengkaran atau  bahwa mereka harus bertengkar untuk dapat bertahan. Tentunya bukan ini yang kita inginkan dari anak-anak kita. Bagaimana kita mengatasi perbedaan mengajarkan kepada anak kita bagaimana menghadapi konflik.

Sebut saja Fran (4th) mengalami hari yang berat di sekolah. Dia tidak mendapat giliran menggunakan komputer dan ayahnya telat menjemputnya di sekolah sehingga dia harus sendirian menunggu di halaman sekolah. Saat mereka tiba di rumah, bunda tergesa-gesa menyiapkan makan siang. Semuanya lapar. Saat dia mengambil tasnya, tanpa sengaja dia menjatuhkan kotak makanannya sehingga semua isinya berantakan ke lantai.

Mudah untuk ditebak apa yang terjadi setelah itu. Bagaimana kita berespon tergantung pada kemampuan kita untuk mengatasi perasaan tidak sabar, tidak puas dan perasaan jengkel. Untungnya, sang bunda mampu mengatasi kejengkelannya.

Dia berikan sapu kepada Fran, "Tidak apa-apa, Sayang. Ayo bersihkan." Setelah beres menyiapkan meja makan, dia berlutut dan berkata pada Fran, "Kamu hampir bersihkan semuanya, sini biar Bunda bantu sisanya." Wajah Fran dipenuhi dengan senyum terimakasih.

Namun yang sering terjadi adalah sebaliknya. Setelah menjatuhkan kotak makanannya, Fran frustasi dan berteriak, "Aku benci kotak makanan ini! Aku benci sekolah!" Bunda berteriak, "Berantakan semua! Kamu kenapa sih nggak hati-hati?!" Atau bisa juga menyalahkan ayah, "Kenapa kamu nggak awasin Fran?! Kamu nggak liat aku sibuk?"

Anak belajar bagaimana mengatasi konflik dengan cara mengamati bagaimana cara kita mengatasi konflik. Anak-anak mempunyai hak untuk mengekspresikan kemarahannya. Tapi bukan berarti mereka punya hak untuk berbuat destruktif. Kita tetap harus menghormati dan menerima perasaan frustasi anak kita dengan batasan yang kita berikan.

Orangtua bisa mengijinkan anak untuk menyatakan perasaan mereka dengan menanyakannya. "Ya, mama tahu, kamu marah karena adik merusakkan mainanmu. Apa yang bisa membuat kamu merasa lebih baik?" Ini dapat membantu anak mengenali perasaannya dan menemukan cara bagaimana mengatasinya.

Bagaimana cara kita mengatasi perasaan tidak sabar dan kemarahan, jauh lebih powerful daripada kita mengajarkan mereka bagaimana caranya mengatasi kemarahan mereka. Tapi bukan berarti kita berpura-pura tidak marah, kita perlu jujur karena anak dapat merasakannya.

Di hari Sabtu pagi yang cerah, ibu dari Sam (9th)  sibuk merapikan rumahnya setelah seminggu penuh bekerja di luar rumah. Melihat ibunya melempar bantal sofa sekuat tenaga, Sam bertanya, "Ibu marah ya?"
Ibunya menarik nafas dan berkata, "Nggak Sayang, Nggak ada apa-apa kok."

Lalu Sam keluar untuk bermain, merasa bingung dan tidak tenang tapi tidak yakin dengan apa yang dia rasakan. Sebenarnya ibunya bisa dengan jujur mengatakan, "Ya, Ibu kesal. Ibu berharap kamu nggak membiarkan mainanmu berserakan di ruang tamu. Banyak hal yang harus Ibu kerjakan untuk berberes selain membereskan mainanmu. Bisakah kamu membereskan mainanmu sekarang?" Nah, dengan ini Sam tahu bahwa perkiraan dia tepat, bahwa ibu marah.

Anak-anak juga perlu belajar bahwa orangtuanya bisa saja tidak sependapat dan setelah itu tetap dapat mengatasi perbedaan di antara mereka. Carli (7th) bangun tengah malam dan mendengar orangtuanya marah satu sama lain. Dia takut dan masuk lagi ke kamarnya dan akhirnya jatuh tertidur kembali. Paginya, sadar bahwa Carli mendengar pertengkaran mereka, ayah menjelaskan, "Ibu dan ayah mendiskusikan sesuatu dan kami beda pendapat. Sori, karena kamu jadi terbangun."

Penting buat Carli tahu bahwa orangtuanya memang berdebat tapi semuanya baik-baik saja. Ayah bisa saja menjelaskan, "Ibu dan Ayah beda pendapat tapi kami sudah menemukan jalan tengah." Ini membuat Carli mengerti bahwa setiap orang bisa marah dan bertengkar sesekali, tapi bukan berarti mereka tidak saling mengasihi.

Dengan bersikap jujur terhadap anak tentang kesulitan yang dalam mencapai kesepakatan, kita dapat menggunakan hal tersebut menjadi kesempatan untuk mengajarkan nilai yang berharga tentang perlunya menerima perbedaan.

Kita tidak harus menjadi contoh yang sempurna bagi anak-anak kita. Ada saat dimana kita lepas kontrol. Kalau kita dapat mengakui dan memperbaiki kesalahan kita dan meminta maaf atas sikap kita, anak kita akan belajar hal penting - bahwa ayah dan ibu juga terus menerus berusaha untuk mengatasi kemarahan mereka. Hal ini menunjukkan pada anak bahwa kemarahan bukanlah musuh, tapi kemarahan adalah energi yang dapat dikendalikan secara kreatif. Apa yang kita lakukan dengan energi tersebut adalah penting untuk diri kita dan untuk keluarga kita.
Read More

Minggu, 08 Maret 2015

Mengenal Si Ulat Sutera di Rumah Sutera

Satu lagi tempat yang menarik untuk membawa anak-anak mengenal keajaiban alam. Di tempat ini, mereka bisa belajar, bukan sekedar teori tapi mereka bisa melihat langsung, live!

Ya, El dan Zo mendapat kesempatan untuk pergi ke Rumah Sutera bersama teman-temannya. Sungguh merupakan pengalaman baru buat kami. Kami takjub betapa air liur dari ulat yang tidak berdaya dan menggemaskan bisa menghasilkan keindahan yang sangat berharga bagi manusia.

Rumah Sutera terletak di daerah Ciapus, Bogor. Rindang dan sejuk, itu yang aku rasakan begitu aku tiba di sana. Untuk rombongan, mereka menyediakan paket lengkap tour sutera, makan siang dan snack hanya dipatok harga Rp.60ribu per orang.
Kami mengambil paket makan siang prasmanan -sangat rekomended- karena makanan yang mereka sediakan sangat lezat dan unik. Mereka menyajikan makanan pokok ulat sutera, yaitu daun murbai. Enaaak sekali urap daun murbai,, daun murbai rebus... pantas aja ulat sutera doyan banget yah. Sayangnya biarpun sudah makan daun murbai tidak mengubah air liur manusia jadi sutera hahaha...

Kami tiba di sana pk.9.30 pagi, disambut oleh bapak pemilik Rumah Sutera, dia sendiri yang menjelaskan kepada kami tentang metamorfosa dari ulat sutera.
Dari telur menjadi ulat putih yang gendut, lembut dan menggemaskan. Di umurnya yang ke 30 hari, sang ulat berubah menjadi kokon atau kepompong.
Kokon yang didiamkan akan menjadi kupu-kupu. Tapi mereka memproses kokon itu sebelum menjadi kupu-kupu.
Pertama-tama, untuk mengeluarkan benang sutera, kokon harus direbus terlebih dahulu.
Kokon yang sudah direbus, ditarik benangnya dan dipintal menjadi gulungan benang. Warna benang berbeda tergantung dari mana ulat sutera tersebut berasal.
Gulungan-gulungan benang itu pada akhirnya dipintal menjadi kain.

Setelah dijelaskan proses metamorfosa dari ulat menjadi sutra, kita dapat melihat proses tersebut secara detail di sana.

Diawali dengan menjenguk kandang ulat sutera dimana ribuan ulat sutera sedang sibuk makan daun murbai. Kita diperbolehkan menyentuh ulat sutera setelah kita mencuci tangan menggunakan kaporit supaya steril.
Kandang dimana para ulat sutera asik makan daun murbai
Ulat sutera berubah menjadi kokon dengan cara mengeluarkan air liurnya dan membungkus dirinya dengan air liur tersebut. Yang lucu, ulat-ulat tersebut bisa masuk sendiri ke dalam kotak di bawah ini saat mereka merasa siap menjadi kokon.

Ulat sutera menjadi kokon

Dilanjutkan dengan melihat proses perebusan dan pemintalan benang sutera hingga menenun benang menjadi kain sutra.
Proses memintal kokon menjadi benang sutera

Benang sutera dipintal menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Para pengunjung dewasa maupun anak-anak bisa mencoba menenun dengan menggunakan ATBM.

Taraaa! Ini adalah benang sutera

Setelah selesai terkagum-kagum dengan semua proses pembuatan kain sutera, kami dibawa ke galeri penjualan kain sutera. Cantik sekali kain sutera yang dijual di sana, mesti menahan diri supaya masih ada ongkos untuk pulang ke Jakarta hahaha.... Selain kain, ada juga souvenir yang terbuat dari kokon asli. Naaah kalo souvenir kokon sangat cocok untuk oleh-oleh lucu, unik daaaan.... cuma goceng.

Menarik bukan? Katanya Rumah Sutera ini lebih bagus daripada yang di China loh... Nah siapa bilang di luar negeri lebih bagus daripada yang di dalam negeri. Cek deh web nya di www.rumahsuteraalam.com.



Asiiik, boleh coba menenun dengan ATBM.Kapan lagi kalo ga disini.


Menikmati keajaiban metamorfosis ulat menjadi kain sutera, mengingatkanku bahwa kalau ulat sutera yang kecil diciptakan untuk tujuan yang begitu berharga, terlebih kita manusia....







Read More

Rabu, 04 Februari 2015

Kidspace, Tempat Main Asik

Pengen ajak anak-anak jalan-jalan, tapi bosan rasanya kalo ke mall melulu. Pas kebetulan aku dapet voucher trial fun science di Kidspace. Setelah bersusah payah mengatur jadwal, akhirnya aku ajak Lio dan Zo ke Kidspace.
Ini adalah pertama kalinya kami mendengar tentang Kidspace dan kami belum tahu di Pondok Indah sebelah mana lokasinya. Bermodal GPS di hape, kami mencari-cari alamat Kidspace di daerah Arteri Pondok Indah. Oooh, ternyata gampang banget, letaknya ga jauh dengan Mall Pondok Indah.

Masuk ke dalam ruangan, kami disambut para petugas di meja registrasi dan ada permainan climber besar di belakangnya. Aku pandang ke sekeliling.... hmm ga terlalu besar... tapi menarik. Berwarna warni khas anak-anak, hawa sejuk ac menyelimuti ruangan itu. Ada beberapa tempat duduk untuk para pendamping menunggu anak-anak yang bermain. Nyaman.
Karena tujuan utama kami datang ke sini adalah untuk trial kelas science, maka kami menuju ruang science di lantai 2.  Mereka mengajarkan science dengan cara yang sangat sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Hari itu anak-anak belajar tentang gerakan aerodinamis. Menyenangkan.
Anak-anak asik main kolam bola dan imagination blocks.

Setelah science class, kami turun lagi ke bawah untuk main di playdium. Playdium ini diperuntukan bagi anak 6 bulan - 12 tahun. Cukup dengan membayar Rp.100.000/anak, kami bisa main sepuasnya di sini. Orangtua juga boleh ikut menemani main loh. Oyah harga ini adalah harga weekend, saat weekdays hanya Rp.75.000/anak seharian.

Yang pertama mereka main di aquadium, sangat menyenangkan. Biarpun tidak luas, tetapi anak-anak sangat enjoy main di sana. Mereka explore tentang sifat-sifat air dengan cara yang sangat fun.
Oyah, untuk yang tidak membawa baju ganti, jangan kuatir. Mereka menyediakan semacam coat kecil untuk melindungi baju anak-anak supaya tidak basah.

Lalu mereka naik ke climber besar berwarna-warni. Lio dan Zo sangat menyukainya, mereka adu cepat dengan papa naik ke atas. Dan tentunya yang paling akhir adalah papa hahaha... karena badannya paling gede. 
Nyantai di 'puncak' Kidspace
Setelah itu mereka main pasir di sandium. Di sini mereka bisa main pasir tanpa menjadi kotor. Dilanjutkan ke kolam bola mungil dengan ember untuk menimba bola.

Setelah kolam bola, mereka beralih ke permainan imagination blocks, yaitu berbagai bentuk blocks yang sangat besar dan dapat dirakit. Ini permainan yang merangsang kreatifitas dan imajinasi anak-anak.
Imagination Blocks

Tanpa terasa, sudah 3 jam kita menghabiskan waktu di Playdium. Perut sudah memanggil-manggil minta makan. Di lantai 2 ada cafe mungil dengan harga yang terjangkau. Porsinya sih cocok untuk anak-anak dengan rasa yang... nyam... enak. Kami mencoba macaroni and cheese, mashed potato, duck fried rice. Semuanya enak bangetttt. Ditambah dengan minum coklat dinginnya, benar-benar lezat.

Jenis makanan dan harga di cafe Delidium di Kidspace


Dan akhirnya kita harus pulang karena jam 5 sore Kidspace ditutup untuk umum. Sebenarnya anak-anak masih belum rela untuk pulang. Mereka sangat menikmati hari itu.
Baru aja keluar dari pintu, Zo sudah menanyakan, kapan kita akan balik lagi ke Kidspace. Hahaha...

Oyah, selain yang aku sebutin di atas, masih ada lagi kids gym, dan ruangan dengan mainan khusus untuk baby.
Lengkap deh, boleh dicoba untuk menikmati waktu bersama anak-anak tercinta.






Read More

Minggu, 25 Januari 2015

Ayam Putih




Ayam putih atau ayam jahe
Ayam putih atau biasa juga disebut ayam jahe adalah jenis masakan rumahan kesukaan kami sekeluarga. Khususnya saat anak-anak sedang kurang fit, mereka suka sekali makan kuah ayam yang hangat ini. 

Dan aku juga sangat senang memasaknya karena super gampang dan ga repot. Ya, bukankah biasanya saat anak sakit, kita jadi lebih repot. Dengan masak ayam putih ini, waktuku ga harus banyak tersita di dapur dan jadi bisa lebih banyak menemani anak. Bawang merah dan putih cukup dibelah dua, benar-benar mempersingkat waktu memasak  hahaha...

Masakan ini sebenernya adalah masakan turun temurun yang dihidangkan oleh mami dan omaku sejak aku masih kecil dulu. Kuahnya yang segar, bening dan hangat karena menggunakan jahe iris membuat nyaman tubuhku saat aku menyeruputnya dari sendok.
Hmmm... aroma masakan china kuno terbayang di hadapanku...


Bahan ayam putih, sangat sederhana

Bahan-bahan yang digunakan sangatlah sederhana :

1 ekor ayam (dipotong kecil, kira-kira jadi 12 bagian)
4 ruas jahe (kupas dan iris tipis)
10 butir bawang merah (belah 2)
5 butir bawang putih (belah 2)
garam
Air secukupnya


Cara memasak :

Siapkan air di dalam panci, masukkan bawang merah, bawang putih dan jahe. Didihkan.
Lalu masukkan ayam dan garam, besarkan api sampai mendidih.
Begitu kuah mendidih, tutup pancinya dan kemudian kecilkan apinya.
Tunggu sampai empuk, cicipi apakah sudah pas rasa asinnya.
Hidangkan.


Mudah dan simple sekali kan...

Selamat mencoba.
Read More

Sabtu, 10 Januari 2015

Ngintip ke Dalam Kost ...

Hmmm... seperti yang aku pernah bilang, selain seorang housewife, aku adalah seorang ibu kost yang baik hati dan tidak galak hehehe....Hari ini aku mau bercerita tentang rumah kost dimana aku bertahta sebagai seorang ibu kost di dalamnya.
Rumah kost ini berada di daerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dimana di sekitarnya bertebaran kampus dan perkantoran.  Jadi, penghuni kostku sangat bervariasi, dari mahasiswa/mahasiswi, karyawan, dosen, bahkan pramugari. Pramugari? Yah pramugari dari Susi Air... wow.
Oyah, ada juga suami istri, tentunya dengan syarat mereka menunjukkan bukti bahwa mereka benar-benar pasangan resmi, supaya kost tetap bersih sih sih.... :) dan nyaman untuk semua pihak.
Tinggal di dalam rumah kost dengan banyak orang dari berbagai penjuru Indonesia - bahkan beberapa kali expatriat singgah untuk ngekost,  tentunya membuat aku belajar tentang budaya dari masing-masing orang, karena seringkali aku bertukar cerita  dengan mereka. Beberapa kisah dari para penghuni kost sungguh menarik...
Banyak orangtua dari mahasiswa/mahasiswi di kost yang menitipkan anaknya pada kami, itu adalah suatu kehormatan sekaligus tanggung jawab yang cukup besar buatku.

Ayo kita ngintip suasana di dlm kamar kost...

Kamar kost lengkap dengan toilet pribadi.

Nyaman dengan AC, perabotan lengkap, kamar mandi pribadi, air panas, wifi, termasuk cuci gosok dan juga dan jendela di setiap kamarnya. Para penghuni cukup bawa badan dan kebutuhan seperlunya. Bahkan si ibu kost betah untuk berlama-lama di dalam kamar kost yang tak berpenghuni hihihi... Nyaman sih.

Tempat anak-anak kos nonton TV.
Nah gambar di atas ini adalah ruang tempat anak-anak kost nonton TV, atau kadang saat musim ujian mereka belajar bersama di sini.

Oyah, untuk masalah lokasi, rumah kost ini letaknya cukup strategis - dilewati metromini dan cuma berjarak 5 menit jalan kaki ke halte busway, 3 menit ke indomart, 5 menit ke rumah sakit. Eh kok lama-lama jadi kaya review hotel di agoda yah... Yah tapi itulah kondisi yang sebenarnya.

Demikian liputan rumah kost dari sang ibu kost.
Read More

Senin, 05 Januari 2015

If Children Live with Criticism, They Learn to Condemn

-Dengan Kritik, Anak Belajar Untuk Menyalahkan Keadaan-
Banyak dikritik, anak jadi belajar mencari kesalahan.

Anak-anak seperti spons, mereka menyerap apapun yang kita lakukan. Kalau kita sering mengkritik mereka, mengeluh tentang orang lain dan kondisi sekitar kita, kita sedang mengajarkan kepada mereka untuk mencari kesalahan orang lain dan dirinya sendiri daripada mencari apa yang positif.

Kritik bisa dalam bentuk kalimat, nada suara, sikap, bahkan lewat lirikan mata. Parents bisa bilang, "Waktunya pergi" dan mereka pergi. Tapi ada parents lain yang tidak sabaran, ngomong hal yang sama dengan cara yang berbeda. "Kamu ini lama amat sih." Kedua cara itu belum tentu efektif, tapi anak yang mendengarnya akan merasa berbeda. Ana bisa merasa bahwa dirinya tidak cukup baik.

Tentunya secara tidak sengaja kita pernah melemparkan kritik, tapi ada orang-orang tertentu yang terbiasa berfokus kepada kesalahan orang lain. Kritik yang terlalu sering diterima akan menyebabkan dampak yang panjang, menciptakan suasana penghakiman yang negatif dalam kehidupan keluarga. Sebagai orangtua, kita punya pilihan - kita bisa menciptakan suasana emosional yang penuh kritik dan saling menyalahkan, atau suasana yang saling mendukung satu sama lain.

Di saat kondisi memanas
Alin (6th) berdiri di dapur merangkai bunga yang baru dia petik dalam sebuah pot plastik yang terisi dengan air. Tiba-tiba, pot itu jatuh sehingga air, daun dan bunga berserakan. Alin berdiri, bengong dan basah. Mamanya tiba di sana dan berkata dengan kesal, "Ya ampuuun, kok kamu ceroboh amat sih?".

Kita sering mengucapkan kata-kata itu. Kita bereaksi tanpa pikir panjang. Kalimat terlontar begitu saja dari mulut kita dengan cepatnya, sampai kita sendiri kaget waktu mendengarnya. Mungkin saat itu kita sedang lelah. Mungkin juga kita sedang memikirkan banyak hal.

Tidak pernah terlalu terlambat untuk mengubah nada bicara kita, dan mencegah hal-hal yang merusak rasa berharga seorang anak. Jika saja mama Alin berhenti, menenangkan diri dan minta maaf karena sudah membentak, semuanya akan menjadi lebih baik. Alin mungkin merasa buruk terhadap kejadian itu, tapi ia tidak merasa buruk terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya kalau mama si Alin terus mengkritik, Alin mungkin mulai melihat dirinya sebagai orang yang ceroboh dan tidak berguna.

Yah, memang ada saat-saat kita merasa sangat jengkel. Kebanyakan kita harus bekerja keras untuk mengerti dan mengendalikan reaksi emosi kita sendiri. Akan sangat membantu kalau kita punya respon seperti, "Kok bisa jatuh Nak?". Kalimat tersebut memberi penekanan terhadap hal yang terjadi, bukan terhadap anak kita. Bukan hanya menghindarkan perasaan gagal terhadap anak, tapi juga memberi mereka ruang untuk belajar melakukan yang lebih baik. Dengan pertanyaan, kita mengajarkan anak kita untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.

Beberapa kasus bisa dicegah jika kita mau meluangkan waktu untuk merencanakan dan memberi batasan sejak awal. Dalam banyak hal, anak selalu ingin menyenangkan orangtuanya, dan kita bisa menjelaskan apa yang menjadi keinginan kita. Penjelasan kita harus spesifik dan jelas untuk anak sesuai dengan umur mereka.

Di suatu hari hujan, Bill bilang ke mamanya bahwa dia ingin main play dough bersama temannya. Saat itu mamanya sedang sibuk dan tergoda untuk bilang saja 'ok' dan membiarkan dua anak itu bermain. Tapi si mama berdiri, mengambil plastik bekas tirai kamar mandi yang memang sudah tidak terpakai. Meletakkannya di atas lantai dan berkata, "Duduk di tengah sini dan kamu bisa main play dough di atas plastik ini."

Sementara kedua anak itu asik main play dough di atas plastik, Bill bertanya, "Mam, boleh pinjem pisau dapur?"
"Pisau dapur bukan untuk main, kenapa ga kamu ambil pisau mainanmu?" Jawab mamanya.
"Oke. Kalau pinjam sendok kayu boleh?" Bill bertanya lagi.
"Tentu. Dan ingat untuk membereskan setelah selesai main ya." Kata mama sambil mengambil sendok kayu.

Beberapa menit yang diluangkan di awal, seakan-akan adalah sebuah ganngguan untuk si mama yang sedang sibuk, tapi hal itu menyelamatkannya dari play dough yang berceceran di lantai yang lengket dan membebaskannya dari kritikan yang mungkin dia lemparkan untuk anaknya.

Cara kita mengatakan sesuatu
Seringkali tujuan kita mengkritik anak kita supaya mereka bisa menjadi lebih baik. Mungkin ini cara yang dipakai orangtua kita terhadap kita dulu. Atau mungkin kita mengkritik mereka karena kita stress atau lelah. Tapi anak-anak tidak merasakan kritikan sebagai dorongan untuk menjadi lebih baik. Untuk seorang anak, kiritik diterima sebagai serangan terhadap pribadinya dan justru membuat anak jadi tidak kooperatif. Anak-anak kecil susah mengerti bahwa tindakan mereka yang tidak diterima, bukan diri mereka.

Kita masih tetap bisa menyampaikan ke anak kita bahwa kita tidak suka tindakan mereka tanpa menyerang pribadi anak kita. Apapun yang terjadi, kita bisa katakan bahwa kita tetap sayang dia, walaupun dia melakukan kesalahan.

Kritik berfokus pada kesulitan, kekurangan dan kekecewaan, bukan solusi. Tentunya kita tidak mau anak kita melihat dunia dengan perspektif yang negatif, atau berpikir bahwa cara mereka meresponi masalah adalah dengan mengeluh.

Mengkritik pasangan kita juga membuat anak belajar memihak salah satu orangtua, menempatkan mereka pada masalah pernikahan. Mereka akan terluka dan bingung membagi kasihnya terhadap kedua orangtuanya. Begitu juga mengkritik kakek dan nenek dari anak-anak kita, menempatkan anak kita di posisi yang sulit. Kritik kita terhadap orangtua atau mertua, merusak hubungan istimewa anak-anak kita dengan kakek dan neneknya. Cepat atau lambat, anak-anak akan bisa melihat kesalahan-kesalahan dalam keluarga. Tidak perlu membebani mereka di saat mereka masih terlalu muda. Anak-anak perlu melihat orang-orang dewasa dalam keluarga mereka saling menghormati dalam perbuatan dan perkataan. Cara anak-anak belajar tentang hubungan dengan orang-orang yang mereka cintai nantinya adalah dengan mengamati interaksi kita dengan orang di sekitar kita.


Aku masih perlu baaanyak sekali belajar untuk mengendalikan diri mengubah kritikan menjadi kalimat yang positif. Bagaimana denganmu?
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© Elzoria Story, AllRightsReserved.

Blogger theme by Safetricks.com Designed by ScreenWritersArena