I write about values, jalan-jalan, anak-anak, fun learning and so on.

Senin, 14 September 2015

If Children Live With Fear, They Learn to be Apprehensive

Hidup Dalam Ketakutan, Anak-Anak Belajar untuk Kuatir

Hal yang menakutkan kadang-kadang menyenangkan, seperti nonton film horror, masuk ke rumah hantu, mendengarkan cerita hantu. Adrenalin naik, jantung berdebar tapi seru karena kita tahu bahwa sebenarnya kita aman. Tapi hidup dengan ketakutan yang nyata sangat menyiksa, apakah itu ancaman kekerasan fisik, kekerasan psikologis, ditinggalkan, bullying, ataupun monster di kolong ranjang. Hidup dengan ketakutan yang nyata hari demi hari meruntuhkan kepercayaan diri dan rasa aman anak.


Hal-hal yang mengerikan di malam hari
Banyak hal yang menakutkan untuk anak-anak sangat tidak masuk akal untuk orangtua mereka. Anak-anak bisa ketakutan karena mendengar langkah orang dewasa, anjing baru tetangga atau pohon tua di depan rumah. Apapun alasannya, saat anak merasa takut, perlu ditangani secara serius. Kita perlu melihat dari sisi dunia anak-anak. Kalimat-kalimat "Ah, nggak ada apa-apa kok," "Gitu aja kok takut," membuat anak merasa diremehkan dan membuat ketakutannya tetap berkembang tanpa kita tahu.

Bagaimana kita membedakan antara anak yang merasa ketakutan atau hanya mencari perhatian? Sulit. Kebanyakan orangtua terlalu kuatir dimanipulasi oleh anak. Padahal kebutuhan untuk diperhatikan sama pentingnya dengan kebutuhan untuk makan. Dan seringkali yang terjadi, anak merasakan keduanya, benar-benar takut dan butuh diperhatikan.

Sebut saja Adam, keluarganya baru saja pindah ke rumah baru, dia baru mulai masuk TK, dan adik bayinya baru saja lahir. Untuk orangtuanya, semua ini adalah suatu kebahagiaan, tapi tidak untuk Adam. Suatu malam Adam datang ke ayahnya, "Aku takut, temenin aku Yah," tangisnya.
Ayahnya bisa saja jawab, "Temenin kamu? Kenapa? Kamu sudah jadi kakak sekarang dan kamu ga perlu takut."
Tapi ayahnya mengerti. "Temenin kamu? Ok, sini ayah peluk dan kamu aman." Pengertian dan kedekatan sang ayah memberi jaminan yang Adam butuhkan untuk melalui momen sulit ini.


Ketakutan Kita Untuk Anak-Anak Kita
Anak menyerap kekuatiran orangtua tanpa kita sadari. Coba cek, seberapa sering kita mengucapkan kalimat "Aku takut...." atau "Aku kuatir kalau....". Kalau anak mendengar kalimat tersebut secara rutin, itu akan membentuk pola pikir mereka.

Sayangnya orangtua jaman sekarang punya ketakutan yang berlebihan. Kita menghadapi dilema untuk melindungi mereka dari bahaya tanpa membuat mereka jadi parno. Adalah tantangan untuk kita bagaimana memupuk kepercayaan diri mereka dan sekaligus melindungi mereka dari bahaya.

Ketakutan yang lain adalah kita tidak mau anak kita menderita seperti yang kita alami dulu di saat seusianya. Hal ini justru membuat kita bertindak kurang tepat. Ayah Carli melarang anaknya untuk ikut club basket, "Aku nggak bisa main basket waktu seumur Carli. Waktu itu aku ikut club dan selalu jadi yang terakhir, menderita sekali. Aku takut hal yang sama terjadi pada Carli."

Carli perlu diijinkan untuk mengeksplor kemampuannya sendiri tanpa beban dari memori ayahnya. Kita harus selalu ingat bahwa anak-anak berbeda dari kita, dan mereka punya hak untuk mengalami perjuangan mereka sendiri.


Ketakutan Sehari-hari
Anak-anak hidup di dunia yang berbeda dari orang dewasa dan mereka tidak selalu bisa menyampaikan apa yang mereka alami. Sangat mungkin kita tidak sadar hal apa yang menakuti mereka. Contohnya, banyak anak hidup dengan intimidasi teman di sekolah, tetangga, atau bahkan saudara kandungnya sendiri. Mungkin mereka dibully atau diancam. Anak-anak kecil mungkin tidak tahu bagaimana mengungkapkan ketakutan mereka, dan anak yang lebih besar mungkin merasa mereka harus bisa mengatasinya sendiri. Kita harus sediakan waktu kita untuk bertanya apa yang terjadi dalam hari-hari mereka.

Seorang ibu bertanya pada Andrew (5th), anaknya, "Apa yang terjadi di sekolah hari ini?" (Pertanyaan ini lebih baik daripada "Bagaimana sekolah hari ini?")
"Joe rebut truckku padahal aku duluan yang main."
"Trus?"
Andrew menundukkan kepala dan merengut, "Ngga papa. Aku ngga tau."
Di titik ini si ibu menyadari bahwa anaknya diintimidasi dan berusaha untuk menemukan jalan keluar. "Hmm km pasti kesel ya, Joe ambil truckmu. Menurut kamu, mestinya apa yang kamu lakukan?". Si ibu memberi kesempatan pada anaknya untuk memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan. Andrew menjawab, dia bisa rebut balik truknya, bilang ke guru, main dengan yang lain dan menjauh dari Joe. Bahkan ibunya tidak perlu ajarin apa yang harus dilakukan, Andrew bisa menemukan jawabannya sendiri.

Bagi kebanyakan anak kecil, menghadapi hal baru sangat menakutkan. Hari pertama sekolah, ke dokter gigi pertama kali, pertama kali naik pesawat. Kita dapat menolong anak-anak menghadapi hal ini dengan memberi dukungan. Menunjukkan kepercayaan kita terhadap anak adalah cara yang ampuh untuk mengajarkan mereka percaya terhadap dirinya sendiri.


Setiap Orang Bisa Takut
Sebagai orangtua, kita ingin kelihatan kuat untuk anak, kita ingin mereka merasa bahwa mereka bisa bersandar pada kita untuk membuat mereka merasa aman. Tapi kita juga kadang perlu punya keberanian untuk menyampaikan pada mereka bahwa kadang-kadang kita juga merasa takut. Anak-anak belajar bagaimana menghadapi ketakutan mereka saat mereka mengamati bagaimana kita mengatasi ketakutan kita. Biarkan mereka melihat bagaimana kita mencari dukungan dari pasangan, teman atau keluarga kita saat kita takut dan bagaimana kita juga menguatkan orang lain dalam ketakutan mereka. Saat kita mengakui perasaan kita dan menemukan solusinya, saat itu kita menjadi model untuk anak-anak kita saat mereka menghadapi masalah mereka.
Read More

Selasa, 08 September 2015

Main di Cafe Strawberry

Weekend kemaren kami ajak Lio dan Zo ikutan meeting. Selama 2 jam kami meeting, mereka menunggu di ruangan sebelah ruang meeting kami. Biarpun aku tau persis bahwa mereka bosan, tapi mereka berusaha untuk bersabar dan menahan diri. Setelah meeting selesai, ternyata ada teman lama yang ingin lanjut ngobrol dengan kami.

Hmmm senang pastinya bisa ngobrol dengan teman lama, bernostalgia. Tapi... bagaimana dengan Lio dan Zo yang sudah menunggu selama 2 jam? Tegakah kalo mereka masih harus menunggu obrolan kami lagi? Akhirnya kami putuskan untuk mencoba Cafe Strawberry di daerah Tanjung Duren. Cafe yang katanya banyak games di dalamnya.

Saat masuk ke cafe, kami disambut oleh seorang pria berjubah hitam. Sudut-sudut cafe dipenuhi dahan pohon dan tembok bermotif bata yang hampir runtuh, menciptakan suasana gothic sangat kental. Yang menarik, di bagian dalam pintu masuk, terdapat rak berisi berbagai jenis topi lucu yang digantung untuk dapat dipakai oleh pengunjung.

Suasana gothic, dengan berbagai jenis game board terpampang di atas.



Cafe Strawberry di bagian dalam.

Kami mencari tempat di sudut supaya kami bisa ngobrol dengan bebas. Pelayan menyodorkan menu yang sangat unik. Bentuk menunya seperti Monopoli board, dengan judul Menupoly hahaha... asli kreatip banget. Jenis menu yang ditawarkan cukup banyak dan harganya bersahabat. Terdapat pilihan menu yang jarang ada di tempat-tempat lain, ada nasi goreng strawberrry, spaghetty strawberry... dan ada minuman sejenis milkshake yang kalo makin lama didiemin makin keras dan jadi es krim. Aneh ya... dimana-mana es krim didiemin jadi meleleh, ini malah kebalikannya.

Menu makanan dan minuman ato mau main monopoli yak?

Setelah kami memilih pesanan makanan dan minuman, ternyata ada 1 menu lagi yang mereka berikan. Menu games! Ya menu games, ada berbagai macam game board yang bisa kita pinjam dan gratis loh. Wah Lio dan Zo semangat sekali untuk pilih game yang mereka mau.

Menu pilihan games



Tumpukan game boards di sudut ruangan.


Pesanan game datang cukup cepat, dan ada pelayan yang ajarin cara main game tersebut. Pastikan kalo mau ke sana sebelum perut benar-benar lapar ya, karena makanan datang agak lama.
Akhirnya pesananku datang, Nasi goreng bakar spesial, ditaro di pot tanaman hias hahaha.... lucu dan kreatif.

Chocolate Bailey dan Nasi Goreng Bakar Special


Tadinya kupikir cafe ini hanya menjual suasana dan games, makanan mereka belum tentu enak. Ternyataaaa aku salah, makanannya enak. Jus alpukatnya juga enak, dan minuman aneh yang bisa jadi  es krim juga enak. Wah kayanya bakal balik lagi deh nih.

Buat yang kepengen, bisa dicek link nya di strawberrycafe.webs.com,




Read More

Kamis, 09 Juli 2015

Kala Harus ke Luar Kota Tanpa Anak

Berlibur tanpa anak tetap bisa happy.
Mendapat kesempatan untuk menemani suami tugas ke Bali bikin aku happy sekaligus bingung, Happy karena memang aku cinta Bali, bingung karena untuk kali ini ga memungkinkan untuk ajak anak-anak. Rasanya hati terbagi dua, antara ikut suami dan tinggalin anak-anak di rumah bareng opa dan mbak, atau tetep di rumah bareng anak-anak. Ah dilema...

Rasanya ada yang kurang, pergi ke Bali tanpa anak-anak. Tapi kalo suami sudah ajak dan dia yakin anak-anak akan baik-baik saja di rumah... masa aku tetep ngotot mau temenin anak-anak di rumah?

Apalagi waktunya sangat mepet, cuma 2 hari sebelum keberangkatan baru suami memutuskan untuk mengajakku. Wah, waktu yang sangat singkat untuk persiapan hati, persiapan rumah, persiapan jadwal anak-anak, persiapan makanan anak-anak, packing... banyak sekali yang harus dipersiapkan.

Perasaanku campur aduk, antara perasaan pengen ikut dan rasa bersalah kalau aku harus meninggalkan anak-anak hanya untuk menemani suami. Aku ga punya kepentingan apapun di Bali selain menemani suami. Apakah aku egois?

Dalam kondisi ragu, iseng-iseng aku nanya ke Lio dan Zo untuk tau respon mereka, gimana kalo mama ikut ke Bali bareng papa? Mereka jawab dengan mantap, "OK mama, no problem. Berapa hari?"
"Lima hari" jawabku. "Ok," kata mereka.
Hah? Ga salah ya aku denger jawaban mereka? Jauh dari yang aku pikirkan, kupikir mereka bakal merengek untuk ikut, atau memintaku untuk tetap tinggal di rumah bareng mereka. Apalagi selama ini Zo sangat-sangat nempel kaya perangko.

Hmm dengan jawaban anak-anak yang mantap, ternyata masih belum cukup untuk memantapkan hatiku untuk ikut. Bimbang, masih berat rasanya berpisah dari anak-anak. Satu persatu kekuatiran mulai bermunculan dalam pikiranku, takut mereka berantem, takut mereka sedih, takut mereka jatuh, takut mereka kesetrum, siapa yang selimutin mereka saat mereka kedinginan tengah malam, dst, dst. Hahaha... parno yah.

Malam itu aku susah tidur karena dilema ini, paginya aku menelpon mamiku. Aku butuh masukan beliau. Ini jawabnya, "Kalo suami ajak, kamu ikut. Gimanapun suamimu lebih penting daripada anak-anak. Tiap hari kamu bisa ketemu anak-anak, tapi kesempatan liburan berdua dengan suami itu jarang sekali."
Ok, jawaban itu benar dan masuk akal menurutku. Dan membuatku lebih mantap memutuskan untuk ikut.

Setelah keputusanku untuk ikut, hari itu menjadi hari yang sangat sibuk. Waktuku hanya sehari untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Masih ditambah dengan berbagai jadwal meeting di hari itu.
Hari itu aku belanja ke supermarket untuk beli snack yang dibutuhkan, beli sarapan-sarapan praktis seperti cereal. Ke Gramedia untuk beli Activity Book untuk Zo kerjakan di rumah supaya ga kurang kerjaan. Membuat jadwal homeschool harian anak-anak selama aku ga ada di rumah. Ya, jadwal sangat penting buat kami karena Lio dan Zo 24 jam berada di rumah, mereka tidak pergi ke sekolah.

Untuk mengantisipasi rasa sendiri mereka, snack-snack yang kubeli, aku bungkus jadi 5 bungkusan. Setiap hari mereka boleh buka 1 bungkus. Dan hanya boleh dibuka setelah mereka selesai belajar dan mengerjakan workbook yang saya tugaskan. Bungkusan-bungkusan ini membuat mereka happy karena ada sesuatu yang mereka tunggu-tunggu setiap hari.

Di hari-hari biasanya, mereka bisa nonton film dan main games hanya saat weekend. Tapi untuk saat aku pergi, aku ijinin mereka selang seling sehari main games, sehari nonton film. Main games 30menit/hari dengan syarat tanpa buka internet.

Untuk antisipasi pertengkaran antara mereka, aku bilang berulang-ulang ke El dan Zo bahwa mereka adalah satu tim, jadi kalian harus saling dukung satu sama lain. Pikirkan kepentingan orang lain lebih daripada kepentinganmu sendiri. Aku minta El untuk jaga Zo, dan aku minta Zo untuk hormati El, karena El yang akan jaga dia.

Akhirnya hari keberangkatan tiba, aku berangkat dari rumah pukul 6 pagi. El dan Zo sudah pesan dari malam sebelumnya untuk bangunin mereka sebelum aku berangkat. Pagi itu mereka antar kami sampai ke pintu gerbang dengan ciuman dan tanpa tangisan. Malah mereka excited dengan kado dan ijin nonton dan games setiap hari.

Hahaha, aku pergi dengan tenang karena aku tau mereka happy.
Yeeeaaay Baliiii, here I come....!
Read More

Rabu, 10 Juni 2015

Yuk, Mengenal Uang Lebih Dekat!

Uang tahun 1921 senilai 30 Gulden
Museum....
Saat terngiang kata museum di telinga, yang terlintas di benakku adalah satu tempat kuno yang agak suram dan lengang.
Saat teman-teman bersepakat membawa anak-anak kami mengunjungi Museum Bank Indonesia, aku sudah mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam satu bangunan tua yang biasanya agak membosankan.
Memasuki area parkir Museum Bank Indonesia yang terletak di bagian belakang gedung, saya melihat bangunan museum yang cukup megah. Biarpun bangunannya tua, tapi dibalut cat putih yang nampak baru.

Ok, sebelum perjalanan masuk ke dalam museum dimulai, sebagian besar dari kami ngantri dulu ke toilet. Cukup kaget juga melihat toilet museum sekelas toilet di mall. Padahal, sekali lagi aku sudah mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam toilet kuno yang luas dengan bak mandi segede gajah.
Hmmm... kok malah jadi ngomongin toilet yah hehehe. Tapi sungguh, aku ga sangka bahwa toiletnya akan semodern ini.

Masuk ke pintu utama, ada semacam meja resepsionis dengan petugas yang menahan semua makanan dan minuman yang kami bawa. Jadi, pastikan perut kenyang sebelum masuk ke museum ini yah.
Saat itu, kami masuk ke museum itu free, tapi mulai bulan Mei 2015 mereka mengenakan biaya Rp.5000/orang karena banyak anak sekitar main-main dan remaja yang memakai museum itu untuk kegiatan berpacaran ria (plis deh, pacaran di museum...).

Karena kami datang sebagai rombongan, maka begitu masuk kami langsung diajak ke studio untuk nonton film pendek tentang proses produksi uang sampai dengan proses uang beredar di bank-bank dan di masyarakat. Film yang sangat bagus menurutku, mengedukasi tapi tidak membosankan.

Guide menggigiring kami masuk ke ruangan selanjutnya, ada kapal dagang VOC yang menggambarkan proses barter sebelum ada uang sampai bagaimana uang mulai tercipta.
Dilanjutkan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah di Indonesia tentang keuangan dari jaman ke jaman. Lalu ditunjukkan ruangan dengan puluhan emas batangan gede, yang merupakan imitasi dari cadangan emas yang ada di BI.

Ini bukan kitkat raksasa yah, ini emas.
Cadangan emas di Bank Indonesia.
Ada satu ruang dengan pintu besi tebal, di dalamnya tertata rapi uang-uang Indonesia, dari uang koin sampai uang kertas di dalam lemari-lemari kaca. Dalam ruang ini tidak diperbolehkan mengambil foto dengan menggunakan blitz, karena blitz bisa merusak uang-uang kuno yang dipajang.

Uang BI tahun 1964 senilai 10 Sen


Lalu kami ke ruangan meeting yang sangat besar, di sana terdapat barang-barang kuno yang sudah berjasa bagi kegiatan operasional BI. Yang paling menarik buatku, ada jam bersejarah yang hanya ada satu di dunia. Jam bandul tersebut tertanam di dalam dinding dan merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina untuk De Javasche Bank (Bank Indonesia) pada peringatan 100 tahunnya.

Jam bandul buatan Belanda th 1928
hadiah peringatan 100th De Javasche Bank
dari Ratu Wilhelmina.

Pesawat telepon untuk kegiatan operasional Bank Indonesia


Mesin Tik Underwood Elliott Fisher produksi tahun 1950an.
Mesin tik berdesain unik ini digunakan untuk
mengetik jurnal efek-efek.


Kursi meetingnya cantik ya.

Bukan seperti bayangan saya sebelumnya ternyata museum ini sangat mewah dan setiap ruangannya sejuk berAC. Saya terpesona dengan kemewahan dan keanggunan di dalamnya. Semuanya tertata apik dan rapi. Jadi tau deh, kenapa banyak dimasukin anak-anak sekitar untuk ngadem dan bahkan untuk pacaran. Nyaman berada di dalam museum ini.

Ayo boleh dicoba untuk datang ke museum ini, untuk belajar yah bukan untuk pacaran. Hahaha...
Sangat membuka wawasan yang baru tentang uang dan bank. Yuk, ke sana rame-rame.











Read More

Kamis, 14 Mei 2015

Anakku Strongwill?

Pernahkah ngerasa gregetan dan kesel karena tingkah laku si kecil yang makin dilarang malah makin ngotot? Maunya lakuin segala sesuatu dengan caranya sendiri?

Jangan  panik, bisa jadi anak kita adalah anak strongwill.

Strongwill berbeda dengan ketidaktaatan. Anak yang tidak taat harus dikoreksi atau didisiplin, tapi anak strongwill, mungkin orangtua yang perlu mengubah cara pendekatannya.
Anak strongwill tidak suka didikte secara detail saat melakukan sesuatu, dia punya caranya sendiri. Kreatif kan?

Coba cek 18 ciri di bawah ini, apakah anak strongwill (atau mungkin pasangan, bahkan diri kita sendiri adalah strongwill?)

1.  Mengabaikan kata 'tidak', 'jangan', 'tidak bisa'.
2.  Berargumen terus hanya untuk tahu kapan papa mamanya menyerah.
3.  Cepat dalam berjalan, bertindak dan makan.
4.  Tidak takut mencoba hal baru.
5.  Cari masalah saat merasa bosan atau lelah.
6.  Kreatifitas tinggi (selalu menemukan cara untuk mencapai tujuannya).
7.  Suka membuat aturan sendiri.
8.  Mengubah masalah kecil menjadi kontroversial.
9.  Bertindak bukan karena keharusan tapi karena kemauan.
10. Menolak untuk taat mentah-mentah, selalu bertanya 'kenapa?'
11. Bisa menganggap permintaan kecil sebagai ultimatum yang menyerang.
12. Sulit untuk minta maaf tapi selalu berusaha untuk memperbaiki.
13. Tidak sabar terhadap istilah lambat. Maunya segera.
14. Suka mengatur orang lain.
15. Mau mendapat yang terbaik.
16. Berjuang melakukan dengan caranya sendiri.
17. Menolak melakukan apa yang dia tidak mau.
18. Peka dan detail terhadap lingkungan.

Jika lebih dari 9 ciri di atas terdapat pada anak kita, berarti dia termasuk strongwill child.
Semakin banyak poin yang di dapat berarti semakin strongwill anak kita.

Anak strongwill perlu diberi ruang untuk pegang kontrol atas setiap perintah. Memegang kontrol adalah salah satu kebutuhannya. Misalnya, kita ingin memerintahkan dia untuk makan, dia tetap perlu diberi pilihan sebagai bentuk kontrol yang menjadi bagian si anak.

Contoh : "Kakak, makan sekarang ya. Mau pake piring warna kuning atau warna merah?"
Nah dia merasa dia punya bagian untuk mengatur sehingga hal ini memperkecil kemungkinan konflik. Toh hasil akhirnya sesuai dengan yang kita mau : makan sekarang.

Kelemahan anak strongwill :

1. Susah diatur
2. Keras kepala
3. Sarkastik
4. Kurang timbang rasa
5. Meremehkan orang
6. Suka mengatur orang lain.


Kekuatan anak strongwill :
1. Teguh pada pendirian
2. Mandiri
3. Percaya diri
4. Kreatif untuk dapat mencapai tujuannya
5. Semangat tinggi dan tegar
6. Berjiwa pemimpin dan cerdas
7. Bisa berubah jika dia yakin hal itu benar
8. Berkomitmen tinggi dan bertanggung jawab

Prinsip orangtua dalam menghadapi anak strongwill :
- Mengenali kecenderungannya
- Bekerjasamalah dengannya dan hindari konfrontasi
- Pemberontakan, perlawanan dan ketidaktaatan tidak boleh dibiarkan
- Tetap mengajarkan untuk minta maaf

Read More

Rabu, 18 Maret 2015

If Children Live With Hostility, They Learn to Fight

Dari permusuhan, anak belajar untuk bertengkar.
-Dari Permusuhan, Anak-Anak Belajar Untuk Bertengkar-

Hari-hari ini, anak-anak tidak terlindung dari tontonan kekerasan dan perkelahian di TV dan film. Permusuhan dapat terjadi di mana saja, bahkan di rumah. Beberapa anak tumbuh menjadi tegar, selalu siap menghadapi masalah dan bahkan mencoba mencari masalah. Sementara anak lain menjadi penakut sehingga mereka menghindari konflik.

Permusuhan di dalam keluarga mengajarkan anak-anak bahwa bertengkar adalah solusi. Anak-anak tumbuh dan berpikir bahwa hidup adalah peperangan, bahwa mereka tidak akan diperlakukan adil tanpa pertengkaran atau  bahwa mereka harus bertengkar untuk dapat bertahan. Tentunya bukan ini yang kita inginkan dari anak-anak kita. Bagaimana kita mengatasi perbedaan mengajarkan kepada anak kita bagaimana menghadapi konflik.

Sebut saja Fran (4th) mengalami hari yang berat di sekolah. Dia tidak mendapat giliran menggunakan komputer dan ayahnya telat menjemputnya di sekolah sehingga dia harus sendirian menunggu di halaman sekolah. Saat mereka tiba di rumah, bunda tergesa-gesa menyiapkan makan siang. Semuanya lapar. Saat dia mengambil tasnya, tanpa sengaja dia menjatuhkan kotak makanannya sehingga semua isinya berantakan ke lantai.

Mudah untuk ditebak apa yang terjadi setelah itu. Bagaimana kita berespon tergantung pada kemampuan kita untuk mengatasi perasaan tidak sabar, tidak puas dan perasaan jengkel. Untungnya, sang bunda mampu mengatasi kejengkelannya.

Dia berikan sapu kepada Fran, "Tidak apa-apa, Sayang. Ayo bersihkan." Setelah beres menyiapkan meja makan, dia berlutut dan berkata pada Fran, "Kamu hampir bersihkan semuanya, sini biar Bunda bantu sisanya." Wajah Fran dipenuhi dengan senyum terimakasih.

Namun yang sering terjadi adalah sebaliknya. Setelah menjatuhkan kotak makanannya, Fran frustasi dan berteriak, "Aku benci kotak makanan ini! Aku benci sekolah!" Bunda berteriak, "Berantakan semua! Kamu kenapa sih nggak hati-hati?!" Atau bisa juga menyalahkan ayah, "Kenapa kamu nggak awasin Fran?! Kamu nggak liat aku sibuk?"

Anak belajar bagaimana mengatasi konflik dengan cara mengamati bagaimana cara kita mengatasi konflik. Anak-anak mempunyai hak untuk mengekspresikan kemarahannya. Tapi bukan berarti mereka punya hak untuk berbuat destruktif. Kita tetap harus menghormati dan menerima perasaan frustasi anak kita dengan batasan yang kita berikan.

Orangtua bisa mengijinkan anak untuk menyatakan perasaan mereka dengan menanyakannya. "Ya, mama tahu, kamu marah karena adik merusakkan mainanmu. Apa yang bisa membuat kamu merasa lebih baik?" Ini dapat membantu anak mengenali perasaannya dan menemukan cara bagaimana mengatasinya.

Bagaimana cara kita mengatasi perasaan tidak sabar dan kemarahan, jauh lebih powerful daripada kita mengajarkan mereka bagaimana caranya mengatasi kemarahan mereka. Tapi bukan berarti kita berpura-pura tidak marah, kita perlu jujur karena anak dapat merasakannya.

Di hari Sabtu pagi yang cerah, ibu dari Sam (9th)  sibuk merapikan rumahnya setelah seminggu penuh bekerja di luar rumah. Melihat ibunya melempar bantal sofa sekuat tenaga, Sam bertanya, "Ibu marah ya?"
Ibunya menarik nafas dan berkata, "Nggak Sayang, Nggak ada apa-apa kok."

Lalu Sam keluar untuk bermain, merasa bingung dan tidak tenang tapi tidak yakin dengan apa yang dia rasakan. Sebenarnya ibunya bisa dengan jujur mengatakan, "Ya, Ibu kesal. Ibu berharap kamu nggak membiarkan mainanmu berserakan di ruang tamu. Banyak hal yang harus Ibu kerjakan untuk berberes selain membereskan mainanmu. Bisakah kamu membereskan mainanmu sekarang?" Nah, dengan ini Sam tahu bahwa perkiraan dia tepat, bahwa ibu marah.

Anak-anak juga perlu belajar bahwa orangtuanya bisa saja tidak sependapat dan setelah itu tetap dapat mengatasi perbedaan di antara mereka. Carli (7th) bangun tengah malam dan mendengar orangtuanya marah satu sama lain. Dia takut dan masuk lagi ke kamarnya dan akhirnya jatuh tertidur kembali. Paginya, sadar bahwa Carli mendengar pertengkaran mereka, ayah menjelaskan, "Ibu dan ayah mendiskusikan sesuatu dan kami beda pendapat. Sori, karena kamu jadi terbangun."

Penting buat Carli tahu bahwa orangtuanya memang berdebat tapi semuanya baik-baik saja. Ayah bisa saja menjelaskan, "Ibu dan Ayah beda pendapat tapi kami sudah menemukan jalan tengah." Ini membuat Carli mengerti bahwa setiap orang bisa marah dan bertengkar sesekali, tapi bukan berarti mereka tidak saling mengasihi.

Dengan bersikap jujur terhadap anak tentang kesulitan yang dalam mencapai kesepakatan, kita dapat menggunakan hal tersebut menjadi kesempatan untuk mengajarkan nilai yang berharga tentang perlunya menerima perbedaan.

Kita tidak harus menjadi contoh yang sempurna bagi anak-anak kita. Ada saat dimana kita lepas kontrol. Kalau kita dapat mengakui dan memperbaiki kesalahan kita dan meminta maaf atas sikap kita, anak kita akan belajar hal penting - bahwa ayah dan ibu juga terus menerus berusaha untuk mengatasi kemarahan mereka. Hal ini menunjukkan pada anak bahwa kemarahan bukanlah musuh, tapi kemarahan adalah energi yang dapat dikendalikan secara kreatif. Apa yang kita lakukan dengan energi tersebut adalah penting untuk diri kita dan untuk keluarga kita.
Read More

Minggu, 08 Maret 2015

Mengenal Si Ulat Sutera di Rumah Sutera

Satu lagi tempat yang menarik untuk membawa anak-anak mengenal keajaiban alam. Di tempat ini, mereka bisa belajar, bukan sekedar teori tapi mereka bisa melihat langsung, live!

Ya, El dan Zo mendapat kesempatan untuk pergi ke Rumah Sutera bersama teman-temannya. Sungguh merupakan pengalaman baru buat kami. Kami takjub betapa air liur dari ulat yang tidak berdaya dan menggemaskan bisa menghasilkan keindahan yang sangat berharga bagi manusia.

Rumah Sutera terletak di daerah Ciapus, Bogor. Rindang dan sejuk, itu yang aku rasakan begitu aku tiba di sana. Untuk rombongan, mereka menyediakan paket lengkap tour sutera, makan siang dan snack hanya dipatok harga Rp.60ribu per orang.
Kami mengambil paket makan siang prasmanan -sangat rekomended- karena makanan yang mereka sediakan sangat lezat dan unik. Mereka menyajikan makanan pokok ulat sutera, yaitu daun murbai. Enaaak sekali urap daun murbai,, daun murbai rebus... pantas aja ulat sutera doyan banget yah. Sayangnya biarpun sudah makan daun murbai tidak mengubah air liur manusia jadi sutera hahaha...

Kami tiba di sana pk.9.30 pagi, disambut oleh bapak pemilik Rumah Sutera, dia sendiri yang menjelaskan kepada kami tentang metamorfosa dari ulat sutera.
Dari telur menjadi ulat putih yang gendut, lembut dan menggemaskan. Di umurnya yang ke 30 hari, sang ulat berubah menjadi kokon atau kepompong.
Kokon yang didiamkan akan menjadi kupu-kupu. Tapi mereka memproses kokon itu sebelum menjadi kupu-kupu.
Pertama-tama, untuk mengeluarkan benang sutera, kokon harus direbus terlebih dahulu.
Kokon yang sudah direbus, ditarik benangnya dan dipintal menjadi gulungan benang. Warna benang berbeda tergantung dari mana ulat sutera tersebut berasal.
Gulungan-gulungan benang itu pada akhirnya dipintal menjadi kain.

Setelah dijelaskan proses metamorfosa dari ulat menjadi sutra, kita dapat melihat proses tersebut secara detail di sana.

Diawali dengan menjenguk kandang ulat sutera dimana ribuan ulat sutera sedang sibuk makan daun murbai. Kita diperbolehkan menyentuh ulat sutera setelah kita mencuci tangan menggunakan kaporit supaya steril.
Kandang dimana para ulat sutera asik makan daun murbai
Ulat sutera berubah menjadi kokon dengan cara mengeluarkan air liurnya dan membungkus dirinya dengan air liur tersebut. Yang lucu, ulat-ulat tersebut bisa masuk sendiri ke dalam kotak di bawah ini saat mereka merasa siap menjadi kokon.

Ulat sutera menjadi kokon

Dilanjutkan dengan melihat proses perebusan dan pemintalan benang sutera hingga menenun benang menjadi kain sutra.
Proses memintal kokon menjadi benang sutera

Benang sutera dipintal menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Para pengunjung dewasa maupun anak-anak bisa mencoba menenun dengan menggunakan ATBM.

Taraaa! Ini adalah benang sutera

Setelah selesai terkagum-kagum dengan semua proses pembuatan kain sutera, kami dibawa ke galeri penjualan kain sutera. Cantik sekali kain sutera yang dijual di sana, mesti menahan diri supaya masih ada ongkos untuk pulang ke Jakarta hahaha.... Selain kain, ada juga souvenir yang terbuat dari kokon asli. Naaah kalo souvenir kokon sangat cocok untuk oleh-oleh lucu, unik daaaan.... cuma goceng.

Menarik bukan? Katanya Rumah Sutera ini lebih bagus daripada yang di China loh... Nah siapa bilang di luar negeri lebih bagus daripada yang di dalam negeri. Cek deh web nya di www.rumahsuteraalam.com.



Asiiik, boleh coba menenun dengan ATBM.Kapan lagi kalo ga disini.


Menikmati keajaiban metamorfosis ulat menjadi kain sutera, mengingatkanku bahwa kalau ulat sutera yang kecil diciptakan untuk tujuan yang begitu berharga, terlebih kita manusia....







Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© Elzoria Story, AllRightsReserved.

Blogger theme by Safetricks.com Designed by ScreenWritersArena